 |
Salam Manusia Merdeka! Sobat semuanya...Perkenalkan, nama saya Gama Harta Nugraha Nur Rahayu. Teman-teman biasa memanggil saya Gama. Saya punya minat belajar teosofi atau hikmah/kebijaksanaan. Saya ingin berbagi dengan siapapun dalam hal pengetahuan dan pengalaman seputar kehidupan, tentang perjalanan menjadi "manusia". Saya berpendapat bahwa betapa sulitnya menjadi "manusia", tatkala kita benar-benar menghayati makna manusia itu sendiri. Saya sekarang sedang tertarik menerjemahkan beberapa karya Jalaluddin Rumi, seorang penyair mistik dari Turki. Sobat semua bisa melihat hasilnya di blog saya ini sekaligus memberikan masukan untuk koreksi selanjutnya. Saya menyadari betul keamatiran saya dalam kemampuan menerjemahkan karya berbahasa Inggris, lebih-lebih yang termasuk kategori sastra seperti itu....
Menjadi manusia...
Itulah judul blog saya ini. Mudah-mudahan kata-kata ini tidak menjadi slogan semata. Semoga menjadi komitmen saya secara pribadi dan menjadi renungan dari sobat semua. Saya berpendapat bahwa manusia sejati adalah manusia yang telah mengenal dirinya. Mengenal diri adalah pengetahuan akan diri yang komprehensif. Pengenalan tentang siapa sang diri, tujuan keberadaan sang diri, dan bagaimana seharusnya sang diri dalam proses kehidupan ini. Pengenalan ini dapat terealisasi dengan baik manakala seorang manusia berada dalam kemerdekaan. Esensi kemerdekaan di sini adalah kemerdekaan jiwa. Yaitu kemerdekaan untuk berpikir dan bersikap. Sedangkan kemerdekaan bertindak adalah di luar esensi ini karena menyangkut relasi dengan pihak lain. Ketika terjadi relasi maka terjadi hukum. Sehingga jelas kemerdekaan dihadapkan pada keterikatan. Persoalan ini perlu kita bicarakan di kesempatan lain. Saya mengundang sobat semua untuk saling berbagi dalam tema besar "menjadi manusia" dalam blog saya ini. Blog ini terbuka bagi siapapun yang termasuk kategori manusia dan tertarik "menjadi manusia". Maafkan saya jika terlalu berlebihan. Selamat menyimak...
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
 |
 |
Thursday, September 06, 2007
Sekuel IV Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"
HARVEST SEASON
Harvest season the golden fields blanketed with
the golden wheat
Swaying gently, dancing with wind, ripe, mature, ready to eat
Farmer's sickle or harvester, with its blade will kiss the wheat
The plant is touched with kiss of death, but kiss of life the wheat
will greet
A life beyond the life of plant awaits the newly harvested wheat
The chafe separated from the grain, to the rhythm of a new beat
In this brutal separation, we mainly follow the grain of wheat
Subjected to many more hardships, but now rests in late summer heat.
When a mother goes to labour it is time to harvest the child
Through the certain death of foetus, a baby on life smiled,
Separation of umbilical cord, a new rhythm of life beating wild
Though many challenges await the baby, in her mother's arms resting
mild.
Every life comes to fruition, every project to its harvest
And that, the end of old life, this death perhaps the hardest test
Through this death and this harvest, we find new life must be blest
If subjected to separation, with some pain in life invest
A new start to many more trials, but for progress this the best.
- JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread". MUSIM PANEN
(Pada) Musim panen ladang-ladang
keemasan diselimuti gandum keemasan
Berayun dengan gemulai, menari bersama angin, masak, matang, siap
disantap
Sabit dan mesin penuai Petani, bersama
mata pisaunya akan ‘mencium’ sang gandum
Tanaman tersebut ‘dibelai’ dengan ‘ciuman’
kematian, namun ‘ciuman’ kehidupan (baru) akan menyambutnya
Sebuah
kehidupan di luar kehidupan (sebagai) tanaman tengah menunggu gandum yang baru
dipanen
Kulit
(gandum) dipisahkan dari butirannya, menuju irama tempaan baru
Dalam
pemisahan brutal ini, umumnya kita (lebih tertarik) mengamati (perjalanan) sang
butir gandum
Yang
diperlakukan dengan lebih banyak penderitaan, namun sekarang beristirahat dalam
panas musim kemarau yang terlambat
Tatkala
seorang ibu berusaha keras (melahirkan), ini adalah waktunya untuk ‘memanen’
anak
Melalui
‘kematian’ pasti sang janin, seorang bayi yang baru terlahir tersenyum
Terpisah
dari tali pusat, sebuah irama baru kehidupan menempa dengan liar
Meski
demikian banyak tantangan menunggu sang bayi, dalam pangkuan ibunya (ia) beristirahat
dengan tenang
Setiap
kehidupan berbuah, setiap pekerjaan dipanen
Dan
bahwa, berakhirnya (fase) kehidupan sebelumnya, (yaitu) ‘kematian’ inilah mungkin
ujian tersulit
Melalui
‘kematian’ dan panen ini, kita mendapati (bahwa) kehidupan baru harus
terberkati
Apabila
dihadapkan pada perpisahan (dengan berbagai kenikmatan), maka dengan berbagai
penderitaan hidup(lah) berinvestasi
Satu
awalan baru bagi lebih banyak lagi percobaan (berikutnya), namun untuk kemajuan
(hidup) inilah (jalan) yang terbaik
Sekuel V Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"
AT THE MILL
A grain of
wheat will find itself between a rock and a hard place
Miller turning the grindstone, unaware of what the wheat must face
The wheat is moved and pressed and crushed, but will forbear all with
grace
And in the end the grindstone wins, of grain there will not be a trace,
Instead the bran mixed with flour will fill the wheat's empty space.
Though wheat is crushed and dead and gone, its given birth to a new
race
Just like phoenix from the ashes, flour from dust of wheat in this
case.
When in life we
find ourselves caught between a hard place and a rock
And find ourselves facing all odds, and that we are running out of luck
Experience we find is tough, our heads against a brick wall knock;
Finally we fail, crushed, destroyed, inside a room ourselves lock
We should remember the flour then, a new me emerges out of old muck
Transformed, refined, experienced, hold our heads up, continue to walk.
When we are put
to death's grindstone
To dust shall turn our flesh and bone
We shall repay our mortal loan
When our spirit from dust flown,
We'll change our shape, even our tone
A new spirit into our dust blown.
- JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread". DI TEMPAT PENGGILINGAN
Butir gandum akan segera mendapati dirinya terhimpit
di antara batu karang dan medan terjal
Tukang giling yang memutar batu gerinda itu, tidak
acuh pada apa yang gandum harus hadapi
Gandum dipindahkan, ditekan dan dihancurkan,
tetapi (dia) akan menahan semuanya itu dengan elegan
Dan pada akhirnya sang batu gerinda menang, (adapun)
tentang butir tak akan ada (lagi) jejak,
Sebagai ganti(nya) dedak bercampur tepung akan
mengisi ruang yang ditinggalkan (butir) gandum itu.
Meski gandum dihancurkan dan mati serta ‘hilang’, dia
telah melahirkan satu ‘ras’ baru
Seperti halnya phoenix dari debu, (maka) dalam hal
ini adalah tepung dari debu gandum.
Ketika dalam hidup kita dapati diri kita terhimpit
diantara medan terjal dan batu karang
Dan mendapati diri kita menghadapi semua
rintangan, dan bahwa kita tengah kehabisan keberuntungan
Pengalaman (yang) kita dapati adalah tabah, kepala-kepala
kita melawan benturan (dengan) dinding batu bata;
Pada akhirnya kita gagal, hancur, binasa, di dalam
suatu ruang diri kita mengunci (diri)
Maka kita perlu ingat tepung itu, ‘aku yang baru’
muncul ke luar dari dedak kotoran
(Telah) Berubah, termurnikan, berpengalaman,
waspada, (siap) melanjutkan perjalanan.
Ketika kita diletakkan (pada) batu gerinda
kematian
Kepada debu (dia) akan mengubah tulang dan daging kita
Kita akan melunasi hutang kematian kita
Ketika roh kita terbang dari debu,
Kita akan berubah bentuk, bahkan ‘nada’ kita
Suatu roh baru bertiup ke dalam debu kita.
Sekuel VI Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"
THE DOUGH
I poured some
water on the flour
And kneaded it with such power
And then left it for an hour.
I watched the dough rising slowly
From a place humble, lowly
To a state of fullness, holy.
Through a slow transformation
The dough grew with elation
Ready for its next vocation.
The lesson that
the dough taught me
Through my process patient be
Then the outcome I shall see.
- JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread". ADONAN
Aku tuangkan air ke atas tepung
Dan meremasnya dengan sekuat tenaga
Dan kemudian meninggalkannya beberapa saat
Aku mengamati adonan itu mengembang perlahan
Dari suatu sisi (loyang oven) dengan rendah hati,
Kepada satu status ‘kepenuhan/ kesempurnaan’, suci.
Melalui suatu perubahan bentuk yang lambat
Adonan tumbuh dengan kegembiraan
Siap untuk pekerjaan berikutnya.
Pelajaran yang adonan ajarkan (kepada)ku
(Adalah bahwa) “Melalui prosesku kesabaran terjadi
Maka hasilnya(pun) pasti akan kulihat.”
Sekuel VII Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"
BAKING BREAD
I turned the
oven heat right up
Watched the fire reach the top
Waited for temperature to rise
For this is the way of the wise
When the hot oven was ready
And its temperature steady
I put the dough in and shut the door
And watched it rise for sometime more
Subjected to the heat of fire,
Making bread, my sole desire.
Finally I took out the hot bread
Brave dough the oven did not dread.
Every project
needs a fire
Burning hot, fuelled by desire
And dough, the raw material
If it's to make anything at all.
Patience, constancy, study
Before we can become ready;
And intention to open the door
Take the first step before some more
Passionate heat of the fire
To purge away dross and mire
Until the dough, metal base
Becomes bread, golden grace.
- JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread". MEMBAKAR ROTI
Aku menaikkan panas oven
Mengamati api bergejolak
Menantikan temperatur naik
Karena ini adalah jalan kebijaksanaan
Ketika oven yang panas telah siap
Dan temperaturnya telah mantap
Aku menaruh adonan di dalamnya dan menutup
pintunya
Dan mengamatinya mengembang untuk sesekali waktu
Karena dipanasi dengan api,
Membuat roti, (adalah) dambaanku satu-satunya.
Akhirnya aku mengeluarkan roti yang panas (dari
dalam oven)
(Bagi) Adonan yang bernyali, tungku tidak akan
menakutinya.
Setiap ‘pekerjaan’ membutuhkan suatu api
Terbakar panas, dibahanbakari oleh hasrat
Dan (juga) adonan, (sebagai) bahan baku
Jika ia (adonan) adalah (bahan baku) untuk membuat
‘apapun’ juga.
Kesabaran, kesetiaan, pembelajaran (harus
dilakukan)
Sebelum kita dapat menjadi siap;
Dan (saat muncul) niat untuk membuka pintu
Ambil langkah yang pertama sebelum langkah lainnya
Panas api yang bergairah
Untuk mencuci bersih noda dan kotoran
Hingga adonan, yang dasarnya ‘logam’
Menjadi roti, anugerah terindah.
Sekuel VIII Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"
THE SILO
I met a grain of wheat,
stored in a silo
Asked him what his experience, how he'd grow
He said, "going up and down this silo meeting many a face."
Going up and down, all he knew, all his experience.
I met a friend, asked him
about his job,
For his livelihood, himself of life would rob
For twelve years, met many people playing the same game
Six months of fresh experience, then repeating the same;
Learning nothing new, the same life repeating again and again
In the silo of his job, going up and down like a grain.
- JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread".
LUMBUNG GANDUM
Kuberjumpa sebutir gandum, yang tersimpan
dalam lumbung
Kubertanya perihal pengalamannya,
bagaimana ia bertumbuh
Ia menjawab, "Perjalanan naik
turun lumbung ini mempertemukanku dengan banyak orang."
Perjalanan naik turun, semua yang dikenalinya,
seluruh pengalamannya.
Kubertemu seorang kawan, bertanya kepadanya
seputar pekerjaannya,
Demi mata pencaharian, dalam hidup dirinya
sudi merampok
Selama duabelas tahun, berjumpa banyak
orang dengan permainan yang sama
Enam bulan menempuh pengalaman baru,
kemudian mengulangi yang sama;
Tidak belajar apapun yang baru, hidup
yang sama berulang lagi dan lagi
Di dalam lumbung pekerjaannya,
perjalanan naik turun seperti sebutir gandum.
Sekuel IX Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"
URBAN CULTURE
"Where do we get
bread from?" I asked a young kid
"From the supermarket!" the answer out slid;
Burgers from butcher, woollen vest from the mall
Water from bottles, sold in shops down the hall.
Whatever happened to wheat, cow, lamb, springs?
This is the culture urban life brings. - JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread". KULTUR KOTA
"Dari mana kita memperoleh roti?"
tanyaku kepada seorang anak muda
"Dari supermarket!" sahut
anak muda itu;
Burger dari penjagal, rompi woll dari
mall
Air dari botol, yang dijual di pertokoan
sepanjang jalan.
Apa pula yang terjadi pada gandum,
sapi, domba, mata air?
Inilah yang kultur kehidupan kota
persembahkan.
Sekuel X Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"
IMPURITY
If wheat mixed with
chaff, dirt and barn dust
Is put in soil, watered with loving trust
The soil will nurture that single wheat
Won't allow garbage its growth deplete;
The soil absorbs chaff, dirt and dust
Turns them to goodness, at any cost.
It is the same for any wheat
This process, soil will repeat.
Nature is good, nature is
kind
In our essence goodness will find,
Separate the garbage from our wheat
Transform our dust, evil defeat.
Nature does not mind if we are impure
She will find our wheat, goodness secure;
This is the way we know for sure
To heal ourselves, ailing world cure. - JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread". KETIDAKMURNIAN
Jika gandum bergaul dengan sekam,
kotoran dan debu gudang
Ditaruh di lahan, disirami dengan
kepercayaan penuh kasih
Lahan akan memelihara gandum kesepian
itu
Tidak akan mengijinkan sampah menghabiskan
pertumbuhannya;
Lahan menyerap sekam, kotoran dan debu
Mengubahnya menjadi kebaikan, sebesar
apapun pengorbanannya.
Hal yang sama bagi gandum manapun
Proses ini, lahan akan mengulanginya.
Alam itu baik, alam itu ramah
Di dalam jati diri kita kebaikan akan ditemukan,
Pisahkan sampah dari gandum kita
Ubah debu kita, kejahatan kalah.
Alam tidak keberatan jika kita tidak
murni
Dia akan temukan gandum kita, kebaikan terjamin;
Ini adalah jalan yang kita kenal dengan
pasti
Untuk penyembuhan diri kita, dunia yang
tak sehat dapat menyembuhkan.
Sekuel XI Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"
GRAIN OF WHEAT
A grain of wheat for
years was kept
Until one day by a broom was swept,
It found its way to a fertile field
Sprouted roots and then did yield
At least seventy two grains
Of wheat from different strains,
From each in turn, seventy two
Different grains of wheat grew;
And so from one grain of wheat
Its progeny the world replete.
And if a thought can only
find
A receptor, a fertile mind
Independently of that mind
Will issue forth without a bind,
And from that one original thought
Many strains will surely sprout;
A thought has a life of its own
It will not die once it is known.
Prophet, poet, every hero
Brought a thought and let it grow
And from that one heroic thought
Its progeny, a new world brought. - JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread". BUTIR GANDUM
Sebutir gandum bertahun-tahun telah
dijaga
Sampai suatu hari oleh sebuah sapu tersingkirkan,
Dia menemukan jalannya menuju satu lahan
subur
Akar-akar mulai tumbuh dan kelak menghasilkan
Sedikitnya tujuhpuluh dua butir
Gandum dari garis-garis keturunan yang
berbeda,
Dari masing-masing butir pada
gilirannya, tujuhpuluh dua
Butir gandum yang berbeda tumbuh;
Dan demikian dari satu butir gandum
Keturunannya memenuhi dunia.
Dan jika suatu pemikiran hanya sanggup
mendapati
Seorang penerima, pikiran yang subur
Secara mandiri dari pikiran itu
Akan menghasilkan lompatan ke depan yang
merdeka,
Dan dari satu pikiran asli itu
Akan tumbuh dengan pasti
pikiran-pikiran turunan;
Suatu pemikiran mempunyai kehidupannya
sendiri
Sekali dikenal ia tak akan mati.
Nabi, Penyair, setiap pahlawan
Membawa suatu pemikiran dan menyebarkannya
Dan dari satu pemikiran gagah berani
itu
Keturunannya, sebuah dunia baru terlahir.
Sekuel XII Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"
THE LONE GRAIN
Once upon a time on this
earth, in a land far, far away,
A lone grain of wheat, amidst the grains of sand silently lay,
Then came the thunderstorms, watering the parched land
Soon afterwards a sprout from that grain of wheat was at hand.
Not one plant grew from any single grain of sand
Though multitudes amidst the soil would stand.
The lone grain of wheat grew to yield many more grains,
The multitudes of sand remained still in their numerous strains.
And so it is with Truth
surrounded in a world of lies
The lone living Truth amidst falsehood multiplies. - JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread". BUTIR YANG SENDIRIAN
Sekali waktu pernah terjadi di bumi
ini, di suatu daratan jauh, nun jauh di sana,
Sebutir gandum yang sendirian, diantara
butir-butir pasir yang terhampar tenang,
Kemudian datang hujan badai diiringi
petir, menyirami daratan yang terpanggang
Segera setelah itu kecambah dari butir
gandum itu mulai muncul.
Bukan tanaman yang tumbuh dari sebutir
pasir manapun
Meski demikian khalayak ramai yang berada
di tanah akan memperhatikan.
Butir gandum yang sendirian itu tumbuh
untuk menghasilkan lebih banyak butir lagi,
Mayoritas pasir itu masih tetap di
dalam generasi-generasi mereka.
Demikian juga dengan Kebenaran yang terkepung
dalam dunia kepalsuan
Kebenaran yang hidup sendirian di
tengah kebohongan melipatgandakan jumlahnya.
Sekuel XIII Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"
SOW AND REAP
Eons ago before the agricultural age
Nomadic tribes roamed upon the world
stage.
One nomadic tribe came upon a golden
field
Which in late summer much wheat did
yield.
The tribe camped there to harvest the
wheat
For some time they all had plenty to
eat.
Eons later, in the agricultural age
Farming had subsided hunters' rage.
A farmer had carefully tilled his soil
Planted some wheat with much toil;
Late summer, a thundercloud, huge
Unleashed its untimely deluge,
Ruined the poor farmer's harvest
Though his intentions were the best.
Same summer in a distant field
Complained to the farmers' guild
Of the dry, scorching draught,
Which burned the crops, famine brought.
"What you sow, ye shall reap
Thus the ways of nature keep!"
Yet the nomadic hunter tribe
Reaped without sowing, said the scribe
But the farmer by draught or flood
Though had shed his sweat and blood,
Sowed much wheat yet did not reap
Nature, our Laws did not keep.
- JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread".
MENABUR DAN
MENUAI
Beribu-ribu tahun yang lalu sebelum zaman
agraris
Suku-suku bangsa pengembara menjelajahi
panggung dunia.
Satu suku bangsa pengembara datang di
padang subur
Yang di akhir musim panas ladang gandumnya
menunggu dipanen.
Suku bangsa itu berkemah di sana untuk
memanen gandumnya
Untuk beberapa lama mereka semua mempunyai
banyak persediaan makanan.
Beribu-ribu tahun kemudian, di zaman agraris
Pertanian telah mengurangi gairah para
pemburu.
Petani telah membajak tanahnya dengan
seksama
Menanam gandum dengan penuh kerja
keras;
Akhir musim panas, awan kelam diiringi
petir, memenuhi ufuk
Sekonyong-konyong mencurahkan hujan
lebat,
Menggagalkan panenan petani miskin
Padahal ia telah berharap yang terbaik.
Musim panas yang sama di suatu padang
yang jauh
Telah mengeluh kepada serikat petani
Tentang musim kemarau, kekeringan yang
sangat panas,
Yang membakar sawah dan ladang,
kelaparan melanda.
"Apa yang engkau tabur, itulah
yang akan kau tuai
Demikianlah cara alam mengatur!"
Namun suku bangsa pemburu yang pengembara
itu
Yang menuai tanpa menabur, ujar ahli
kitab itu
Tetapi petani oleh kekeringan atau banjir
Meskipun telah menumpahkan keringat dan
darahnya,
Yang menabur banyak gandum namun tidak
menuai
Alam, Hukum kita tidak mengatur.
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|