IDEOLOGI
KESEMPURNAAN
KEMANUSIAAN
Ya Tuhan, saya terlilit jiwa satwa. Saya bekerja
demi uang, bukan idealisme. Cita-cita lama saya kandas di tengah himpitan
ekonomi keluarga. Kesedihanku bukanlah atas pengorbanan kerja kerasku, tapi
bahwa aku menapaktilasi jejak banyak pendahuluku, yang mengorbankan idealisme
demi keselamatan keluarga dan pribadi. Menggadaikan kebesaran idealisme demi
sesuap nasi. Tapi bagaimanapun, aku memiliki banyak alasan untuk melakukannya.
Aku bersembunyi di baliknya. Demi mobilitas horisontal dan vertikal sosial lah,
demi akses kebebasan lah, demi harga diri lah, demi kemakmuran lah. Namun jujur
kuakui, nuraniku meredup, solidaritas sosialku berkurang, aku menjadi predator
ekonomi, bercita-cita tinggi untuk menjadi orang kaya adalah prioritas pertama,
meski harus mengabaikan kemiskinan manusia sekitar. Aku semakin individualis
atau keluargais. Orang lain bukan urusanku!
Jiwa demikian tidak terjadi sebelumnya. Panggilan
kepahlawanan adalah energi terbesarku. Jiwa dan ragaku kupersembahkan bagi
pergulatan umat manusia untuk meraih kesempurnaannya. Memang tak pernah
sekalipun jiwaku rela mengejar materi, tapi himpitan beban sehari-hari
membiasakanku berkompromi, jadilah aku terbiasa demikian!
Demi Tuhan, kusaksikan banyak pemuda di negeri
tercinta ini seperti aku! Mereka memberi perhatian besar pada kepentingan
keluarganya, dan abai pada nasib masyarakatnya, yang membesarkannya. Kukatakan
masyarakat turut pula membesarkannya, tidak hanya keluarganya saja, adalah
fakta nyata! Ingin kukatakan bahwa kebesaran (perbaikan nasib) kami, para
pemuda negeri ini, adalah hasil eksploitasi masyarakat dan alam kami! Kamilah –
yang pernah bercita-cita memperbaiki nasib masyarakat kami, tapi kemudian
terjebak pada kepentingan keluarga kami –yang secara kolektif menyebabkan
bangsa kami ini miskin, dan semakin miskin.
Telah kami biasakan diri kami berapologi,
menjustifikasi sikap dan tindakan kami, namun hati kecil kami tak bisa
dibohongi: kami, para pemuda negeri ini, jelas-jelas bersalah! Kami takut miskin!
Kami ingin hidup nyaman! Kami takut mati sia-sia! Itulah motif yang nyata.
Perlahan tapi pasti, panggilan kepahlawanan dalam jiwa kami, yang bak sinar
itu, meredup bahkan padam. Kami semakin jauh dari jalan kepahlawanan itu.
Berlalu bersama waktu, demikian juga yang terjadi pada para pendahulu kami,
kami tak pernah lagi kembali ke jalan itu. Kami telah terbiasa memperhatikan
keluarga kami, namun mengabaikan bangsa kami.
Ingin sekali aku berikrar: Kami tak ingin seperti
mereka, para pendahulu kami yang gagal kembali ke jalan kepahlawanan itu! Orang
tua kami yang gagal!
BERUBAH, itulah kuncinya. Kami harus berubah. Kami
harus mengubah cara berpikir kami, kemudian mengubah sikap dan tindakan kami.
Kami harus berpikir bahwa, seorang pemuda pahlawan
haruslah memberi perhatian kepada bangsa (umat manusia) jauh lebih besar dibanding
kepada keluarganya.
Agenda utamanya adalah pergulatan kemanusiaan
keseluruhan, bukan pergulatan ekonomi keluarga.
Tindakan praktis:
- Jangan mencuri apapun dari umat manusia (bangsa)
- Jangan mementingkan keluarga dibanding umat manusia (bangsa)
- Jangan takut miskin
- Jadilah pahlawan kemanusiaan
- Jangan abaikan kepentingan umat manusia (bangsa)
Bandung,
Juli 2006