Salam Manusia Merdeka! Sobat semuanya...Perkenalkan, nama saya Gama Harta Nugraha Nur Rahayu. Teman-teman biasa memanggil saya Gama. Saya punya minat belajar teosofi atau hikmah/kebijaksanaan. Saya ingin berbagi dengan siapapun dalam hal pengetahuan dan pengalaman seputar kehidupan, tentang perjalanan menjadi "manusia". Saya berpendapat bahwa betapa sulitnya menjadi "manusia", tatkala kita benar-benar menghayati makna manusia itu sendiri. Saya sekarang sedang tertarik menerjemahkan beberapa karya Jalaluddin Rumi, seorang penyair mistik dari Turki. Sobat semua bisa melihat hasilnya di blog saya ini sekaligus memberikan masukan untuk koreksi selanjutnya. Saya menyadari betul keamatiran saya dalam kemampuan menerjemahkan karya berbahasa Inggris, lebih-lebih yang termasuk kategori sastra seperti itu....

<< October 2007 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31

Menjadi manusia... Itulah judul blog saya ini. Mudah-mudahan kata-kata ini tidak menjadi slogan semata. Semoga menjadi komitmen saya secara pribadi dan menjadi renungan dari sobat semua. Saya berpendapat bahwa manusia sejati adalah manusia yang telah mengenal dirinya. Mengenal diri adalah pengetahuan akan diri yang komprehensif. Pengenalan tentang siapa sang diri, tujuan keberadaan sang diri, dan bagaimana seharusnya sang diri dalam proses kehidupan ini. Pengenalan ini dapat terealisasi dengan baik manakala seorang manusia berada dalam kemerdekaan. Esensi kemerdekaan di sini adalah kemerdekaan jiwa. Yaitu kemerdekaan untuk berpikir dan bersikap. Sedangkan kemerdekaan bertindak adalah di luar esensi ini karena menyangkut relasi dengan pihak lain. Ketika terjadi relasi maka terjadi hukum. Sehingga jelas kemerdekaan dihadapkan pada keterikatan. Persoalan ini perlu kita bicarakan di kesempatan lain. Saya mengundang sobat semua untuk saling berbagi dalam tema besar "menjadi manusia" dalam blog saya ini. Blog ini terbuka bagi siapapun yang termasuk kategori manusia dan tertarik "menjadi manusia". Maafkan saya jika terlalu berlebihan. Selamat menyimak...


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed

Wednesday, October 11, 2006
Sekuel I Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"

WHEAT AND BREAD

 

What does the wheat know of the bread,
Except to dread;
Though the bread is far ahead,
Wheat calls it dead.
On this matter everything is said,
Put it to bed.
Unless the bread has a message to spread,
A path to tread.
Put not the bread into your mouth, but instead,
Let soul be fed;
Thus transmute your wheat to bread,
Make gold from lead.

If on the path you are bruised, bloody, red,
Just look ahead,
The bread too bled, fire and water baptized its head,
Till fears fled.

       

        - JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread".

 

a aya terjemahkan secara bebas (mohon koreksi kalau ada kesalahan) ebagai berikut:

GANDUM DAN ROTI

 

Apakah yang dikenal Gandum tentang Roti,

Selain kengerian;

Walaupun Roti nun jauh di sana,

Gandum menyebut ia (sebagai) ajal.

Tanggapan untuk persoalan ini hanyalah,

Simpan saja persoalan itu.

Kecuali jika Roti mengirim pesan untuk disampaikan,

Satu jalan untuk ditempuh.

Bukanlah memasukkan Roti ke dalam mulut, melainkan,

Biarkan jiwa disuapi;

Lantas ubah Gandum engkau menjadi Roti,

(Laksana) mengubah emas dari timbal.

Jika tatkala menempuh jalan engkau dibuat memar, berdarah, merah,

Coba lihat ke depan,

Roti telah demikian berdarah, api dan air membaptis kepalanya,

Hingga ketakutan lenyap.

 


Posted at 12:44 pm by gamahnnr
Comments (2)  

Sekuel II Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"

AGE AND EXPERIENCE

I was talking to the bread
Had a message to spread.
The bred quietly in my head
Of age and experience said:
"Experience cares not for age
The young bread turns many a page
While old wheat inside silos stays;
In his life the price he pays
Inexperience and stagnation
While the bread passes many a station.
And the price the bread pays
Though hardship in many ways,
Young bread much more than old wheat
Experiences. Wheat spends years in his seat,
Year after year the same repeat
The silos the wheat defeat;
The young bread turns many a page
Experience cares not for age."
  

      - JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread".

UMUR DAN PENGALAMAN

 

Aku berbicara dengan Roti,

Yang memiliki pesan untuk disebarluaskan.

Yang terpelihara dengan tenang dalam pikiranku

Tentang umur dan pengalaman dikatakan:

"Pengalaman tidak pandang umur

Roti muda membuka banyak lembaran baru

Sementara Gandum tua tinggal di dalam lumbung;

Harga yang dibayarkan dalam hidupnya

Kurangnya pengalaman dan kemandegan

Sementara Roti melintasi banyak stasiun

Dan harga yang Roti bayarkan

Meski menempuh berbagai derita,

Roti muda jauh lebih dibanding Gandum tua: Pengalaman.

Gandum menghabiskan tahun-tahunnya di lumbungnya,

Tahun demi tahun hal yang sama terulang

Lumbung yang Gandum taklukkan;

Roti muda banyak makan asam garam

Pengalaman tidak pandang umur."


Posted at 05:37 pm by gamahnnr
Make a comment  

Saturday, October 14, 2006
Sekuel III Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"

WHEAT SPROUT

A grain of wheat was buried in soil
Even in death, for life it would toil,
Eventually its thirst by water quenched
It sprouted roots which to soil clenched
And then a stem that upward grew
Its way out of soil, it somehow knew;
Until finally it burst through the ground
And gladly found light all around;
And in the light it grew tall
Until it was just before fall
When pregnant upon its seat
Gave birth and life to many a wheat.
Until next year from the farmer's spoil
New grain of wheat was buried in soil.

To be truly alive, we must first die
Buried in our soil, trusting we lie
Until our spiritual thirst is quenched by fire
Self-realization our prime desire;
Instinctively grow and ground our root
The divine light, our sole pursuit,
Naturally grow, burst through the ground
Constantly in wisdom ourselves surround.
And in light and love grow and grow
Until the time we instinctively know,
Then inspired, pregnant with passion
Betterment of life, with compassion.
Touch many lives until one will try
To truly live, and first will die.

 

KECAMBAH GANDUM

 

Sebutir gandum terkubur dalam tanah

Bahkan dalam ‘kematian’, seumur hidup dia rela bekerja keras,

Akhirnya oleh air dahaganya terpuaskan

Ditumbuhkannya akar-akar untuk menembus tanah

Kemudian sebuah batang tumbuh tegak

Jalan keluarnya dari tanah, yang bagaimanapun juga telah ia ketahui;

Hingga akhirnya si batang muncul keluar dari tanah

Dan dengan riang gembira mendapati cahaya di sekelilingnya;

Dan dalam cahaya dia tumbuh meninggi

Terus menerus hingga tiba musim gugur

Tatkala ‘mengandung’ (butir-butir gandum) di atas ‘sandaran’nya

Beri kelahiran dan kehidupan pada banyak butir gandum.

Hingga dari hasil panen petani tahun depan, butir gandum baru dikubur di dalam tanah.

 

Untuk dapat hidup sejati, kita harus ‘mati’ terlebih dahulu

Terkubur dalam ‘tanah’ kita, mudah mempercayai dusta kita

Hingga dahaga spiritual kita dipuaskan ‘api’

‘Pewujudan diri’ hasrat utama kita;

Secara naluriah, kita menumbuhkan dan menhunjamkan ‘akar’ kita

Menapaktilasi jejak kita, mengejar Cahaya Ilahi

Secara alamiah ‘wujud diri’ kita  tumbuh, muncul keluar dari tanah

Kemudian secara konstan melingkar di dalam kebijaksanaan.

Dan di dalam cahaya serta cinta tumbuh dan berkembang

Hingga waktunya secara naluriah tahu dan terilhami,

‘Mengandung’ kelebihbaikan hidup dengan penuh derita, dengan penuh keibaan.

Menyentuh (hati) khalayak ramai hingga kelak salah seorang dari mereka akan membuktikan

Untuk hidup sejati, terlebih dahulu harus ‘mati’.


Posted at 11:49 am by gamahnnr
Make a comment  

Sekuel IV Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"

HARVEST SEASON

Harvest season the golden fields blanketed with the golden wheat
Swaying gently, dancing with wind, ripe, mature, ready to eat
Farmer's sickle or harvester, with its blade will kiss the wheat
The plant is touched with kiss of death, but kiss of life the wheat will greet
A life beyond the life of plant awaits the newly harvested wheat
The chafe separated from the grain, to the rhythm of a new beat
In this brutal separation, we mainly follow the grain of wheat
Subjected to many more hardships, but now rests in late summer heat.
When a mother goes to labour it is time to harvest the child
Through the certain death of foetus, a baby on life smiled,
Separation of umbilical cord, a new rhythm of life beating wild
Though many challenges await the baby, in her mother's arms resting mild.
Every life comes to fruition, every project to its harvest
And that, the end of old life, this death perhaps the hardest test
Through this death and this harvest, we find new life must be blest
If subjected to separation, with some pain in life invest
A new start to many more trials, but for progress this the best.

MUSIM PANEN

(Pada) Musim panen ladang-ladang keemasan diselimuti gandum keemasan
Berayun dengan gemulai, menari bersama angin, masak, matang, siap disantap

Sabit dan mesin penuai Petani, bersama mata pisaunya akan 'mencium' sang gandum

Tanaman tersebut 'dibelai' dengan 'ciuman' kematian, namun 'ciuman' kehidupan (baru) akan menyambutnya

Sebuah kehidupan di luar kehidupan (sebagai) tanaman tengah menunggu gandum yang baru dipanen

Kulit (gandum) dipisahkan dari butirannya, menuju irama tempaan baru

Dalam pemisahan brutal ini, umumnya kita (lebih tertarik) mengamati (perjalanan) sang butir gandum

Yang diperlakukan dengan lebih banyak penderitaan, namun sekarang beristirahat dalam panas musim kemarau yang terlambat

Tatkala seorang ibu berusaha keras (melahirkan), ini adalah waktunya untuk 'memanen' anak

Melalui 'kematian' pasti sang janin, seorang bayi yang baru terlahir tersenyum

Terpisah dari tali pusat, sebuah irama baru kehidupan menempa dengan liar

Meski demikian banyak tantangan menunggu sang bayi, dalam pangkuan ibunya (ia) beristirahat dengan tenang

Setiap kehidupan berbuah, setiap pekerjaan dipanen

Dan bahwa, berakhirnya (fase) kehidupan sebelumnya, (yaitu) 'kematian' inilah mungkin ujian tersulit

Melalui 'kematian' dan panen ini, kita mendapati (bahwa) kehidupan baru harus terberkati

Apabila dihadapkan pada perpisahan (dengan berbagai kenikmatan), maka dengan berbagai penderitaan hidup(lah) berinvestasi

Satu awalan baru bagi lebih banyak lagi percobaan (berikutnya), namun untuk kemajuan (hidup) inilah (jalan) yang terbaik

 


Posted at 11:59 am by gamahnnr
Make a comment  

Thursday, August 30, 2007
Refleksi Tentang Iran

MENGAPA IRAN MENARIK BAGIKU?

Sesuatu disebut istimewa pasti ada alasannya. Entah alasannya bersifat pribadi (subyektif) ataupun bersifat obyektif (sesuai kenyataannya, sehingga diterima banyak pribadi). Begitu juga dengan Iran, dia menjadi istimewa, sehingga kemudian menarik bagi saya tentunya dengan sejumlah alasan.

Alasan pertama, sebagai sebuah kesatuan sosial (bangsa dan negara), Iran mampu unjuk diri kepada dunia sebagai kutub alternatif vis a vis kekuatan kutub mainstream Barat. Memang hal ini bukan kekhususan Iran, karena beberapa negara lain juga menunjukkan karakteristik yang sama, semisal Venezuela, Korea Utara dan Kuba. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang membedakan Iran dengan sejumlah negara itu, diantaranya adalah konsistensi para pemimpinnya dalam mengusung kutub altenatif ini, praktis sejak Revolusi Iran 1979. Selain itu, pendekatan Iran dalam mengusung gagasan mandirinya tentang peradaban sangat menarik, karena sangat menonjolkan kemampuan intelektual, bersifat mengajak setiap orang untuk tidak sekedar menerima argumen dominan yang dituduhkan pihak adikuasa dunia. Persoalan ini mengemuka ketika Presiden Mahmoud Ahmadinejad menyodorkan sejumlah argumen tentang kepentingan Iran kepada teknologi nuklir, yang ditentang sejumlah negara Barat yang dikomandani AS. Kemampuan unjuk diri secara elegan ini menunjukkan kokohnya basis teoritis para pemimpinnya terhadap gagasan-gagasan yang diusungnya. Dengan kata lain, gagasan mereka bersifat mandiri, tidak membebek saja, pun tidak membeo sedemikian rupa, kepada para pemimpin adikuasa. Hal ini berbeda secara diametral dengan para pemimpin lain yang hanya bisa mengamini saja segala kemauan para pemimpin adikuasa itu.

Alasan kedua, sebagai kelanjutan alasan pertama, yang besar kemungkinan malah melatarbelakangi kemunculan alasan pertama, adalah kemandirian Iran secara kebudayaan. Sebagai salah satu negara penggagas ide multipolarisme dunia, Iran memiliki akar historis yang kuat dalam kemandirian secara kebudayaan. Sebelum menjadi pelopor kebudayaan Islam, Iran pra-Islam adalah bangsa dengan kebudayaan tingkat tinggi pada zamannya. Pilihan konversi kebudayaan Iran terhadap Islam – berdasarkan fakta sejarah – dilatarbelakangi gerakan intelektual masyarakatnya, disamping karena faktor kekalahan perang dari pasukan Islam Arab. Berbeda dengan kasus Indonesia misalnya, proses konversi agama (baca = kebudayaan) dari Hindu ke Islam lebih disebabkan faktor politik, yaitu bahwa setelah para pemimpin politik dari kalangan bangsawan saat itu melakukan proses konversi tersebut, maka masyarakat (baca = rakyat) pun mengikutinya, sebagai kebiasaan feodalistik yang menempatkan posisi pemimpin politik (baca = raja) sebagai titisan Dewata yang pilihan-pilihannya bernilai benar mutlak. Masyarakat Iran memiliki sikap intelektual yang relatif maju disebabkan kebudayaan yang dibentuknya membuka ruang kreatifitas intelektual. Fakta cerita tentang konversi keyakinan keagamaan Salman Alfarisi memberi tanda tentang ikon intelektualisme tersebut.

Alasan ketiga, karakter kepemimpinan politik di Iran. Hal ini menarik karena sejumlah hal berikut. Pertama, kepemimpinan politik di Iran menonjolkan intelektualitas, moralitas, dan keberanian. Ciri intelektualitas dapat dilihat dari kualitas pemimpin politik di Iran, yang sebagian besar adalah para ilmuwan/akademisi, baik dalam bidang agama ataupun sains-teknologi. Mereka adalah para pemimpin yang telah terbukti dan teruji kecakapannya dalam lapangan ilmu pengetahuan. Kesuksesan mereka pun dalam menduduki jabatan politis lebih disebabkan kualitas kemampuannya dalam keilmuan, bergandengan dengan moralitas dan keberanian.

Ciri moralitas dapat dilihat dari gaya hidup (life style) para pemimpin itu dalam kehidupan publik maupun domestik. Kesederhanaan adalah ciri yang menonjol, yang tentunya memberikan nilai keteladanan kepada rakyat yang dipimpinnya. Kesederhanaan dalam gaya hidup juga yang dapat meredam berjangkitnya penyakit korupsi berjamaah yang melemahkan kekuatan sebuah bangsa – seperti halnya terjadi di Indonesia. Dan manfaat yang paling utama adalah bahwa para pemimpin politik dengan gaya hidup sederhana lebih mudah memunculkan perasaan cinta di hati rakyatnya, dan jenis kharisma yang muncul karena faktor ini memiliki daya pengaruh lebih kuat dari jenis kharisma lainnya.

Ciri keberanian ditunjukkan dengan sikap 'berani beda' dalam bersikap, sebagai wujud kemandirian, kendati berhadapan vis a vis dengan sikap kolektif pemimpin-pemimpin adikuasa. Keberanian hanya dimiliki oleh manusia merdeka, dan rasa takut hanya dimiliki oleh manusia terjajah (baca = budak). Dalam kasus Iran, Imam Khomeini dan Presiden Mahmoud Ahmadinejad menunjukkan bagaimana kualitas keberanian mereka dalam bersikap politik. Keduanya tidak takut dengan resiko yang mengancam hidup dan kedudukan politiknya, yang mungkin diarahkan oleh musuh politik baik dari dalam maupun luar negeri. Tugas utama dalam memimpin (baca = membimbing) rakyatnya ke arah yang benar menjadi prioritas mereka, bukan simpati dan pujian dari para pemimpin adikuasa yang bertabur permata.

Alasan keempat adalah pendekatan Iran dalam mempengaruhi dunia. Kita tahu bahwa dunia saat ini berada dalam pengaruh satu kutub besar, yaitu kutub Barat di bawah komando AS. Sepak terjang AS dalam menancapkan kuku pengaruhnya ke setiap negara dikenal siapapun di muka bumi ini. Peristiwa pergantian rezim di sebuah negara manapun, konflik dan peperangan di wilayah manapun, pilihan kebijakan para pemimpin politik di negara manapun, sebagian besar terjadi karena keterlibatan AS dan sekutunya, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Dan kita tahu pendekatan yang dilakukan oleh AS cs. ini, yaitu melalui tekanan politik, ekonomi dan militer. Bila langkah-langkah tekanan secara politik gagal, maka akan dilakukan tekanan secara ekonomi, sehingga para pemimpin politik sebuah negara akan terpengaruh untuk mengubah kebijakan politiknya. Namun jika tekanan secara ekonomi pun menemui kegagalan, maka AS akan sekuat tenaga mengusahakan pergantian rezim dengan tekanan politik dan ekonomi, dan pada tingkat yang lebih tinggi lagi secara militer (invasi). Berbeda dengan AS, Iran melakukan upaya mempengaruhi dunia bukan dengan cara-cara seperti AS di atas, tetapi dengan pendekatan intelektual dan teknologi. Iran mempengaruhi opini publik dunia tentang isu nuklir misalnya, dengan berupaya meyakinkan dunia bahwa energi adalah masalah yang dihadapi negaranya, dan juga negara-negara lain. Kemandirian dalam menghasilkan energi berbasis teknologi tinggi adalah hak kemajuan negara manapun, tanpa harus dicurigai bermuatan niat jahat semisal untuk memproduksi senjata nuklir pemusnah massal, satu argumen agitatif yang dimunculkan AS cs. secara sepihak. Iran pun pandai memanfaatkan media massa untuk melakukan kampanye gagasan-gagasannya, termasuk dengan melakukan dialog ke berbagai negara, mengajak semua pihak untuk saling bertukar informasi dan saling memahami, alih-alih menjadi bulan-bulanan argumen AS cs. Pendekatan AS cs. menurut saya bersifat mengancam (emosional), sedangkan pendekatan Iran bersifat mengajak (rasional). AS melakukan pendekatan oppressive seperti itu, menurut saya, disebabkan faktor lemahnya basis teoritis-logis dari setiap keputusan/kebijakannya. Artinya, jika dipikir secara waras, kita bisa menemukan kelemahan dasar-dasar logika/rasionalitas yang dibangun dalam menghasilkan keputusan/kebijakannya. Namun karena AS cs. menempatkan kepentingan kapital di atas logika, maka kewarasan pasti sering diabaikan.

Iran, selain tahu maksud dan langkah AS cs. seperti itu, disokong oleh keberanian para pemimpinnya, tampil ke depan, memberitahu dunia tentang perlunya sikap kritis dalam menyikapi setiap keputusan/kebijakan AS cs. Dunia yang multipolar, adalah gagasan positif yang digembar-gemborkan Iran bersama negara-negara kritis lainnya.

Alasan kelima yang menjadi faktor daya tarik Iran adalah viskositas spiritualitas pemimpin dan masyarakatnya. Saya menyebutnya spiritualitas, bukan relijiusitas, karena istilah spiritualitas ini lebih menunjukkan pengertian esensi/hakikat agama(esoteris), sedangkan relijiusitas lebih kepada tatacara/syariat agama (eksoteris). Ciri kentalnya nuansa spiritualitas ini dapat dilihat dalam kecintaan dan kesetiaan mereka pada para pemimpin, penghormatan mereka pada simbol-simbol orang suci, dan nampak juga dalam karakter spiritualitas para pemimpinnya. Ciri ketiga ini bisa dilihat dari karya-karya tulis bertema spiritualitas dari para pemimpin tersebut, serta dari sikap dan tindakan yang lahir dari penghayatan yang mendalam terhadap kehidupan spiritual. Kesederhanaan dalam hidup menegaskan prioritas sikap memenuhi diri dengan kekayaan batin (seperti pengetahuan, kebijaksanaan dan makrifat – transformasi jiwa sehingga bersifat ilahiah) daripada dengan kekayaan materi dunia.




Posted at 02:31 pm by gamahnnr
Make a comment  

Refleksi tentang Gerhana

FENOMENA GERHANA DAN SIKAP KEBERAGAMAAN


Tulisan ini berawal dari kejadian gerhana bulan petang hari ini, Selasa 28 Agustus 2007. Sebenarnya kejadian ini berulang kali saya amati, namun baru kali ini menarik perhatian saya. Sebabnya adalah adanya segelintir masyarakat yang memperhatikan fenomena tersebut secara langsung, begitu mendengar pemberitahuan dari Masjid Pusdai Jabar, persis depan tempat tinggal saya. Jadi, mungkin masyarakat – sebelum pemberitahuan – merasa heran dengan adanya suara takbir bersahutan dari Masjid Pusdai Jabar, dan juga masjid-masjid lainnya. Sebab kedua adalah suara takbiran itu sendiri, yang didominasi oleh anak-anak. Dan sebab ketiga adalah tanggapan-tanggapan sebagian mereka dan ceramah-ceramah di masjid-masjid terhadap fenomena alam ini.

Sebab pertama menjadi menarik karena ternyata masyarakat masih cukup terpengaruh oleh fenomena ini, ditambah dengan sokongan kalangan agamawan (terlihat dari informasi pihak pengurus masjid dan suara takbir yang mengundang rasa penasaran). Artinya masyarakat masih memperhatikan fenomena alam sekaligus imbauan dari kalangan agamawan.

Sebab kedua menjadi menarik karena – sebagaimana juga terjadi dalam kegiatan takbiran Lebaran Puasa dan Lebaran Haji (Kurban) – suara takbiran dari masjid-masjid itu didominasi anak-anak, yang notabene belum mengerti tentang fenomena itu, apalagi bila dikaitkan dengan bentuk maknanya yang dikehendaki agama (baca: kalangan agamawan).

Sebab ketiga menjadi menarik karena muncul tanggapan dari masyarakat dan juga kalangan agamawan yang saya anggap biasa-biasa saja. Tanggapan dari kalangan masyarakat yang biasa-biasa saja – apalagi jika mereka berasal dari kalangan awam/tidak terpelajar/tidak sadar informasi – adalah wajar, namun bila tanggapan biasa-biasa saja itu muncul dari kalangan agamawan menjadi tidak wajar. Contoh tanggapan-tanggapan tersebut adalah bahwa fenomena gerhana ini adalah bentuk kekuasaan Allah yang selayaknya ditafakuri, bahwa fenomena tersebut harus disikapi secara keagamaan, tidak hanya secara ilmiah saja sebagaimana yang dilakukan oleh kalangan sekuler. Saya sendiri sepakat dengan tanggapan ini, namun tanggapan seperti ini belumlah mengena ke esensi dari fenomena gerhana itu sendiri. Menurut pendapat saya, masyarakat perlu diajak untuk merenungkan makna-makna yang lebih dalam dari berbagai fenomena alam – termasuk fenomena gerhana – yang bermanfaat secara langsung bagi kehidupannya, terutama bagi peningkatan kualitas sikap keberagamaannya.

Sebagai contoh, secara alamiah dan ilmiah, fenomena gerhana bulan sudah bisa dijelaskan secara memadai, yaitu peristiwa terhalangnya sinar matahari ke bulan oleh bumi. Jadi posisi matahari, bumi dan bulan adalah segaris. Penjelasan ilmiah yang lebih rumit pun sudah tersedia. Namun sejauh yang saya ketahui, temuan ilmiah dan alamiah ini belum memperkaya temuan kalangan agamawan, untuk meningkatkan kualitas maknanya secara keagamaan. Sebagai contoh pemaknaan dari saya tentang fenomena ini adalah dengan menggunakan metode analogi. Alasan penggunaan metode analogi ini adalah bahwa alam semesta ini adalah sistem makrokosmos (jagad besar), sedangkan diri manusia adalah sistem mikrokosmos (jagad kecil). Secara analog, diri (jiwa) manusia adalah miniatur alam semesta.

Makna pertama, makna individual/konsep hidayah. Peran matahari sebagai sumber cahaya, bumi sebagai penghalang sinar, dan bulan sebagai penerima (pemantul) cahaya bisa dianalogikan dengan Tuhan dalam diri manusia sebagai matahari (sumber cahaya) jiwa, nafsu sebagai penghalang sinar ke cermin jiwa (tindakan/kepribadian/akhlak), dan kepribadian/tindakan sebagai penerima (pemantul) cahaya jiwa. Dari makna ini, maka manusianya Tuhan akan mengendalikan nafsu agar tidak menghalangi jalannya sinar/cahaya Tuhan kepada tindakan/kepribadian/akhlaknya. Sekali nafsu menghalanginya, maka tindakan/kepribadian/akhlaknya akan diliputi kegelapan (tanpa petunjuk), yang berarti dosa.

Makna kedua, makna sosial/konsep bimbingan. Peran matahari sebagai sumber cahaya, bumi sebagai penghalang sinar, dan bulan sebagai penerima (pemantul) cahaya bisa dianalogikan dengan manusianya Tuhan dalam kehidupan masyarakat, setan (manusianya Iblis) yang menghalangi manusia lain (masyarakat) dari kesempatan akses ke sinar/cahaya manusianya Tuhan, dan manusia lain (masyarakat) sebagai penerima/pemantul cahaya dari manusianya Tuhan. Melalui makna ini bisa diperoleh pengertian, bahwa manusia biasa memiliki ketergantungan kepada cahaya dari manusianya Tuhan agar hidupnya tidak diliputi kegelapan. Akses mereka kepada cahaya dari manusianya Tuhan terhalangi dengan keterlibatan manusianya Iblis (setan) dengan produk mental mereka (gagasan, pemahaman, konsep hidup, dsb.) ataupun produk fisik mereka seperti simbol-simbol peradaban material. Berdasarkan pengertian ini, sesungguhnya kedudukan manusia biasa ini (yang memiliki ketergantungan cahaya) sangatlah rentan perubahan, nasibnya ditentukan oleh pihak mana (manusianya Tuhan atau manusianya Iblis) yang paling besar kualitas daya pengaruhnya. Secara praktis, seorang manusia biasa akan menjadi baik jika lingkungannya baik, teman-temannya baik, tetangganya baik, bosnya baik, dsb. Sekali keadaan semua unsur itu bergeser ke arah sebaliknya, maka keadaan manusia biasa itu akan melakukan hal yang sama. Berdasarkan pengertian ini, maka posisi yang paling aman bagi siapapun adalah posisi manusianya Tuhan. Manusia jenis ini memiliki kemandirian dalam menghasilkan cahaya, lebih jauh mereka pun mampu mendistribusikan cahayanya kepada lingkungannya (melakukan bimbingan).

Cara pemaknaan seperti ini bisa diberlakukan juga kepada gerhana matahari, karena pada kedua kasus gerhana (baik gerhana matahari ataupun bulan), sebenarnya peran bumi dan bulan sejajar, yaitu jika tidak sebagai penerima/pemantul cahaya, maka berperan sebagai penghalang sinar. Tidak seperti matahari, keduanya – bumi dan bulan – bukanlah sumber cahaya.


Catatan: Pendapat saya ini bisa saja keliru, silakan dikoreksi. Dan Tuhanlah yang Maha Mengetahui dan selalu benar.


Posted at 02:57 pm by gamahnnr
Make a comment  

Refleksi Tentang Wanita Cantik

WATAK KEINDAHAN WANITA CANTIK


Cerita ini tentang saya sendiri. Cerita tentang efek dari wanita cantik pada diri saya. Saya yang mengagumi – secara khusus – kecantikan wanita, salah satu bentuk keindahan semesta. Memang batasan kecantikan/keindahan dalam hal ini masih bersifat fisik/materi. Meski demikian, kecantikan/keindahan fisik/materi itu tak terhindarkan, karena perspektif materi masih saya miliki (terutama karena mata fisik masih mendominasi fungsi penglihatan). Ok lah bahwa keindahan fisik/materi ini adalah gambaran tentang keindahan non-fisik/immateri, tapi meski demikian, keindahan fisik/materi ini mempunyai efek yang tak bisa dianggap sepele. Panggung sejarah manusia dipenuhi figur-figur wanita cantik yang memainkan peran sebagai pelaku utama jalannya skenario sejarah (ataupun cerita fiksi). Kita bisa menyebutnya beberapa disini: Hawa, Zulaikha, Hera, Helen of Troy, Layla, Sinta (Sita), Juliet, Cleopatra, Dyah Pitaloka, Marylin Monroe, Dewi (istri Soekarno). Pasti ada banyak nama yang tidak terabadikan sejarah, meski peran para wanita cantik itu tidak kecil.

Saya berpendapat bahwa keberadaan wanita cantik di muka bumi ini ada alasan, sebagaimana keberadaan apapun yang lain. Beberapa alasan yang mungkin bisa diungkapkan disini. Pertama, wanita cantik adalah sasaran (obyek) kesenangan seorang pria. Saya menyebutnya sebagai efek seksual. Seorang pria – pada umumnya – selalu menginginkan wanita cantik disampingnya, entah sebagai istri ataupun teman. Secara naluriah, seorang pria memperoleh kesenangan batin dan lahir dari keberadaan wanita cantik di sisinya, yang relatif lebih berarti bila dibanding dengan jika bersama wanita yang secara fisik biasa-biasa saja. Secara reflektif, saya berani mengatakan bahwa kecantikan/keindahan fisik seorang wanita masih menjadi prioritas seorang pria manapun dan di zaman apapun, sehingga termasuk seorang pria modern.

Alasan kedua, wanita cantik adalah batu ujian, atau secara negatif bermakna jebakan/perangkap. Saya menyebutnya efek sosial-politik, karena seringkali dampaknya bersifat sosial-politik. Makna batu ujian ini tidak selalu negatif. Secara positif, seorang pria bisa menjadi lebih kuat dan tangguh dengan motif demi seorang wanita cantik, karena ada kebanggaan/kepuasan sosial yang dirasakannya. Konsekuensinya, keberhasilan dia dalam hidup akan berkorelasi positif dengan motif demi seorang wanita cantik ini. Kalangan agamawan bisa mengartikan sebaliknya, bahwa banyak kasus keberadaan wanita cantik menjerumuskan kaum lelaki pada perbuatan kriminal dan dosa, dan lebih jauh lagi pada peperangan. Namun perspektif ini terlalu sempit, karena sesungguhnya watak keindahan selalu menggoda, dalam bentuk apapun keindahan itu.

Ketiga, wanita cantik adalah representasi keindahan yang paling berkualitas. Saya menyebutnya efek filosofis. Saya yakin bahwa setiap manusia memiliki watak mencintai keindahan. Hampir sebagian besar representasi keindahan di muka bumi ini menjadi berharga. Sebut saja barang-barang tambang seperti emas, perak, dan intan, termasuk hasil kekayaan laut seperti mutiara, juga hasil agro seperti sutera. Semua jenis barang itu memiliki potensi keindahan, dengan atau tanpa sentuhan akhir tangan manusia. Pemandangan alam dan produk teknologi juga memiliki potensi ini. Tapi meskipun semua itu bisa mengambil peran sebagai simbol keindahan, apakah mampu mengalahkan kualitas keindahan seorang wanita cantik? Saya berani menjawab tidak. Bagi seorang pria, wanita cantik adalah simbol terkuat dari keindahan.

Namun apakah perlu kita memikirkan alasan utama keberadaan wanita cantik, sebagai jalan untuk menempatkan persoalan ini dengan benar?

Saya berpendapat bahwa segala alasan yang logis tentang keberadaan wanita cantik bisa diterima tanpa harus dipertentangkan satu sama lain. Ketiga alasan yang saya kemukakan sebelumnya bisa mewakili sebagian diantaranya.

Saya berpendapat bahwa hal penting dari kenyataan adanya wanita cantik adalah perhatian kita (baca: kaum pria) pada efeknya. Sebagaimana dalam segala hal akal harus difungsikan, maka termasuk dalam persoalan ini, bagaimana akal berfungsi dalam mengenali efek keindahan dari wanita cantik, kemudian mengendalikannya secara tepat.

Beberapa solusi bisa diurai disini.

Pertama, dalam mengendalikan efek seksual dari seorang wanita cantik, akal harus mengenali watak hasrat seksual dan tujuan penggunaannya. Watak hasrat seksual adalah bersifat memberi kepuasan sekejap, artinya setelah terpuaskan secara seksual, maka wanita cantik itu sudah tidak memberikan efek seksual lagi. Sedangkan tujuan penggunaan hasrat seksual adalah untuk menciptakan keseimbangan mikrokosmos manusia (baik pria maupun wanita) dan bukan sebaliknya, melahirkan ketidakseimbangan. Kesadaran akan watak dan tujuan hasrat seksual bisa menimbulkan kemampuan pengendalian diri.

Kedua, untuk mengendalikan efek sosial-politik dari seorang wanita cantik, akal harus mengenali watak sosial-politik dan tujuan penggunaannya. Watak sosial-politik adalah kompetisi/persaingan. Sedangkan tujuan sosial-politik adalah pengaturan kehidupan masyarakat (keseimbangan makrokosmos). Artinya, bagaimana caranya menghindarkan efek dari seorang wanita cantik yang bersifat buruk/tidak menguntungkan bagi kekuatan persaingan seorang pria dalam kehidupan sosial-politiknya. Seorang pria yang sadar akan hal ini, akan mendorong efek wanita cantik yang menguntungkan kekuatan persaingannya.

Ketiga, untuk mengendalikan efek filosofis dari seorang wanita cantik, akal harus mampu mengenali watak filosofis dan tujuan penggunaannya. Watak filosofis adalah ketergantungan pikiran/jiwa. Tujuan penggunaan fungsi filosofis adalah untuk membebaskan manusia dari ketergantungan kepada selain dirinya. Menjadi manusia yang merdeka.Artinya, bagaimana caranya menghindarkan efek ketergantungan pikiran/jiwa kepada seorang wanita cantik. Secara sarkastis, relasi ketergantungan ini adalah bentuk keterjajahan pikiran/jiwa. Jika seorang pria pikiran/jiwa/hatinya tergantung pada seorang wanita cantik, maka sesungguhnya dia tengah menjadi seorang budak yang tidak merdeka. Pada tahap ini akal telah menjadi pelayan/kasim bagi perasaan. Seorang pria yang memiliki kesadaran akan efek filosofis dan tujuan penggunaannya pasti mampu mengendalikan dirinya.



Catatan: Pendapat saya ini bisa saja keliru, silakan dikoreksi. Dan Tuhanlah yang Maha Mengetahui dan selalu benar.



Posted at 03:04 pm by gamahnnr
Comments (2)  

Refleksi Idealisme vs Pragmatisme

IDEOLOGI

KESEMPURNAAN KEMANUSIAAN


Ya Tuhan, saya terlilit jiwa satwa. Saya bekerja demi uang, bukan idealisme. Cita-cita lama saya kandas di tengah himpitan ekonomi keluarga. Kesedihanku bukanlah atas pengorbanan kerja kerasku, tapi bahwa aku menapaktilasi jejak banyak pendahuluku, yang mengorbankan idealisme demi keselamatan keluarga dan pribadi. Menggadaikan kebesaran idealisme demi sesuap nasi. Tapi bagaimanapun, aku memiliki banyak alasan untuk melakukannya. Aku bersembunyi di baliknya. Demi mobilitas horisontal dan vertikal sosial lah, demi akses kebebasan lah, demi harga diri lah, demi kemakmuran lah. Namun jujur kuakui, nuraniku meredup, solidaritas sosialku berkurang, aku menjadi predator ekonomi, bercita-cita tinggi untuk menjadi orang kaya adalah prioritas pertama, meski harus mengabaikan kemiskinan manusia sekitar. Aku semakin individualis atau keluargais. Orang lain bukan urusanku!

Jiwa demikian tidak terjadi sebelumnya. Panggilan kepahlawanan adalah energi terbesarku. Jiwa dan ragaku kupersembahkan bagi pergulatan umat manusia untuk meraih kesempurnaannya. Memang tak pernah sekalipun jiwaku rela mengejar materi, tapi himpitan beban sehari-hari membiasakanku berkompromi, jadilah aku terbiasa demikian!

Demi Tuhan, kusaksikan banyak pemuda di negeri tercinta ini seperti aku! Mereka memberi perhatian besar pada kepentingan keluarganya, dan abai pada nasib masyarakatnya, yang membesarkannya. Kukatakan masyarakat turut pula membesarkannya, tidak hanya keluarganya saja, adalah fakta nyata! Ingin kukatakan bahwa kebesaran (perbaikan nasib) kami, para pemuda negeri ini, adalah hasil eksploitasi masyarakat dan alam kami! Kamilah – yang pernah bercita-cita memperbaiki nasib masyarakat kami, tapi kemudian terjebak pada kepentingan keluarga kami –yang secara kolektif menyebabkan bangsa kami ini miskin, dan semakin miskin.

Telah kami biasakan diri kami berapologi, menjustifikasi sikap dan tindakan kami, namun hati kecil kami tak bisa dibohongi: kami, para pemuda negeri ini, jelas-jelas bersalah! Kami takut miskin! Kami ingin hidup nyaman! Kami takut mati sia-sia! Itulah motif yang nyata. Perlahan tapi pasti, panggilan kepahlawanan dalam jiwa kami, yang bak sinar itu, meredup bahkan padam. Kami semakin jauh dari jalan kepahlawanan itu. Berlalu bersama waktu, demikian juga yang terjadi pada para pendahulu kami, kami tak pernah lagi kembali ke jalan itu. Kami telah terbiasa memperhatikan keluarga kami, namun mengabaikan bangsa kami.

Ingin sekali aku berikrar: Kami tak ingin seperti mereka, para pendahulu kami yang gagal kembali ke jalan kepahlawanan itu! Orang tua kami yang gagal!

BERUBAH, itulah kuncinya. Kami harus berubah. Kami harus mengubah cara berpikir kami, kemudian mengubah sikap dan tindakan kami.

Kami harus berpikir bahwa, seorang pemuda pahlawan haruslah memberi perhatian kepada bangsa (umat manusia) jauh lebih besar dibanding kepada keluarganya.

Agenda utamanya adalah pergulatan kemanusiaan keseluruhan, bukan pergulatan ekonomi keluarga.

Tindakan praktis:

  1. Jangan mencuri apapun dari umat manusia (bangsa)
  2. Jangan mementingkan keluarga dibanding umat manusia (bangsa)
  3. Jangan takut miskin
  4. Jadilah pahlawan kemanusiaan
  5. Jangan abaikan kepentingan umat manusia (bangsa)

 

Bandung, Juli 2006


Posted at 10:29 pm by gamahnnr
Make a comment  

Refleksi Menjadi Budak Kapitalis

Sejumput Rumput Depan Mulut

 
Hari-hari silih berganti dalam kehidupan seekor keledai

Tubuh terikat di penggilingan padi

Dibebani balok kayu pemutar penggilingan

Dipaksa melihat hanya ke depan

Sekali bergerak, penggilingan berputar

Mengubah padi menjadi beras

 
Duhai alangkah kasihan dia!

Apakah yang diharapkan dari kerjanya?

Sejumput rumput muda yang diikat di depan mulutnya

Selangkah digapai, selangkah bercerai

Upah atas kerjakerasnya

Hanya sejumput rumput tua dan seember air sumur keruh

 
Keledai dungu mengejar rumput muda impian

Memeras hasrat, mengucurkan keringat

Menganugerahi Tukang giling berkarung-karung beras

Dipuaskan dengan upahnya

Dibuat penasaran dengan rumput muda impian

 

Bandung, 16 Oktober 2006

Oleh: Keledai Sakit


Posted at 10:38 pm by gamahnnr
Make a comment  

Refleksi Sufisme Praktis

Persaudaraan Sufistik


Pentingnya persaudaraan sufistik. Dimulai dengan membina hubungan persaudaraan antara tarekat-tarekat sufi yang ada di Indonesia. Gagasan yang dibangun adalah bahwa Sufisme adalah satu genre dalam cara memahami dan mengamalkan Islam yang berakar pada tradisi kenabian. Semangat yang diusung sufisme adalah persaudaraan Islam, Islam yang tidak dikacaukan dengan dikotomi besar Sunni dan Syi'ah. Islam yang berakar pada tradisi kenabian, yaitu teori dan praktek dalam dua dimensi, material (dunia) dan spiritual (akhirat).

Jumlah tarekat-tarekat sufi dan pengikutnya di Indonesia cukup banyak, dan mereka hidup dalam masyarakat secara kultural (tradisional). Beberapa nama tarekat yang saya kenal di Indonesia, khususnya di Tatar Sunda, misalnya: Al-Qadiriyyah, Naqsyabandiyyah, Idrisiyyah (sebelumnya dikenal dengan Wara'iyyah), 'Alawiyyah dsb. Beberapa alasan pentingnya eksistensi persaudaraan sufistik ini diantaranya:

Pertama, krisis moralitas dan spiritualitas yang terjadi di masyarakat. Keterpurukan moralitas dan spiritualitas selalu berhubungan. Keduanyalah yang melahirkan kejahatan, baik dalam skala individu maupun dalam skala sosial. Ini berakar pada jiwa yang tidak terbina dengan baik. Islam yang sesungguhnya berakar pada moralitas dan spiritualitas menjadi panacea.

Kedua, krisis politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan di masyarakat. Krisis adalah efek yang dilahirkan oleh krisis yang pertama.

Ketiga, evolusi perjalanan kesempurnaan manusia menuju Tuhannya. Ini adalah tujuan seluruh usaha amal islami, mengantarkan manusia kepada kesempurnaannya.

Dari sisi material, baik manusia kaya maupun manusia miskin sering sama-sama tersiksa. Manusia kaya tersiksa karena kelebihannya, sedangkan manusia miskin tersiksa karena kekurangannya. Hal ini disebabkan ketersiksaan secara spiritual. Bagaimana bisa? Ya, karena ketersiksaan dan keterbebasan dirasakan secara spiritual. Jiwa yang dipuaskan oleh menikmati materi akan tersiksa, begitupun jiwa yang didorong untuk meraih materi sekeras-kerasnya akan tersiksa.


Bandung, 24 Agustus 2006

 


Posted at 10:41 pm by gamahnnr
Comments (2)  

Next Page