WATAK KEINDAHAN WANITA
CANTIK
Cerita ini tentang saya sendiri. Cerita
tentang efek dari wanita cantik pada diri saya. Saya yang mengagumi –
secara khusus – kecantikan wanita, salah satu bentuk keindahan
semesta. Memang batasan kecantikan/keindahan dalam hal ini masih
bersifat fisik/materi. Meski demikian, kecantikan/keindahan
fisik/materi itu tak terhindarkan, karena perspektif materi masih
saya miliki (terutama karena mata fisik masih mendominasi fungsi
penglihatan). Ok lah bahwa keindahan fisik/materi ini adalah
gambaran tentang keindahan non-fisik/immateri, tapi meski demikian,
keindahan fisik/materi ini mempunyai efek yang tak bisa dianggap
sepele. Panggung sejarah manusia dipenuhi figur-figur wanita cantik
yang memainkan peran sebagai pelaku utama jalannya skenario sejarah
(ataupun cerita fiksi). Kita bisa menyebutnya beberapa disini: Hawa,
Zulaikha, Hera, Helen of Troy, Layla, Sinta (Sita), Juliet,
Cleopatra, Dyah Pitaloka, Marylin Monroe, Dewi (istri Soekarno).
Pasti ada banyak nama yang tidak terabadikan sejarah, meski peran
para wanita cantik itu tidak kecil.
Saya berpendapat bahwa keberadaan
wanita cantik di muka bumi ini ada alasan, sebagaimana keberadaan
apapun yang lain. Beberapa alasan yang mungkin bisa diungkapkan
disini. Pertama, wanita cantik adalah sasaran (obyek)
kesenangan seorang pria. Saya menyebutnya sebagai efek seksual.
Seorang pria – pada umumnya – selalu menginginkan wanita cantik
disampingnya, entah sebagai istri ataupun teman. Secara naluriah,
seorang pria memperoleh kesenangan batin dan lahir dari keberadaan
wanita cantik di sisinya, yang relatif lebih berarti bila dibanding
dengan jika bersama wanita yang secara fisik biasa-biasa saja. Secara
reflektif, saya berani mengatakan bahwa kecantikan/keindahan fisik
seorang wanita masih menjadi prioritas seorang pria manapun dan di
zaman apapun, sehingga termasuk seorang pria modern.
Alasan kedua, wanita cantik
adalah batu ujian, atau secara negatif bermakna jebakan/perangkap.
Saya menyebutnya efek sosial-politik, karena seringkali dampaknya
bersifat sosial-politik. Makna batu ujian ini tidak selalu negatif.
Secara positif, seorang pria bisa menjadi lebih kuat dan tangguh
dengan motif demi seorang wanita cantik, karena ada
kebanggaan/kepuasan sosial yang dirasakannya. Konsekuensinya,
keberhasilan dia dalam hidup akan berkorelasi positif dengan motif
demi seorang wanita cantik ini. Kalangan agamawan bisa mengartikan
sebaliknya, bahwa banyak kasus keberadaan wanita cantik menjerumuskan
kaum lelaki pada perbuatan kriminal dan dosa, dan lebih jauh lagi
pada peperangan. Namun perspektif ini terlalu sempit, karena
sesungguhnya watak keindahan selalu menggoda, dalam bentuk apapun
keindahan itu.
Ketiga, wanita cantik adalah
representasi keindahan yang paling berkualitas. Saya menyebutnya
efek filosofis. Saya yakin bahwa setiap manusia memiliki watak
mencintai keindahan. Hampir sebagian besar representasi keindahan di
muka bumi ini menjadi berharga. Sebut saja barang-barang tambang
seperti emas, perak, dan intan, termasuk hasil kekayaan laut seperti
mutiara, juga hasil agro seperti sutera. Semua jenis barang itu
memiliki potensi keindahan, dengan atau tanpa sentuhan akhir tangan
manusia. Pemandangan alam dan produk teknologi juga memiliki potensi
ini. Tapi meskipun semua itu bisa mengambil peran sebagai simbol
keindahan, apakah mampu mengalahkan kualitas keindahan seorang wanita
cantik? Saya berani menjawab tidak. Bagi seorang pria, wanita cantik
adalah simbol terkuat dari keindahan.
Namun apakah perlu kita memikirkan
alasan utama keberadaan wanita cantik, sebagai jalan untuk
menempatkan persoalan ini dengan benar?
Saya berpendapat bahwa segala alasan
yang logis tentang keberadaan wanita cantik bisa diterima tanpa harus
dipertentangkan satu sama lain. Ketiga alasan yang saya kemukakan
sebelumnya bisa mewakili sebagian diantaranya.
Saya berpendapat bahwa hal penting dari
kenyataan adanya wanita cantik adalah perhatian kita (baca: kaum
pria) pada efeknya. Sebagaimana dalam segala hal akal harus
difungsikan, maka termasuk dalam persoalan ini, bagaimana akal
berfungsi dalam mengenali efek keindahan dari wanita cantik, kemudian
mengendalikannya secara tepat.
Beberapa solusi bisa diurai disini.
Pertama, dalam mengendalikan
efek seksual dari seorang wanita cantik, akal harus mengenali watak
hasrat seksual dan tujuan penggunaannya. Watak hasrat seksual adalah
bersifat memberi kepuasan sekejap, artinya setelah terpuaskan secara
seksual, maka wanita cantik itu sudah tidak memberikan efek seksual
lagi. Sedangkan tujuan penggunaan hasrat seksual adalah untuk
menciptakan keseimbangan mikrokosmos manusia (baik pria maupun
wanita) dan bukan sebaliknya, melahirkan ketidakseimbangan. Kesadaran
akan watak dan tujuan hasrat seksual bisa menimbulkan kemampuan
pengendalian diri.
Kedua, untuk mengendalikan efek
sosial-politik dari seorang wanita cantik, akal harus mengenali watak
sosial-politik dan tujuan penggunaannya. Watak sosial-politik adalah
kompetisi/persaingan. Sedangkan tujuan sosial-politik adalah
pengaturan kehidupan masyarakat (keseimbangan makrokosmos). Artinya,
bagaimana caranya menghindarkan efek dari seorang wanita cantik yang
bersifat buruk/tidak menguntungkan bagi kekuatan persaingan seorang
pria dalam kehidupan sosial-politiknya. Seorang pria yang sadar akan
hal ini, akan mendorong efek wanita cantik yang menguntungkan
kekuatan persaingannya.
Ketiga, untuk mengendalikan efek
filosofis dari seorang wanita cantik, akal harus mampu mengenali
watak filosofis dan tujuan penggunaannya. Watak filosofis adalah
ketergantungan pikiran/jiwa. Tujuan penggunaan fungsi filosofis
adalah untuk membebaskan manusia dari ketergantungan kepada selain
dirinya. Menjadi manusia yang merdeka.Artinya, bagaimana caranya
menghindarkan efek ketergantungan pikiran/jiwa kepada seorang wanita
cantik. Secara sarkastis, relasi ketergantungan ini adalah bentuk
keterjajahan pikiran/jiwa. Jika seorang pria pikiran/jiwa/hatinya
tergantung pada seorang wanita cantik, maka sesungguhnya dia tengah
menjadi seorang budak yang tidak merdeka. Pada tahap ini akal telah
menjadi pelayan/kasim bagi perasaan. Seorang pria yang memiliki
kesadaran akan efek filosofis dan tujuan penggunaannya pasti mampu
mengendalikan dirinya.
Catatan:
Pendapat saya ini bisa saja keliru, silakan dikoreksi. Dan Tuhanlah
yang Maha Mengetahui dan selalu benar.