 |
Salam Manusia Merdeka! Sobat semuanya...Perkenalkan, nama saya Gama Harta Nugraha Nur Rahayu. Teman-teman biasa memanggil saya Gama. Saya punya minat belajar teosofi atau hikmah/kebijaksanaan. Saya ingin berbagi dengan siapapun dalam hal pengetahuan dan pengalaman seputar kehidupan, tentang perjalanan menjadi "manusia". Saya berpendapat bahwa betapa sulitnya menjadi "manusia", tatkala kita benar-benar menghayati makna manusia itu sendiri. Saya sekarang sedang tertarik menerjemahkan beberapa karya Jalaluddin Rumi, seorang penyair mistik dari Turki. Sobat semua bisa melihat hasilnya di blog saya ini sekaligus memberikan masukan untuk koreksi selanjutnya. Saya menyadari betul keamatiran saya dalam kemampuan menerjemahkan karya berbahasa Inggris, lebih-lebih yang termasuk kategori sastra seperti itu....
Menjadi manusia...
Itulah judul blog saya ini. Mudah-mudahan kata-kata ini tidak menjadi slogan semata. Semoga menjadi komitmen saya secara pribadi dan menjadi renungan dari sobat semua. Saya berpendapat bahwa manusia sejati adalah manusia yang telah mengenal dirinya. Mengenal diri adalah pengetahuan akan diri yang komprehensif. Pengenalan tentang siapa sang diri, tujuan keberadaan sang diri, dan bagaimana seharusnya sang diri dalam proses kehidupan ini. Pengenalan ini dapat terealisasi dengan baik manakala seorang manusia berada dalam kemerdekaan. Esensi kemerdekaan di sini adalah kemerdekaan jiwa. Yaitu kemerdekaan untuk berpikir dan bersikap. Sedangkan kemerdekaan bertindak adalah di luar esensi ini karena menyangkut relasi dengan pihak lain. Ketika terjadi relasi maka terjadi hukum. Sehingga jelas kemerdekaan dihadapkan pada keterikatan. Persoalan ini perlu kita bicarakan di kesempatan lain. Saya mengundang sobat semua untuk saling berbagi dalam tema besar "menjadi manusia" dalam blog saya ini. Blog ini terbuka bagi siapapun yang termasuk kategori manusia dan tertarik "menjadi manusia". Maafkan saya jika terlalu berlebihan. Selamat menyimak...
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
 |
 |
Wednesday, October 11, 2006
Sekuel I Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"
WHEAT AND BREAD
What does the wheat know of the bread, Except to dread; Though the bread is far ahead, Wheat calls it dead. On this matter everything is said, Put it to bed. Unless the bread has a message to spread, A path to tread. Put not the bread into your mouth, but instead, Let soul be fed; Thus transmute your wheat to bread, Make gold from lead.
If on the path you are bruised, bloody, red, Just look ahead, The bread too bled, fire and water baptized its head, Till fears fled.
- JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread".
a aya terjemahkan secara bebas (mohon koreksi kalau ada kesalahan) ebagai berikut:
GANDUM DAN ROTI
Apakah yang dikenal Gandum tentang Roti,
Selain kengerian;
Walaupun Roti nun jauh di sana,
Gandum menyebut ia (sebagai) ajal.
Tanggapan untuk persoalan ini hanyalah,
Simpan saja persoalan itu.
Kecuali jika Roti mengirim pesan untuk disampaikan,
Satu jalan untuk ditempuh.
Bukanlah memasukkan Roti ke dalam mulut, melainkan,
Biarkan jiwa disuapi;
Lantas ubah Gandum engkau menjadi Roti,
(Laksana) mengubah emas dari timbal.
Jika tatkala menempuh jalan engkau dibuat memar, berdarah, merah,
Coba lihat ke depan,
Roti telah demikian berdarah, api dan air membaptis kepalanya,
Hingga ketakutan lenyap.
Sekuel II Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"
AGE AND EXPERIENCE
I was talking to the bread Had a message to spread. The bred quietly in my head Of age and experience said: "Experience cares not for age The young bread turns many a page While old wheat inside silos stays; In his life the price he pays Inexperience and stagnation While the bread passes many a station. And the price the bread pays Though hardship in many ways, Young bread much more than old wheat Experiences. Wheat spends years in his seat, Year after year the same repeat The silos the wheat defeat; The young bread turns many a page Experience cares not for age."
- JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread".
UMUR DAN PENGALAMAN
Aku berbicara dengan Roti,
Yang memiliki pesan untuk disebarluaskan.
Yang terpelihara dengan tenang dalam pikiranku
Tentang umur dan pengalaman dikatakan:
"Pengalaman tidak pandang umur
Roti muda membuka banyak lembaran baru
Sementara Gandum tua tinggal di dalam lumbung;
Harga yang dibayarkan dalam hidupnya
Kurangnya pengalaman dan kemandegan
Sementara Roti melintasi banyak stasiun
Dan harga yang Roti bayarkan
Meski menempuh berbagai derita,
Roti muda jauh lebih dibanding Gandum tua: Pengalaman.
Gandum menghabiskan tahun-tahunnya di lumbungnya,
Tahun demi tahun hal yang sama terulang
Lumbung yang Gandum taklukkan;
Roti muda banyak makan asam garam
Pengalaman tidak pandang umur."
Saturday, October 14, 2006
Sekuel III Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"
WHEAT SPROUT
A grain of wheat was buried in soil Even in death, for life it would toil, Eventually its thirst by water quenched It sprouted roots which to soil clenched And then a stem that upward grew Its way out of soil, it somehow knew; Until finally it burst through the ground And gladly found light all around; And in the light it grew tall Until it was just before fall When pregnant upon its seat Gave birth and life to many a wheat. Until next year from the farmer's spoil New grain of wheat was buried in soil.
To be truly alive, we must first die Buried in our soil, trusting we lie Until our spiritual thirst is quenched by fire Self-realization our prime desire; Instinctively grow and ground our root The divine light, our sole pursuit, Naturally grow, burst through the ground Constantly in wisdom ourselves surround. And in light and love grow and grow Until the time we instinctively know, Then inspired, pregnant with passion Betterment of life, with compassion. Touch many lives until one will try To truly live, and first will die.
KECAMBAH GANDUM
Sebutir gandum terkubur dalam tanah
Bahkan dalam ‘kematian’, seumur hidup dia rela bekerja keras,
Akhirnya oleh air dahaganya terpuaskan
Ditumbuhkannya akar-akar untuk menembus tanah
Kemudian sebuah batang tumbuh tegak
Jalan keluarnya dari tanah, yang bagaimanapun juga telah ia ketahui;
Hingga akhirnya si batang muncul keluar dari tanah
Dan dengan riang gembira mendapati cahaya di sekelilingnya;
Dan dalam cahaya dia tumbuh meninggi
Terus menerus hingga tiba musim gugur
Tatkala ‘mengandung’ (butir-butir gandum) di atas ‘sandaran’nya
Beri kelahiran dan kehidupan pada banyak butir gandum.
Hingga dari hasil panen petani tahun depan, butir gandum baru dikubur di dalam tanah.
Untuk dapat hidup sejati, kita harus ‘mati’ terlebih dahulu
Terkubur dalam ‘tanah’ kita, mudah mempercayai dusta kita
Hingga dahaga spiritual kita dipuaskan ‘api’
‘Pewujudan diri’ hasrat utama kita;
Secara naluriah, kita menumbuhkan dan menhunjamkan ‘akar’ kita
Menapaktilasi jejak kita, mengejar Cahaya Ilahi
Secara alamiah ‘wujud diri’ kita tumbuh, muncul keluar dari tanah
Kemudian secara konstan melingkar di dalam kebijaksanaan.
Dan di dalam cahaya serta cinta tumbuh dan berkembang
Hingga waktunya secara naluriah tahu dan terilhami,
‘Mengandung’ kelebihbaikan hidup dengan penuh derita, dengan penuh keibaan.
Menyentuh (hati) khalayak ramai hingga kelak salah seorang dari mereka akan membuktikan
Untuk hidup sejati, terlebih dahulu harus ‘mati’.
Sekuel IV Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"
HARVEST SEASON
Harvest season the golden fields blanketed with the golden wheat Swaying gently, dancing with wind, ripe, mature, ready to eat Farmer's sickle or harvester, with its blade will kiss the wheat The plant is touched with kiss of death, but kiss of life the wheat will greet A life beyond the life of plant awaits the newly harvested wheat The chafe separated from the grain, to the rhythm of a new beat In this brutal separation, we mainly follow the grain of wheat Subjected to many more hardships, but now rests in late summer heat. When a mother goes to labour it is time to harvest the child Through the certain death of foetus, a baby on life smiled, Separation of umbilical cord, a new rhythm of life beating wild Though many challenges await the baby, in her mother's arms resting mild. Every life comes to fruition, every project to its harvest And that, the end of old life, this death perhaps the hardest test Through this death and this harvest, we find new life must be blest If subjected to separation, with some pain in life invest A new start to many more trials, but for progress this the best.
MUSIM PANEN
(Pada) Musim panen ladang-ladang keemasan diselimuti gandum keemasan Berayun dengan gemulai, menari bersama angin, masak, matang, siap disantap
Sabit dan mesin penuai Petani, bersama mata pisaunya akan 'mencium' sang gandum
Tanaman tersebut 'dibelai' dengan 'ciuman' kematian, namun 'ciuman' kehidupan (baru) akan menyambutnya
Sebuah kehidupan di luar kehidupan (sebagai) tanaman tengah menunggu gandum yang baru dipanen
Kulit (gandum) dipisahkan dari butirannya, menuju irama tempaan baru
Dalam pemisahan brutal ini, umumnya kita (lebih tertarik) mengamati (perjalanan) sang butir gandum
Yang diperlakukan dengan lebih banyak penderitaan, namun sekarang beristirahat dalam panas musim kemarau yang terlambat
Tatkala seorang ibu berusaha keras (melahirkan), ini adalah waktunya untuk 'memanen' anak
Melalui 'kematian' pasti sang janin, seorang bayi yang baru terlahir tersenyum
Terpisah dari tali pusat, sebuah irama baru kehidupan menempa dengan liar
Meski demikian banyak tantangan menunggu sang bayi, dalam pangkuan ibunya (ia) beristirahat dengan tenang
Setiap kehidupan berbuah, setiap pekerjaan dipanen
Dan bahwa, berakhirnya (fase) kehidupan sebelumnya, (yaitu) 'kematian' inilah mungkin ujian tersulit
Melalui 'kematian' dan panen ini, kita mendapati (bahwa) kehidupan baru harus terberkati
Apabila dihadapkan pada perpisahan (dengan berbagai kenikmatan), maka dengan berbagai penderitaan hidup(lah) berinvestasi
Satu awalan baru bagi lebih banyak lagi percobaan (berikutnya), namun untuk kemajuan (hidup) inilah (jalan) yang terbaik
Thursday, August 30, 2007
MENGAPA IRAN MENARIK BAGIKU? Sesuatu disebut istimewa pasti ada alasannya. Entah alasannya bersifat pribadi (subyektif) ataupun bersifat obyektif (sesuai kenyataannya, sehingga diterima banyak pribadi). Begitu juga dengan Iran, dia menjadi istimewa, sehingga kemudian menarik bagi saya tentunya dengan sejumlah alasan. Alasan pertama, sebagai sebuah kesatuan sosial (bangsa dan negara), Iran mampu unjuk diri kepada dunia sebagai kutub alternatif vis a vis kekuatan kutub mainstream Barat. Memang hal ini bukan kekhususan Iran, karena beberapa negara lain juga menunjukkan karakteristik yang sama, semisal Venezuela, Korea Utara dan Kuba. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang membedakan Iran dengan sejumlah negara itu, diantaranya adalah konsistensi para pemimpinnya dalam mengusung kutub altenatif ini, praktis sejak Revolusi Iran 1979. Selain itu, pendekatan Iran dalam mengusung gagasan mandirinya tentang peradaban sangat menarik, karena sangat menonjolkan kemampuan intelektual, bersifat mengajak setiap orang untuk tidak sekedar menerima argumen dominan yang dituduhkan pihak adikuasa dunia. Persoalan ini mengemuka ketika Presiden Mahmoud Ahmadinejad menyodorkan sejumlah argumen tentang kepentingan Iran kepada teknologi nuklir, yang ditentang sejumlah negara Barat yang dikomandani AS. Kemampuan unjuk diri secara elegan ini menunjukkan kokohnya basis teoritis para pemimpinnya terhadap gagasan-gagasan yang diusungnya. Dengan kata lain, gagasan mereka bersifat mandiri, tidak membebek saja, pun tidak membeo sedemikian rupa, kepada para pemimpin adikuasa. Hal ini berbeda secara diametral dengan para pemimpin lain yang hanya bisa mengamini saja segala kemauan para pemimpin adikuasa itu. Alasan kedua, sebagai kelanjutan alasan pertama, yang besar kemungkinan malah melatarbelakangi kemunculan alasan pertama, adalah kemandirian Iran secara kebudayaan. Sebagai salah satu negara penggagas ide multipolarisme dunia, Iran memiliki akar historis yang kuat dalam kemandirian secara kebudayaan. Sebelum menjadi pelopor kebudayaan Islam, Iran pra-Islam adalah bangsa dengan kebudayaan tingkat tinggi pada zamannya. Pilihan konversi kebudayaan Iran terhadap Islam – berdasarkan fakta sejarah – dilatarbelakangi gerakan intelektual masyarakatnya, disamping karena faktor kekalahan perang dari pasukan Islam Arab. Berbeda dengan kasus Indonesia misalnya, proses konversi agama (baca = kebudayaan) dari Hindu ke Islam lebih disebabkan faktor politik, yaitu bahwa setelah para pemimpin politik dari kalangan bangsawan saat itu melakukan proses konversi tersebut, maka masyarakat (baca = rakyat) pun mengikutinya, sebagai kebiasaan feodalistik yang menempatkan posisi pemimpin politik (baca = raja) sebagai titisan Dewata yang pilihan-pilihannya bernilai benar mutlak. Masyarakat Iran memiliki sikap intelektual yang relatif maju disebabkan kebudayaan yang dibentuknya membuka ruang kreatifitas intelektual. Fakta cerita tentang konversi keyakinan keagamaan Salman Alfarisi memberi tanda tentang ikon intelektualisme tersebut. Alasan ketiga, karakter kepemimpinan politik di Iran. Hal ini menarik karena sejumlah hal berikut. Pertama, kepemimpinan politik di Iran menonjolkan intelektualitas, moralitas, dan keberanian. Ciri intelektualitas dapat dilihat dari kualitas pemimpin politik di Iran, yang sebagian besar adalah para ilmuwan/akademisi, baik dalam bidang agama ataupun sains-teknologi. Mereka adalah para pemimpin yang telah terbukti dan teruji kecakapannya dalam lapangan ilmu pengetahuan. Kesuksesan mereka pun dalam menduduki jabatan politis lebih disebabkan kualitas kemampuannya dalam keilmuan, bergandengan dengan moralitas dan keberanian. Ciri moralitas dapat dilihat dari gaya hidup (life style) para pemimpin itu dalam kehidupan publik maupun domestik. Kesederhanaan adalah ciri yang menonjol, yang tentunya memberikan nilai keteladanan kepada rakyat yang dipimpinnya. Kesederhanaan dalam gaya hidup juga yang dapat meredam berjangkitnya penyakit korupsi berjamaah yang melemahkan kekuatan sebuah bangsa – seperti halnya terjadi di Indonesia. Dan manfaat yang paling utama adalah bahwa para pemimpin politik dengan gaya hidup sederhana lebih mudah memunculkan perasaan cinta di hati rakyatnya, dan jenis kharisma yang muncul karena faktor ini memiliki daya pengaruh lebih kuat dari jenis kharisma lainnya. Ciri keberanian ditunjukkan dengan sikap 'berani beda' dalam bersikap, sebagai wujud kemandirian, kendati berhadapan vis a vis dengan sikap kolektif pemimpin-pemimpin adikuasa. Keberanian hanya dimiliki oleh manusia merdeka, dan rasa takut hanya dimiliki oleh manusia terjajah (baca = budak). Dalam kasus Iran, Imam Khomeini dan Presiden Mahmoud Ahmadinejad menunjukkan bagaimana kualitas keberanian mereka dalam bersikap politik. Keduanya tidak takut dengan resiko yang mengancam hidup dan kedudukan politiknya, yang mungkin diarahkan oleh musuh politik baik dari dalam maupun luar negeri. Tugas utama dalam memimpin (baca = membimbing) rakyatnya ke arah yang benar menjadi prioritas mereka, bukan simpati dan pujian dari para pemimpin adikuasa yang bertabur permata. Alasan keempat adalah pendekatan Iran dalam mempengaruhi dunia. Kita tahu bahwa dunia saat ini berada dalam pengaruh satu kutub besar, yaitu kutub Barat di bawah komando AS. Sepak terjang AS dalam menancapkan kuku pengaruhnya ke setiap negara dikenal siapapun di muka bumi ini. Peristiwa pergantian rezim di sebuah negara manapun, konflik dan peperangan di wilayah manapun, pilihan kebijakan para pemimpin politik di negara manapun, sebagian besar terjadi karena keterlibatan AS dan sekutunya, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Dan kita tahu pendekatan yang dilakukan oleh AS cs. ini, yaitu melalui tekanan politik, ekonomi dan militer. Bila langkah-langkah tekanan secara politik gagal, maka akan dilakukan tekanan secara ekonomi, sehingga para pemimpin politik sebuah negara akan terpengaruh untuk mengubah kebijakan politiknya. Namun jika tekanan secara ekonomi pun menemui kegagalan, maka AS akan sekuat tenaga mengusahakan pergantian rezim dengan tekanan politik dan ekonomi, dan pada tingkat yang lebih tinggi lagi secara militer (invasi). Berbeda dengan AS, Iran melakukan upaya mempengaruhi dunia bukan dengan cara-cara seperti AS di atas, tetapi dengan pendekatan intelektual dan teknologi. Iran mempengaruhi opini publik dunia tentang isu nuklir misalnya, dengan berupaya meyakinkan dunia bahwa energi adalah masalah yang dihadapi negaranya, dan juga negara-negara lain. Kemandirian dalam menghasilkan energi berbasis teknologi tinggi adalah hak kemajuan negara manapun, tanpa harus dicurigai bermuatan niat jahat semisal untuk memproduksi senjata nuklir pemusnah massal, satu argumen agitatif yang dimunculkan AS cs. secara sepihak. Iran pun pandai memanfaatkan media massa untuk melakukan kampanye gagasan-gagasannya, termasuk dengan melakukan dialog ke berbagai negara, mengajak semua pihak untuk saling bertukar informasi dan saling memahami, alih-alih menjadi bulan-bulanan argumen AS cs. Pendekatan AS cs. menurut saya bersifat mengancam (emosional), sedangkan pendekatan Iran bersifat mengajak (rasional). AS melakukan pendekatan oppressive seperti itu, menurut saya, disebabkan faktor lemahnya basis teoritis-logis dari setiap keputusan/kebijakannya. Artinya, jika dipikir secara waras, kita bisa menemukan kelemahan dasar-dasar logika/rasionalitas yang dibangun dalam menghasilkan keputusan/kebijakannya. Namun karena AS cs. menempatkan kepentingan kapital di atas logika, maka kewarasan pasti sering diabaikan. Iran, selain tahu maksud dan langkah AS cs. seperti itu, disokong oleh keberanian para pemimpinnya, tampil ke depan, memberitahu dunia tentang perlunya sikap kritis dalam menyikapi setiap keputusan/kebijakan AS cs. Dunia yang multipolar, adalah gagasan positif yang digembar-gemborkan Iran bersama negara-negara kritis lainnya. Alasan kelima yang menjadi faktor daya tarik Iran adalah viskositas spiritualitas pemimpin dan masyarakatnya. Saya menyebutnya spiritualitas, bukan relijiusitas, karena istilah spiritualitas ini lebih menunjukkan pengertian esensi/hakikat agama(esoteris), sedangkan relijiusitas lebih kepada tatacara/syariat agama (eksoteris). Ciri kentalnya nuansa spiritualitas ini dapat dilihat dalam kecintaan dan kesetiaan mereka pada para pemimpin, penghormatan mereka pada simbol-simbol orang suci, dan nampak juga dalam karakter spiritualitas para pemimpinnya. Ciri ketiga ini bisa dilihat dari karya-karya tulis bertema spiritualitas dari para pemimpin tersebut, serta dari sikap dan tindakan yang lahir dari penghayatan yang mendalam terhadap kehidupan spiritual. Kesederhanaan dalam hidup menegaskan prioritas sikap memenuhi diri dengan kekayaan batin (seperti pengetahuan, kebijaksanaan dan makrifat – transformasi jiwa sehingga bersifat ilahiah) daripada dengan kekayaan materi dunia.
FENOMENA GERHANA DAN
SIKAP KEBERAGAMAAN
Tulisan ini berawal dari kejadian
gerhana bulan petang hari ini, Selasa 28 Agustus 2007. Sebenarnya
kejadian ini berulang kali saya amati, namun baru kali ini menarik
perhatian saya. Sebabnya adalah adanya segelintir masyarakat yang
memperhatikan fenomena tersebut secara langsung, begitu mendengar
pemberitahuan dari Masjid Pusdai Jabar, persis depan tempat tinggal
saya. Jadi, mungkin masyarakat – sebelum pemberitahuan – merasa
heran dengan adanya suara takbir bersahutan dari Masjid Pusdai Jabar,
dan juga masjid-masjid lainnya. Sebab kedua adalah suara takbiran itu
sendiri, yang didominasi oleh anak-anak. Dan sebab ketiga adalah
tanggapan-tanggapan sebagian mereka dan ceramah-ceramah di
masjid-masjid terhadap fenomena alam ini.
Sebab pertama menjadi menarik karena
ternyata masyarakat masih cukup terpengaruh oleh fenomena ini,
ditambah dengan sokongan kalangan agamawan (terlihat dari informasi
pihak pengurus masjid dan suara takbir yang mengundang rasa
penasaran). Artinya masyarakat masih memperhatikan fenomena alam
sekaligus imbauan dari kalangan agamawan.
Sebab kedua menjadi menarik karena –
sebagaimana juga terjadi dalam kegiatan takbiran Lebaran Puasa dan
Lebaran Haji (Kurban) – suara takbiran dari masjid-masjid itu
didominasi anak-anak, yang notabene belum mengerti tentang fenomena
itu, apalagi bila dikaitkan dengan bentuk maknanya yang dikehendaki
agama (baca: kalangan agamawan).
Sebab ketiga menjadi menarik karena
muncul tanggapan dari masyarakat dan juga kalangan agamawan yang saya
anggap biasa-biasa saja. Tanggapan dari kalangan masyarakat yang
biasa-biasa saja – apalagi jika mereka berasal dari kalangan
awam/tidak terpelajar/tidak sadar informasi – adalah wajar, namun
bila tanggapan biasa-biasa saja itu muncul dari kalangan agamawan
menjadi tidak wajar. Contoh tanggapan-tanggapan tersebut adalah bahwa
fenomena gerhana ini adalah bentuk kekuasaan Allah yang selayaknya
ditafakuri, bahwa fenomena tersebut harus disikapi secara keagamaan,
tidak hanya secara ilmiah saja sebagaimana yang dilakukan oleh
kalangan sekuler. Saya sendiri sepakat dengan tanggapan ini, namun
tanggapan seperti ini belumlah mengena ke esensi dari fenomena
gerhana itu sendiri. Menurut pendapat saya, masyarakat perlu diajak
untuk merenungkan makna-makna yang lebih dalam dari berbagai fenomena
alam – termasuk fenomena gerhana – yang bermanfaat secara
langsung bagi kehidupannya, terutama bagi peningkatan kualitas sikap
keberagamaannya.
Sebagai contoh, secara alamiah dan
ilmiah, fenomena gerhana bulan sudah bisa dijelaskan secara memadai,
yaitu peristiwa terhalangnya sinar matahari ke bulan oleh bumi. Jadi
posisi matahari, bumi dan bulan adalah segaris. Penjelasan ilmiah
yang lebih rumit pun sudah tersedia. Namun sejauh yang saya ketahui,
temuan ilmiah dan alamiah ini belum memperkaya temuan kalangan
agamawan, untuk meningkatkan kualitas maknanya secara keagamaan.
Sebagai contoh pemaknaan dari saya tentang fenomena ini adalah dengan
menggunakan metode analogi. Alasan penggunaan metode analogi ini
adalah bahwa alam semesta ini adalah sistem makrokosmos (jagad
besar), sedangkan diri manusia adalah sistem mikrokosmos (jagad
kecil). Secara analog, diri (jiwa) manusia adalah miniatur alam
semesta.
Makna pertama, makna
individual/konsep hidayah. Peran matahari sebagai sumber cahaya, bumi
sebagai penghalang sinar, dan bulan sebagai penerima (pemantul)
cahaya bisa dianalogikan dengan Tuhan dalam diri manusia sebagai
matahari (sumber cahaya) jiwa, nafsu sebagai penghalang sinar ke
cermin jiwa (tindakan/kepribadian/akhlak), dan kepribadian/tindakan
sebagai penerima (pemantul) cahaya jiwa. Dari makna ini, maka
manusianya Tuhan akan mengendalikan nafsu agar tidak menghalangi
jalannya sinar/cahaya Tuhan kepada tindakan/kepribadian/akhlaknya.
Sekali nafsu menghalanginya, maka tindakan/kepribadian/akhlaknya akan
diliputi kegelapan (tanpa petunjuk), yang berarti dosa.
Makna kedua, makna sosial/konsep
bimbingan. Peran matahari sebagai sumber cahaya, bumi sebagai
penghalang sinar, dan bulan sebagai penerima (pemantul) cahaya bisa
dianalogikan dengan manusianya Tuhan dalam kehidupan masyarakat,
setan (manusianya Iblis) yang menghalangi manusia lain (masyarakat)
dari kesempatan akses ke sinar/cahaya manusianya Tuhan, dan manusia
lain (masyarakat) sebagai penerima/pemantul cahaya dari manusianya
Tuhan. Melalui makna ini bisa diperoleh pengertian, bahwa manusia
biasa memiliki ketergantungan kepada cahaya dari manusianya Tuhan
agar hidupnya tidak diliputi kegelapan. Akses mereka kepada cahaya
dari manusianya Tuhan terhalangi dengan keterlibatan manusianya Iblis
(setan) dengan produk mental mereka (gagasan, pemahaman, konsep
hidup, dsb.) ataupun produk fisik mereka seperti simbol-simbol
peradaban material. Berdasarkan pengertian ini, sesungguhnya
kedudukan manusia biasa ini (yang memiliki ketergantungan cahaya)
sangatlah rentan perubahan, nasibnya ditentukan oleh pihak mana
(manusianya Tuhan atau manusianya Iblis) yang paling besar kualitas
daya pengaruhnya. Secara praktis, seorang manusia biasa akan menjadi
baik jika lingkungannya baik, teman-temannya baik, tetangganya baik,
bosnya baik, dsb. Sekali keadaan semua unsur itu bergeser ke arah
sebaliknya, maka keadaan manusia biasa itu akan melakukan hal yang
sama. Berdasarkan pengertian ini, maka posisi yang paling aman bagi
siapapun adalah posisi manusianya Tuhan. Manusia jenis ini memiliki
kemandirian dalam menghasilkan cahaya, lebih jauh mereka pun mampu
mendistribusikan cahayanya kepada lingkungannya (melakukan
bimbingan).
Cara pemaknaan seperti ini bisa
diberlakukan juga kepada gerhana matahari, karena pada kedua kasus
gerhana (baik gerhana matahari ataupun bulan), sebenarnya peran bumi
dan bulan sejajar, yaitu jika tidak sebagai penerima/pemantul cahaya,
maka berperan sebagai penghalang sinar. Tidak seperti matahari,
keduanya – bumi dan bulan – bukanlah sumber cahaya.
Catatan:
Pendapat saya ini bisa saja keliru, silakan dikoreksi. Dan Tuhanlah
yang Maha Mengetahui dan selalu benar.
Refleksi Tentang Wanita Cantik
WATAK KEINDAHAN WANITA
CANTIK
Cerita ini tentang saya sendiri. Cerita
tentang efek dari wanita cantik pada diri saya. Saya yang mengagumi –
secara khusus – kecantikan wanita, salah satu bentuk keindahan
semesta. Memang batasan kecantikan/keindahan dalam hal ini masih
bersifat fisik/materi. Meski demikian, kecantikan/keindahan
fisik/materi itu tak terhindarkan, karena perspektif materi masih
saya miliki (terutama karena mata fisik masih mendominasi fungsi
penglihatan). Ok lah bahwa keindahan fisik/materi ini adalah
gambaran tentang keindahan non-fisik/immateri, tapi meski demikian,
keindahan fisik/materi ini mempunyai efek yang tak bisa dianggap
sepele. Panggung sejarah manusia dipenuhi figur-figur wanita cantik
yang memainkan peran sebagai pelaku utama jalannya skenario sejarah
(ataupun cerita fiksi). Kita bisa menyebutnya beberapa disini: Hawa,
Zulaikha, Hera, Helen of Troy, Layla, Sinta (Sita), Juliet,
Cleopatra, Dyah Pitaloka, Marylin Monroe, Dewi (istri Soekarno).
Pasti ada banyak nama yang tidak terabadikan sejarah, meski peran
para wanita cantik itu tidak kecil.
Saya berpendapat bahwa keberadaan
wanita cantik di muka bumi ini ada alasan, sebagaimana keberadaan
apapun yang lain. Beberapa alasan yang mungkin bisa diungkapkan
disini. Pertama, wanita cantik adalah sasaran (obyek)
kesenangan seorang pria. Saya menyebutnya sebagai efek seksual.
Seorang pria – pada umumnya – selalu menginginkan wanita cantik
disampingnya, entah sebagai istri ataupun teman. Secara naluriah,
seorang pria memperoleh kesenangan batin dan lahir dari keberadaan
wanita cantik di sisinya, yang relatif lebih berarti bila dibanding
dengan jika bersama wanita yang secara fisik biasa-biasa saja. Secara
reflektif, saya berani mengatakan bahwa kecantikan/keindahan fisik
seorang wanita masih menjadi prioritas seorang pria manapun dan di
zaman apapun, sehingga termasuk seorang pria modern.
Alasan kedua, wanita cantik
adalah batu ujian, atau secara negatif bermakna jebakan/perangkap.
Saya menyebutnya efek sosial-politik, karena seringkali dampaknya
bersifat sosial-politik. Makna batu ujian ini tidak selalu negatif.
Secara positif, seorang pria bisa menjadi lebih kuat dan tangguh
dengan motif demi seorang wanita cantik, karena ada
kebanggaan/kepuasan sosial yang dirasakannya. Konsekuensinya,
keberhasilan dia dalam hidup akan berkorelasi positif dengan motif
demi seorang wanita cantik ini. Kalangan agamawan bisa mengartikan
sebaliknya, bahwa banyak kasus keberadaan wanita cantik menjerumuskan
kaum lelaki pada perbuatan kriminal dan dosa, dan lebih jauh lagi
pada peperangan. Namun perspektif ini terlalu sempit, karena
sesungguhnya watak keindahan selalu menggoda, dalam bentuk apapun
keindahan itu.
Ketiga, wanita cantik adalah
representasi keindahan yang paling berkualitas. Saya menyebutnya
efek filosofis. Saya yakin bahwa setiap manusia memiliki watak
mencintai keindahan. Hampir sebagian besar representasi keindahan di
muka bumi ini menjadi berharga. Sebut saja barang-barang tambang
seperti emas, perak, dan intan, termasuk hasil kekayaan laut seperti
mutiara, juga hasil agro seperti sutera. Semua jenis barang itu
memiliki potensi keindahan, dengan atau tanpa sentuhan akhir tangan
manusia. Pemandangan alam dan produk teknologi juga memiliki potensi
ini. Tapi meskipun semua itu bisa mengambil peran sebagai simbol
keindahan, apakah mampu mengalahkan kualitas keindahan seorang wanita
cantik? Saya berani menjawab tidak. Bagi seorang pria, wanita cantik
adalah simbol terkuat dari keindahan.
Namun apakah perlu kita memikirkan
alasan utama keberadaan wanita cantik, sebagai jalan untuk
menempatkan persoalan ini dengan benar?
Saya berpendapat bahwa segala alasan
yang logis tentang keberadaan wanita cantik bisa diterima tanpa harus
dipertentangkan satu sama lain. Ketiga alasan yang saya kemukakan
sebelumnya bisa mewakili sebagian diantaranya.
Saya berpendapat bahwa hal penting dari
kenyataan adanya wanita cantik adalah perhatian kita (baca: kaum
pria) pada efeknya. Sebagaimana dalam segala hal akal harus
difungsikan, maka termasuk dalam persoalan ini, bagaimana akal
berfungsi dalam mengenali efek keindahan dari wanita cantik, kemudian
mengendalikannya secara tepat.
Beberapa solusi bisa diurai disini.
Pertama, dalam mengendalikan
efek seksual dari seorang wanita cantik, akal harus mengenali watak
hasrat seksual dan tujuan penggunaannya. Watak hasrat seksual adalah
bersifat memberi kepuasan sekejap, artinya setelah terpuaskan secara
seksual, maka wanita cantik itu sudah tidak memberikan efek seksual
lagi. Sedangkan tujuan penggunaan hasrat seksual adalah untuk
menciptakan keseimbangan mikrokosmos manusia (baik pria maupun
wanita) dan bukan sebaliknya, melahirkan ketidakseimbangan. Kesadaran
akan watak dan tujuan hasrat seksual bisa menimbulkan kemampuan
pengendalian diri.
Kedua, untuk mengendalikan efek
sosial-politik dari seorang wanita cantik, akal harus mengenali watak
sosial-politik dan tujuan penggunaannya. Watak sosial-politik adalah
kompetisi/persaingan. Sedangkan tujuan sosial-politik adalah
pengaturan kehidupan masyarakat (keseimbangan makrokosmos). Artinya,
bagaimana caranya menghindarkan efek dari seorang wanita cantik yang
bersifat buruk/tidak menguntungkan bagi kekuatan persaingan seorang
pria dalam kehidupan sosial-politiknya. Seorang pria yang sadar akan
hal ini, akan mendorong efek wanita cantik yang menguntungkan
kekuatan persaingannya.
Ketiga, untuk mengendalikan efek
filosofis dari seorang wanita cantik, akal harus mampu mengenali
watak filosofis dan tujuan penggunaannya. Watak filosofis adalah
ketergantungan pikiran/jiwa. Tujuan penggunaan fungsi filosofis
adalah untuk membebaskan manusia dari ketergantungan kepada selain
dirinya. Menjadi manusia yang merdeka.Artinya, bagaimana caranya
menghindarkan efek ketergantungan pikiran/jiwa kepada seorang wanita
cantik. Secara sarkastis, relasi ketergantungan ini adalah bentuk
keterjajahan pikiran/jiwa. Jika seorang pria pikiran/jiwa/hatinya
tergantung pada seorang wanita cantik, maka sesungguhnya dia tengah
menjadi seorang budak yang tidak merdeka. Pada tahap ini akal telah
menjadi pelayan/kasim bagi perasaan. Seorang pria yang memiliki
kesadaran akan efek filosofis dan tujuan penggunaannya pasti mampu
mengendalikan dirinya.
Catatan:
Pendapat saya ini bisa saja keliru, silakan dikoreksi. Dan Tuhanlah
yang Maha Mengetahui dan selalu benar.
Refleksi Idealisme vs Pragmatisme
IDEOLOGI KESEMPURNAAN
KEMANUSIAAN
Ya Tuhan, saya terlilit jiwa satwa. Saya bekerja
demi uang, bukan idealisme. Cita-cita lama saya kandas di tengah himpitan
ekonomi keluarga. Kesedihanku bukanlah atas pengorbanan kerja kerasku, tapi
bahwa aku menapaktilasi jejak banyak pendahuluku, yang mengorbankan idealisme
demi keselamatan keluarga dan pribadi. Menggadaikan kebesaran idealisme demi
sesuap nasi. Tapi bagaimanapun, aku memiliki banyak alasan untuk melakukannya.
Aku bersembunyi di baliknya. Demi mobilitas horisontal dan vertikal sosial lah,
demi akses kebebasan lah, demi harga diri lah, demi kemakmuran lah. Namun jujur
kuakui, nuraniku meredup, solidaritas sosialku berkurang, aku menjadi predator
ekonomi, bercita-cita tinggi untuk menjadi orang kaya adalah prioritas pertama,
meski harus mengabaikan kemiskinan manusia sekitar. Aku semakin individualis
atau keluargais. Orang lain bukan urusanku!
Jiwa demikian tidak terjadi sebelumnya. Panggilan
kepahlawanan adalah energi terbesarku. Jiwa dan ragaku kupersembahkan bagi
pergulatan umat manusia untuk meraih kesempurnaannya. Memang tak pernah
sekalipun jiwaku rela mengejar materi, tapi himpitan beban sehari-hari
membiasakanku berkompromi, jadilah aku terbiasa demikian!
Demi Tuhan, kusaksikan banyak pemuda di negeri
tercinta ini seperti aku! Mereka memberi perhatian besar pada kepentingan
keluarganya, dan abai pada nasib masyarakatnya, yang membesarkannya. Kukatakan
masyarakat turut pula membesarkannya, tidak hanya keluarganya saja, adalah
fakta nyata! Ingin kukatakan bahwa kebesaran (perbaikan nasib) kami, para
pemuda negeri ini, adalah hasil eksploitasi masyarakat dan alam kami! Kamilah –
yang pernah bercita-cita memperbaiki nasib masyarakat kami, tapi kemudian
terjebak pada kepentingan keluarga kami –yang secara kolektif menyebabkan
bangsa kami ini miskin, dan semakin miskin.
Telah kami biasakan diri kami berapologi,
menjustifikasi sikap dan tindakan kami, namun hati kecil kami tak bisa
dibohongi: kami, para pemuda negeri ini, jelas-jelas bersalah! Kami takut miskin!
Kami ingin hidup nyaman! Kami takut mati sia-sia! Itulah motif yang nyata.
Perlahan tapi pasti, panggilan kepahlawanan dalam jiwa kami, yang bak sinar
itu, meredup bahkan padam. Kami semakin jauh dari jalan kepahlawanan itu.
Berlalu bersama waktu, demikian juga yang terjadi pada para pendahulu kami,
kami tak pernah lagi kembali ke jalan itu. Kami telah terbiasa memperhatikan
keluarga kami, namun mengabaikan bangsa kami.
Ingin sekali aku berikrar: Kami tak ingin seperti
mereka, para pendahulu kami yang gagal kembali ke jalan kepahlawanan itu! Orang
tua kami yang gagal!
BERUBAH, itulah kuncinya. Kami harus berubah. Kami
harus mengubah cara berpikir kami, kemudian mengubah sikap dan tindakan kami.
Kami harus berpikir bahwa, seorang pemuda pahlawan
haruslah memberi perhatian kepada bangsa (umat manusia) jauh lebih besar dibanding
kepada keluarganya.
Agenda utamanya adalah pergulatan kemanusiaan
keseluruhan, bukan pergulatan ekonomi keluarga.
Tindakan praktis:
- Jangan mencuri apapun dari umat manusia (bangsa)
- Jangan mementingkan keluarga dibanding umat manusia (bangsa)
- Jangan takut miskin
- Jadilah pahlawan kemanusiaan
- Jangan abaikan kepentingan umat manusia (bangsa)
Bandung,
Juli 2006
Refleksi Menjadi Budak Kapitalis
Sejumput Rumput
Depan Mulut
Hari-hari silih berganti dalam kehidupan seekor keledai
Tubuh terikat di penggilingan padi
Dibebani balok kayu pemutar penggilingan
Dipaksa melihat hanya ke depan
Sekali bergerak, penggilingan berputar
Mengubah padi menjadi beras
Duhai alangkah kasihan dia!
Apakah yang diharapkan dari kerjanya?
Sejumput rumput muda yang diikat di depan mulutnya
Selangkah digapai, selangkah bercerai
Upah atas kerjakerasnya
Hanya sejumput rumput tua dan seember air sumur keruh
Keledai dungu mengejar rumput muda impian
Memeras hasrat, mengucurkan keringat
Menganugerahi Tukang giling berkarung-karung beras
Dipuaskan dengan upahnya
Dibuat penasaran dengan rumput muda impian
Bandung, 16 Oktober 2006
Oleh: Keledai Sakit
Persaudaraan Sufistik Pentingnya persaudaraan sufistik. Dimulai dengan membina hubungan persaudaraan antara tarekat-tarekat sufi yang ada di Indonesia. Gagasan yang dibangun adalah bahwa Sufisme adalah satu genre dalam cara memahami dan mengamalkan Islam yang berakar pada tradisi kenabian. Semangat yang diusung sufisme adalah persaudaraan Islam, Islam yang tidak dikacaukan dengan dikotomi besar Sunni dan Syi'ah. Islam yang berakar pada tradisi kenabian, yaitu teori dan praktek dalam dua dimensi, material (dunia) dan spiritual (akhirat). Jumlah tarekat-tarekat sufi dan pengikutnya di Indonesia cukup banyak, dan mereka hidup dalam masyarakat secara kultural (tradisional). Beberapa nama tarekat yang saya kenal di Indonesia, khususnya di Tatar Sunda, misalnya: Al-Qadiriyyah, Naqsyabandiyyah, Idrisiyyah (sebelumnya dikenal dengan Wara'iyyah), 'Alawiyyah dsb. Beberapa alasan pentingnya eksistensi persaudaraan sufistik ini diantaranya: Pertama, krisis moralitas dan spiritualitas yang terjadi di masyarakat. Keterpurukan moralitas dan spiritualitas selalu berhubungan. Keduanyalah yang melahirkan kejahatan, baik dalam skala individu maupun dalam skala sosial. Ini berakar pada jiwa yang tidak terbina dengan baik. Islam yang sesungguhnya berakar pada moralitas dan spiritualitas menjadi panacea. Kedua, krisis politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan di masyarakat. Krisis adalah efek yang dilahirkan oleh krisis yang pertama. Ketiga, evolusi perjalanan kesempurnaan manusia menuju Tuhannya. Ini adalah tujuan seluruh usaha amal islami, mengantarkan manusia kepada kesempurnaannya. Dari sisi material, baik manusia kaya maupun manusia miskin sering sama-sama tersiksa. Manusia kaya tersiksa karena kelebihannya, sedangkan manusia miskin tersiksa karena kekurangannya. Hal ini disebabkan ketersiksaan secara spiritual. Bagaimana bisa? Ya, karena ketersiksaan dan keterbebasan dirasakan secara spiritual. Jiwa yang dipuaskan oleh menikmati materi akan tersiksa, begitupun jiwa yang didorong untuk meraih materi sekeras-kerasnya akan tersiksa.
Bandung, 24 Agustus 2006
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|