Salam Manusia Merdeka! Sobat semuanya...Perkenalkan, nama saya Gama Harta Nugraha Nur Rahayu. Teman-teman biasa memanggil saya Gama. Saya punya minat belajar teosofi atau hikmah/kebijaksanaan. Saya ingin berbagi dengan siapapun dalam hal pengetahuan dan pengalaman seputar kehidupan, tentang perjalanan menjadi "manusia". Saya berpendapat bahwa betapa sulitnya menjadi "manusia", tatkala kita benar-benar menghayati makna manusia itu sendiri. Saya sekarang sedang tertarik menerjemahkan beberapa karya Jalaluddin Rumi, seorang penyair mistik dari Turki. Sobat semua bisa melihat hasilnya di blog saya ini sekaligus memberikan masukan untuk koreksi selanjutnya. Saya menyadari betul keamatiran saya dalam kemampuan menerjemahkan karya berbahasa Inggris, lebih-lebih yang termasuk kategori sastra seperti itu....

<< September 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30

Menjadi manusia... Itulah judul blog saya ini. Mudah-mudahan kata-kata ini tidak menjadi slogan semata. Semoga menjadi komitmen saya secara pribadi dan menjadi renungan dari sobat semua. Saya berpendapat bahwa manusia sejati adalah manusia yang telah mengenal dirinya. Mengenal diri adalah pengetahuan akan diri yang komprehensif. Pengenalan tentang siapa sang diri, tujuan keberadaan sang diri, dan bagaimana seharusnya sang diri dalam proses kehidupan ini. Pengenalan ini dapat terealisasi dengan baik manakala seorang manusia berada dalam kemerdekaan. Esensi kemerdekaan di sini adalah kemerdekaan jiwa. Yaitu kemerdekaan untuk berpikir dan bersikap. Sedangkan kemerdekaan bertindak adalah di luar esensi ini karena menyangkut relasi dengan pihak lain. Ketika terjadi relasi maka terjadi hukum. Sehingga jelas kemerdekaan dihadapkan pada keterikatan. Persoalan ini perlu kita bicarakan di kesempatan lain. Saya mengundang sobat semua untuk saling berbagi dalam tema besar "menjadi manusia" dalam blog saya ini. Blog ini terbuka bagi siapapun yang termasuk kategori manusia dan tertarik "menjadi manusia". Maafkan saya jika terlalu berlebihan. Selamat menyimak...


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed

Thursday, September 06, 2007
Sekuel XVI Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"

THE TREASURE

A father who was turned grey and old
On his death bed to his three sons told
Of when his father gave him his farm
He did not see its grace nor its charm;
"I intended to have the farm sold
Since I was unaware of its hidden gold
From the time of my great grandfather
A treasure, unlike any other
Has been buried deep in this farm
To insure our family against harm.
I neither had help, nor the zeal
To make myself wealth of such great deal.
But if this notion for you has appeal
The three of you this treasure can reveal.
I know not where this treasure lies
In your pursuit be thorough and wise,
Dig up the farm and find this prize
Do not be fooled by its disguise."
The father had no more to say
And quietly slipped away.

The three sons wanted to taste that fruit
And mobilized to go in pursuit
They dug up the field with joy and pleasure
Searching for their ancestral treasure.
Every corner they dug at least three feet deep
But the treasure they did not reap.
Despondent, disheartened, in defeat,
In that field planted grains of wheat.
The seasons turned the field green then gold
Till harvest time they had the wheat sold
This time, because of the well plowed field
Each seed had brought forth a plentiful yield.
Their father's last words, "find this prize
Do not be fooled by its disguise. "
Their gold was disguised as the golden wheat
Which their storehouse with plenty replete.

Despite the common notion of treasure
Inner treasure is beyond measure
A treasure may take many a form
Least of which, ship wreck in a storm;
Digging for gold with much toil
Yields golden wheat, the well plowed soil.

- JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread".

HARTA KARUN

Seorang ayah yang telah berubah menjadi suram dan tua

Di atas tempat tidur kematiannya berkisah kepada tiga putranya

Tentang saat ayahnya mewariskan tanah pertaniannya

Ia tidak melihat rahmat maupun pesona dari tanah pertanian itu;

"Aku telah berniat menjual tanah pertanian itu

Disebabkan ketidaksadaranku akan emasnya yang tersembunyi

Sejak masa kakek buyutku

Harta karun, tidak seperti yang lainnya

Telah dipendam di tanah pertanian ini

Untuk mengasuransikan keluarga kita dari bahaya.

Aku tak punya baik bala bantuan, maupun gairah

Untuk menjadikan diriku kaya dengan hal besar demikan.

Tetapi jika dugaan ini menimbulkan daya tarik pada kalian bertiga

Harta karun ini dapat terungkap.

Aku tak tahu di mana harta karun ini terletak

Dalam pencarian jadilah kalian seksama dan bijaksana,

Gali tanah pertanian itu dan temukan harta karun ini

Jangan dikelabui oleh samarannya."

Sang bapak tak punya yang lain untuk dikatakan

Dan dengan tenang menghembuskan nafasnya.

 

Ketiga putra tersebut ingin mencicipi buah itu

Dan mengerahkan persiapan untuk melakukan pencarian

Mereka menggali area pertanian itu dengan kegembiraan dan kesenangan

Mencari-cari harta karun nenek moyang mereka.

Di setiap sudut mereka menggali sedalam paling tidak tiga kaki

Tetapi harta karun tidak mereka tuai.

Putus asa, ciut semangat, gagal,

Di area pertanian itu mereka tanam butiran gandum.

Musim-musim mengubah area yang menghijau itu hingga menguning keemasan

Hingga saat panen tiba mereka menjual gandum itu

Kali ini, karena area pertanian dibajak dengan baik

Masing-masing benih membawa hasil yang berlimpah.

Kalimat terakhir ayah mereka, "Temukan harta karun ini

Jangan dikelabui oleh samarannya."

Emas mereka telah disamarkan sebagai gandum yang menguning keemasan

Yang telah memenuhi gudang mereka.

 

Alih-alih sangkaan awam tentang harta karun

Hakikat harta karun adalah di luar dugaan

Harta karun bisa mengambil banyak bentuk

Paling tidak, reruntuhan kapal karena badai;

Penggalian emas sekuat tenaga

Menghasilkan gandum yang menguning keemasan, tanah yang dibajak dengan baik.


Posted at 09:36 pm by gamahnnr

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry