FENOMENA GERHANA DAN
SIKAP KEBERAGAMAAN
Tulisan ini berawal dari kejadian
gerhana bulan petang hari ini, Selasa 28 Agustus 2007. Sebenarnya
kejadian ini berulang kali saya amati, namun baru kali ini menarik
perhatian saya. Sebabnya adalah adanya segelintir masyarakat yang
memperhatikan fenomena tersebut secara langsung, begitu mendengar
pemberitahuan dari Masjid Pusdai Jabar, persis depan tempat tinggal
saya. Jadi, mungkin masyarakat – sebelum pemberitahuan – merasa
heran dengan adanya suara takbir bersahutan dari Masjid Pusdai Jabar,
dan juga masjid-masjid lainnya. Sebab kedua adalah suara takbiran itu
sendiri, yang didominasi oleh anak-anak. Dan sebab ketiga adalah
tanggapan-tanggapan sebagian mereka dan ceramah-ceramah di
masjid-masjid terhadap fenomena alam ini.
Sebab pertama menjadi menarik karena
ternyata masyarakat masih cukup terpengaruh oleh fenomena ini,
ditambah dengan sokongan kalangan agamawan (terlihat dari informasi
pihak pengurus masjid dan suara takbir yang mengundang rasa
penasaran). Artinya masyarakat masih memperhatikan fenomena alam
sekaligus imbauan dari kalangan agamawan.
Sebab kedua menjadi menarik karena –
sebagaimana juga terjadi dalam kegiatan takbiran Lebaran Puasa dan
Lebaran Haji (Kurban) – suara takbiran dari masjid-masjid itu
didominasi anak-anak, yang notabene belum mengerti tentang fenomena
itu, apalagi bila dikaitkan dengan bentuk maknanya yang dikehendaki
agama (baca: kalangan agamawan).
Sebab ketiga menjadi menarik karena
muncul tanggapan dari masyarakat dan juga kalangan agamawan yang saya
anggap biasa-biasa saja. Tanggapan dari kalangan masyarakat yang
biasa-biasa saja – apalagi jika mereka berasal dari kalangan
awam/tidak terpelajar/tidak sadar informasi – adalah wajar, namun
bila tanggapan biasa-biasa saja itu muncul dari kalangan agamawan
menjadi tidak wajar. Contoh tanggapan-tanggapan tersebut adalah bahwa
fenomena gerhana ini adalah bentuk kekuasaan Allah yang selayaknya
ditafakuri, bahwa fenomena tersebut harus disikapi secara keagamaan,
tidak hanya secara ilmiah saja sebagaimana yang dilakukan oleh
kalangan sekuler. Saya sendiri sepakat dengan tanggapan ini, namun
tanggapan seperti ini belumlah mengena ke esensi dari fenomena
gerhana itu sendiri. Menurut pendapat saya, masyarakat perlu diajak
untuk merenungkan makna-makna yang lebih dalam dari berbagai fenomena
alam – termasuk fenomena gerhana – yang bermanfaat secara
langsung bagi kehidupannya, terutama bagi peningkatan kualitas sikap
keberagamaannya.
Sebagai contoh, secara alamiah dan
ilmiah, fenomena gerhana bulan sudah bisa dijelaskan secara memadai,
yaitu peristiwa terhalangnya sinar matahari ke bulan oleh bumi. Jadi
posisi matahari, bumi dan bulan adalah segaris. Penjelasan ilmiah
yang lebih rumit pun sudah tersedia. Namun sejauh yang saya ketahui,
temuan ilmiah dan alamiah ini belum memperkaya temuan kalangan
agamawan, untuk meningkatkan kualitas maknanya secara keagamaan.
Sebagai contoh pemaknaan dari saya tentang fenomena ini adalah dengan
menggunakan metode analogi. Alasan penggunaan metode analogi ini
adalah bahwa alam semesta ini adalah sistem makrokosmos (jagad
besar), sedangkan diri manusia adalah sistem mikrokosmos (jagad
kecil). Secara analog, diri (jiwa) manusia adalah miniatur alam
semesta.
Makna pertama, makna
individual/konsep hidayah. Peran matahari sebagai sumber cahaya, bumi
sebagai penghalang sinar, dan bulan sebagai penerima (pemantul)
cahaya bisa dianalogikan dengan Tuhan dalam diri manusia sebagai
matahari (sumber cahaya) jiwa, nafsu sebagai penghalang sinar ke
cermin jiwa (tindakan/kepribadian/akhlak), dan kepribadian/tindakan
sebagai penerima (pemantul) cahaya jiwa. Dari makna ini, maka
manusianya Tuhan akan mengendalikan nafsu agar tidak menghalangi
jalannya sinar/cahaya Tuhan kepada tindakan/kepribadian/akhlaknya.
Sekali nafsu menghalanginya, maka tindakan/kepribadian/akhlaknya akan
diliputi kegelapan (tanpa petunjuk), yang berarti dosa.
Makna kedua, makna sosial/konsep
bimbingan. Peran matahari sebagai sumber cahaya, bumi sebagai
penghalang sinar, dan bulan sebagai penerima (pemantul) cahaya bisa
dianalogikan dengan manusianya Tuhan dalam kehidupan masyarakat,
setan (manusianya Iblis) yang menghalangi manusia lain (masyarakat)
dari kesempatan akses ke sinar/cahaya manusianya Tuhan, dan manusia
lain (masyarakat) sebagai penerima/pemantul cahaya dari manusianya
Tuhan. Melalui makna ini bisa diperoleh pengertian, bahwa manusia
biasa memiliki ketergantungan kepada cahaya dari manusianya Tuhan
agar hidupnya tidak diliputi kegelapan. Akses mereka kepada cahaya
dari manusianya Tuhan terhalangi dengan keterlibatan manusianya Iblis
(setan) dengan produk mental mereka (gagasan, pemahaman, konsep
hidup, dsb.) ataupun produk fisik mereka seperti simbol-simbol
peradaban material. Berdasarkan pengertian ini, sesungguhnya
kedudukan manusia biasa ini (yang memiliki ketergantungan cahaya)
sangatlah rentan perubahan, nasibnya ditentukan oleh pihak mana
(manusianya Tuhan atau manusianya Iblis) yang paling besar kualitas
daya pengaruhnya. Secara praktis, seorang manusia biasa akan menjadi
baik jika lingkungannya baik, teman-temannya baik, tetangganya baik,
bosnya baik, dsb. Sekali keadaan semua unsur itu bergeser ke arah
sebaliknya, maka keadaan manusia biasa itu akan melakukan hal yang
sama. Berdasarkan pengertian ini, maka posisi yang paling aman bagi
siapapun adalah posisi manusianya Tuhan. Manusia jenis ini memiliki
kemandirian dalam menghasilkan cahaya, lebih jauh mereka pun mampu
mendistribusikan cahayanya kepada lingkungannya (melakukan
bimbingan).
Cara pemaknaan seperti ini bisa
diberlakukan juga kepada gerhana matahari, karena pada kedua kasus
gerhana (baik gerhana matahari ataupun bulan), sebenarnya peran bumi
dan bulan sejajar, yaitu jika tidak sebagai penerima/pemantul cahaya,
maka berperan sebagai penghalang sinar. Tidak seperti matahari,
keduanya – bumi dan bulan – bukanlah sumber cahaya.
Catatan:
Pendapat saya ini bisa saja keliru, silakan dikoreksi. Dan Tuhanlah
yang Maha Mengetahui dan selalu benar.