 |
Salam Manusia Merdeka! Sobat semuanya...Perkenalkan, nama saya Gama Harta Nugraha Nur Rahayu. Teman-teman biasa memanggil saya Gama. Saya punya minat belajar teosofi atau hikmah/kebijaksanaan. Saya ingin berbagi dengan siapapun dalam hal pengetahuan dan pengalaman seputar kehidupan, tentang perjalanan menjadi "manusia". Saya berpendapat bahwa betapa sulitnya menjadi "manusia", tatkala kita benar-benar menghayati makna manusia itu sendiri. Saya sekarang sedang tertarik menerjemahkan beberapa karya Jalaluddin Rumi, seorang penyair mistik dari Turki. Sobat semua bisa melihat hasilnya di blog saya ini sekaligus memberikan masukan untuk koreksi selanjutnya. Saya menyadari betul keamatiran saya dalam kemampuan menerjemahkan karya berbahasa Inggris, lebih-lebih yang termasuk kategori sastra seperti itu....
Menjadi manusia...
Itulah judul blog saya ini. Mudah-mudahan kata-kata ini tidak menjadi slogan semata. Semoga menjadi komitmen saya secara pribadi dan menjadi renungan dari sobat semua. Saya berpendapat bahwa manusia sejati adalah manusia yang telah mengenal dirinya. Mengenal diri adalah pengetahuan akan diri yang komprehensif. Pengenalan tentang siapa sang diri, tujuan keberadaan sang diri, dan bagaimana seharusnya sang diri dalam proses kehidupan ini. Pengenalan ini dapat terealisasi dengan baik manakala seorang manusia berada dalam kemerdekaan. Esensi kemerdekaan di sini adalah kemerdekaan jiwa. Yaitu kemerdekaan untuk berpikir dan bersikap. Sedangkan kemerdekaan bertindak adalah di luar esensi ini karena menyangkut relasi dengan pihak lain. Ketika terjadi relasi maka terjadi hukum. Sehingga jelas kemerdekaan dihadapkan pada keterikatan. Persoalan ini perlu kita bicarakan di kesempatan lain. Saya mengundang sobat semua untuk saling berbagi dalam tema besar "menjadi manusia" dalam blog saya ini. Blog ini terbuka bagi siapapun yang termasuk kategori manusia dan tertarik "menjadi manusia". Maafkan saya jika terlalu berlebihan. Selamat menyimak...
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|
 |
 |
Thursday, August 30, 2007
Refleksi tentang Waktu dan Hidup
Tentang Waktu:
Menurut
saya, sih, waktu bergantung pada adanya gerak...Jadi yang ada/eksis adalah
gerak. Ini biasanya ada dalam studi tentang wujud (ontologi).Waktu menjadi
satuan gerak...Gerak sendiri bergantung pada alam...sebab ia mengada karena
adanya existent thing (being/bagian dari alam) yang bergerak.Jadi gerak hanya
menunjukkan potensi being yang mengaktual.Jadi, eksistensi gerak pun bergantung
pada alam.Lantas, karena alam itu memiliki banyak dimensi...maka sifat geraknya
pun berbeda.Alam dengan dimensi fisik memiliki sifat gerakan yang serial
(berurutan). Namun, alam dengan dimensi metafisik memiliki sifat gerakan yang
gradual (menaik-menurun). Karenanya, alam fisik tidak mengenal tingkatan,
sedangkan alam metafisik mengenal tingkatan (leveling).Kembali pada waktu.
Waktu pada dimensi fisik menjadi satuan bagi gerak fisik. Waktu yang terdiri
dari detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad dlsb. menjadi satuan
bagi gerak anggota tata surya kita. Karena kita adalah subsistem dari tata
surya maka kita pun bergantung pada waktu itu. Tapi tentunya kita yang
fisiknya. Jadi waktu yang sesungguhnya?
Tentang Hidup:
Menurut
saya, hidup adalah eksis/mengada. Sesuatu yang eksis, maka dia hidup. Sesuatu
yang eksis ini di dalam dirinya mempunyai potensi. Potensi ini menjadi aktual
karena adanya gerak. Potensi fisik menjadi aktual dengan gerak fisik. Potensi
metafisik menjadi aktual dengan gerak metafisik. Masing-masing memiliki media
aktualisasi. Karena itu, meski media fisik kita sudah tidak berfungsi (mati),
media metafisik kita tetap berfungsi. Namun kemampuan kita mengaktualisasi
kedua media itu dilakukan sejak kita eksis di alam (tercipta). Dan
ketidakmampuan kita mengaktualisasi media metafisik akan mempersulit eksistensi
kita di alam metafisik, lebih-lebih setelah media fisik kita mengalami mati.
Karena itu, menurut saya, hidupnya manusia lebih pada hidupnya media
metafisiknya, baik saat media fisiknya masih eksis ataupun setelah tidak eksis
lagi.
Selanjutnya,
kemampuan mengaktualisasi media metafisik (=gerak metafisik) menentukan
tingkatan eksistensi kita di alam metafisik. Terminologi surga dan neraka
menurut saya untuk menunjukkan adanya tingkatan eksistensi itu, meskipun dalam
skala ekstrim. Karenanya, sangat mungkin secara akal terjadi pergerakan antar
level itu, meskipun saya percaya ada yang dinamakan level abnormal, misal:
level Nabi yang berada di level surga kemudian jatuh ke level neraka, atau
level Iblis yang neraka jatuh ke level surga. Tapi manusia bisa bergerak dalam
spektrum level itu. Logikanya bisa dengan logika gradasi (tahapan). Gerakan
dalam spektrum itulah proses hidup terjadi. Dan itu bersifat abadi, sepanjang
Tuhan masih memberikan eksistensi (kehidupan) kepada makhluknya. Dan Tuhan
adalah Eksistensinya eksistensi, Hidupnya hidup, Sumbernya eksistensi,
Sumbernya hidup.
Catatan: Trims buat Pak
Indra Sofyar, teman diskusi saya di Inowa.
Bandung, 19 April 2006
Refleksi tentang Cinta Bunda
Duhai Bunda...
Adakah cinta makhluk terhadap
makhluk
Melebihi cintamu terhadap
anakmu
Adakah kasih makhluk terhadap
makhluk
Melampaui kasihmu terhadap
anakmu
Adakah sayang makhluk
terhadap makhluk
Melampaui sayangmu terhadap
anakmu
Jenis cinta apakah itu
Jenis kasih apakah itu
Jenis sayang apakah itu
Sampai-sampai Tuhanku
menggandengkan ridha-Nya dan murka-Nya
Berdampingan erat dengan
ridhamu dan bencimu
Cintamu, kasihmu, sayangmu...
Sebentuk keajaiban cinta,
kasih, sayang di atas Buana
Hanya cintaku, kasihku,
sayangku kepadamu sepanjang hayatku
Sebentuk balasan maksimal
yang tetap jauh tak setimpal
Dalam kesyahduan malam cinta
ini...
Kuhaturkan syukurku dan
penghormatanku
Dengan harapan ridhamu atasku
Adakah pengorbanan makhluk
terhadap makhluk
Yang lebih besar dari
pengorbananmu terhadap anakmu
Adakah pelayanan makhluk
terhadap makhluk
Yang lebih tulus dari
pelayananmu terhadap anakmu
Adakah kesabaran makhluk
terhadap makhluk
Yang lebih penuh dari
kesabaranmu terhadap anakmu
Pengorbanan jenis apakah itu
Pelayanan jenis apakah itu
Kesabaran jenis apakah itu
Hingga Penciptaku menjadikan
syukurku kepadamu
Sebentuk kewajiban di samping
syukurku kepada-Nya
Pengorbananmu, pelayananmu,
kesabaranmu...
Sejenis keajaiban di atas
Mayapada
Hanya dedikasiku kepadamu sepanjang
hidupku
Sebentuk balasan maksimal
yang tetap jauh tak setimpal
Dalam kesyahduan malam pengaduan
ini...
Kupersembahkan syukurku dan
penghormatanku
Dengan berharap sangat atas
maafmu...
Dengan harapan ridhamu atasku
Bdg, 09/05/06, Hayy_Yakzan
Refleksi tentang Idealisme
Dunia Idealku
Apa jadinya jika intelek universal menjadi penguasa bumi?
Lihatlah komentar warga kebun binatang manusiawiku.
Keena, burung phoenix-ku, percaya bahwa dunia ideal akan tercipta. Dunia
yang diimpikan setiap orang. Dunia tanpa kesenjangan ekonomi, tanpa para despot.
Monic, burung daraku, yakin setiap burung akan berbagi pakan tanpa perlu
rebutan market share dan passive income.
Pirange, burung merakku, beralasan bahwa setiap kandang di lima benua
akan selalu merasa cukup, sebab mereka tidak makan dengan tujuh perut lagi!
Lipstic, cenderawasihku, memastikan bahwa setiap tanah dan air telah
utuh, murni, seperti mata air pegunungan sebelum masuk ke setiap rumah dan
terdampar di banyak septic-tank, yang
telah lama meracuni cacing-cacing hingga gila.
Beauty, kucing betinaku, menjamin bahwa setiap yang mirip Keena tak akan
lagi menjadikan daging pipi dan payudara sebagai kiblatnya!
Spider, laba-laba seniorku, yang tetap sufistik dan sedang belajar
meluaskan gua Plato, bersikeras bahwa daging-daging kapital hanya laris di
mulut burung bangkai, si Materi, yang hilang keburungannya, dan dikenali hanya
dari bulunya, riwayatnya kelak hanya abadi dalam tulisan!
Mereka telah tahu jalan! Burung-burungku telah sampai!
Satu mereka bagiku lebih baik dari sejuta mazda!
Jangan meludahiku, mereka telah menjadi burung apiku!
Merekalah tentara yang akan membuka kedok anjingku, si Globalist, yang
lidah tak pernah puasnya selalu menjulur ke penjuru negeri!
Merekalah pasukan pembawa bara yang akan membakar tinja kambingku, si
Orator dan si Vokalis, yang mengembik-ngembik di kandang penuh rumput stocks, bonds, dan amplop.
Sayu, lebah maduku, yang telah menyerap api Keena, berjanji untuk
mengganti tinja-tinja itu dengan madu jernihnya, kecemerlangan pemikiran tanpa
distorsi, biar warga semesta merasakan sengatan manisnya.
Faqir, macan tutul mistikku, yang telah memahami beda rasa antara Mall
dengan gua Hira’, menghimbau agar setiap warga bangga memilih jalan kefakiran.
Dia yakin bahwa yang diperangi Al-Musthafa bukanlah kefakiran atau kemiskinan
material, tapi sumbernya, yaitu kefakiran dan kemiskinan spiritual. Pada si
kaya, dia menjelma sebagai Raja tamak dengan tujuh perutnya yang menindas
dengan senjata sistem ekonominya. Pada si miskin, ia muncul dalam rupa Pengemis
yang senantiasa berputus-asa dalam kemalasan. Bagi keduanya, cinta dunia dan
takut mati adalah akarnya. Dia menyarankan agar setiap orang menempuh jalan
kemiskinan material, bukan karena kesialan, tapi karena pilihan, melepas jubah
suteranya, dan menggantinya dengan jubah kasar. Dan kutahu, Faqir selalu bangga
dengan jubah tutul kemiskinannya. Dia tahu bahwa tempatnya harta adalah Bait
al-Maal, bukan tubuhnya dan apalagi hatinya, yang adalah Bait Allah, Rumah
Tuhan.
Whuhu, burung hantuku, yang senantiasa bangun malam dan mendendangkan
kerinduan akan kekasihnya dengan kicau misteriusnya, menjamin bahwa malam bagi
dunia ideal itu adalah malam-malam pengantin, saat mata para pecinta tak
henti-hentinya mengagumi kekasih tercintanya di balik kelambu, dalam basuhan air
mata kerinduan. Menunggu saat-saat pasti kemesraan dalam penyatuan.
Dalam dunia itu ada cinta, damai, keadilan, persamaan, penghargaan,
jalan, syahdu, rindu, malu, kesederhanaan, kasih, sayang, kemurnian........
Dan itu semua menjadi barang tercecer........
Dan inilah dunia yang sesungguhnya manusiawi.
Jogjakarta, 6 Januari 2004
The Way of Love
Manusia (the oppressed people) menderita. Bumi mengaduh. Perang berkecamuk,
korban bergelimpangan.
Manusia terbelenggu kebodohan,
termiskinkan secara struktural. Homo
homini lupus. The oppresser terbelenggu
hawa nafsunya.
Manusia kehilangan esensi dirinya. Imbalance is everywhere.
Siapa yang ‘kan merasakan? Siapa
yang ‘kan peduli?
Orang-orang yang jiwanya dipenuhi cintalah
yang ‘kan peduli. Rasa mereka sedemikian lembut, merekalah saraf-saraf bagi
kulit kemanusiaan.
Jalan cinta adalah jalan universal.
Esensi jalan kebenaran.
Cintalah yang memuliakan manusia.
Mempersaudarakan manusia. Membahagiakan manusia. Mempertemukan manusia pada
tujuan pencariannya akan kebenaran dalam kehidupan.
Cintalah yang memandang manusia lain
sebagai sesama yang sedang dalam pencarian kebenaran. Dengan cinta, seseorang
mencintai para pencari kebenaran, bukan malah membencinya. Dengan cinta pula,
mereka berkomunikasi tentang pengetahuan dan pengalaman pencarian
masing-masing. Dan ‘komunikasi pembelajaran’ ini menghasilkan khazanah
pengetahuan dan pengalaman yang baru, yang lebih berkualitas.
Ikutilah aku, jalan cinta. Tuhanlah
pemimpin jalan ini. Atas dasar cinta, Dia turunkan wahyu. Setiap agama yang
benar adalah ajaran cinta. Kasih, sayang, rahmat, keselamatan, kedamaian adalah
muatan-muatannya. Setiap pemikiran yang benar adalah ajaran cinta. Setiap
pemikiran, budaya, agama yang bertentangan dengan ajaran cinta universal adalah
ajaran benci, kepalsuan belaka, pengkhianatn keji terhadap ajaran cinta.
Pemikiran, budaya, agama, apapun itu,
yang menghancurkan kemanusiaan – jati diri kebebasan dan kemuliaan, adalah musuh
universal para pecinta.
Cinta punya nature sendiri, dan bersifat universal.
Pendekatan terbaik di jalan cinta adalah
pendekatan hikmah, mistik, spiritualitas. Dialah buah atas perjalanan
sebelumnya melewati berbagai ranting, cabang dan akar yang berbeda-beda, yang
juga memiliki nature sendiri-sendiri yang harus dikenal oleh para penempuh
jalan.
Dia mempunyai bahasa yang berbeda.
Bahasanya bukan bahasa ranting, cabang, maupun akar. Bahasanya adalah bahasa
buah.
Temanya bukan tentang zat-zat kimia,
mineral dan sari-sari makanan. Temanya adalah kemanisan.
Jogja, 29 Januari 2004
Wanita Adalah Lubangmu Wanita adalah
lubangmu. Tempat kamu masuk dan kemudian keluar berteriak, serukan kenikmatan
penyatuan.
Wajah rupawan wanita itu adalah titik
berangkatmu! Titik syariat. Jika kaujadikan itu titik akhir, kau akan berhenti
di situ. Dan keriput akan melukai harapan kesempurnaanmu.
Cadar yang kaututupkan
pada wajahnya, karena kecemburuanmu agar tak dinikmati mata para keledai perampok
adalah buah perdana perjalananmu. Titik etika, titik akhlak. Dari sinilah kau
tak lihat lagi wajah indah itu, tapi cadar indahlah penggantinya. Wajah
kehormatan, kewibawaan dan kemuliaan! Jika kaujadikan titik akhir, kau akan
berhenti di situ. Dan selingkuh matanya akan mencederai harapan kesempurnaanmu.
Aura wajah yang
memberi makna dan nilai pada wajah dan cadar adalah titik akhirmu. Titik
hakikat. Dialah yang jujur, membuka kebohongan tawanya pada sedihnya. Dialah
yang suci, yang tak sudi dibeli matanya untuk selingkuh. Dialah hakim yang
menghukum perbuatan matanya itu dengan air matanya. Padanya tak kaujumpai
keriput, sebab ia dari cahaya.
Pada wajah wanitamu
itu ada wajah material, kekasih materialmu.
Pada wajah wanitamu
itu ada wajah moral, kekasih moralmu.
Pada wajah wanitamu
itu ada wajah spiritual, kekasih spiritualmu.
Pada wajah wanitamu
itu ada wajah kesempurnaan.
Duhai wanita pujaanku, di semua titik
inilah kuingin bercinta denganmu! Adakah dirimu seperti itu? Di manakah dirimu?
Darimu kukejar
kesempurnaan itu. Bukan kesempurnaan tipuan. Dan bila tak ada seperti itu pada
dirimu, sesallah diriku. Biarlah kucari wajah kesempurnaan itu pada wajah lain.
Sebab pada setiap wajah ada ketiga titik itu. Bukankah kesempurnaan universal
menitipkan diri pada kesempurnaan-kesempurnaan parsial segala sesuatu. Wajah
pelangi, wajah bintang, wajah mushaf, wajah suara, wajahku. Semuanya hanyalah
dititipi. Sewajarnya bila semua berbicara tentang sang penitip, memperlihatkan
kesempurnaan parsialnya agar kesempurnaan universial terlihat dan
memperlihatkan diri. Kecuali pada wajah buruk rupa, yang menakuti cermin. Yaitu
wajah yang telah rusak. Pada semua atau sebagian titiknya. Sebab dia telah
culas, mana mungkin dipercaya kekasih!
Jogja, 15 Januari 2004
POLITIK
Pemilu sudah dekat. Setiap kita berharap besar bahwa Pemilu
kali ini secara positif akan memberikan perubahan besar pula bagi kehidupan
bangsa dan negara kita. What is to be done? Kita butuh revolusi. Ini
adalah jawaban tegas bagi mental kita yang lembek. Reformasi dengan model
sekedar people power berbentuk aksi massa seperti sebelumnya nampak
tidak efektif. Kita butuh people power dalam bentuk lain. Yaitu revolusi
jiwa. Di dalamnyalah bersarang burung pemikiran, spiritual dan moral. Kita
butuh revolusi jiwa rakyat kita.
Ada orang bilang, bahwa untuk berjuang di bidang politik
yang muaranya pada usaha perubahan kehidupan bangsa dan negara, haruslah
dikerjakan dengan membuat parpol atau setidaknya masuk ke sebuah parpol yang
ada. Tapi bagi saya, yang percaya lebih kepada bagaimana saya, daripada di mana
saya, lebih menekankan pada usaha massif seluruh komponen masyarakat. Memang
dari sisi kerja, cara parpol yang terorganisir bisa dipakai. Namun, dengan cara
sederhanapun setiap kita bisa ‘bekerja’. Keyfactor-nya adalah bahwa kita
punya ‘visi dan misi politik’. Bisa jadi ‘visi dan misi politik’ kita ini
selaras dengan ‘visi dan misi politik’ sebagian parpol yang ada, atau
sebaliknya. Namun itu tidak masalah, setiap kita harus ‘melek politik’ dan
‘berpolitik’. Harapan besar akan perubahan besar di muka, adalah tanggung jawab
setiap kita. Jangan pernah menyerahkannya pada orang lain. Setiap orang hanya
akan memikul apa yang diperbuatnya sendiri. Jadi jangan hanya bisa salahkan
orang lain, beranilah salahkan diri sendiri!
Landasan hal ini sungguh jelas. Kita adalah muslim yang
hanya berserah diri pada Tuhan. Tuhan, setelah kita pun berani, memberi kita
amanat ‘kehendak bebas’ – yang memang kita dibekali potensi untuk layak menerima
– yang tak berani diambil oleh para gunung dan warga semesta lainnya. Dan kita
‘dipersilahkan’ menggunakannya, dengan syarat ‘bertanggungjawab’. Dan ukuran
‘kebertanggungjawaban’ itu adalah berdasarkan kepatuhan kita pada kaidah Tuhan.
Kaidah Tuhan adalah kebenaran tunggal yang pasti. Tapi ia bukanlah persepsi
agama yang bertaburan distorsi. Persepsi yang selalu jernih dan tanpa distorsi
pasti selalu ada, ini dijamin oleh Tuhan, dan terformalkan dalam teks Qur’an
kita. Tapi ia bukan – sebagaimana dipahami awam, yaitu sekedar kelanggengan
teks suci sebentuk mushaf saja – tetapi sungguh-sungguh persepsi kebenaran yang
hidup dalam jiwa suci para orang suci. Dan sebagai makhluk spiritual, penerima
ruh Tuhan, kita semua berpotensi menjadi orang suci. Kuncinya jelas, kita harus
menyucikan jiwa kita, sehingga kebenaran suci mau bersarang padanya. Bukan pada
kesucian / kebersihan robot supercanggih yang selalu kita mandikan ini, yang
jelas cuma tanah dan air.
Dan politik adalah kegiatan mengatur urusan manusia. Dan
setiap kita harus peduli secara aktif. Jangan pernah gadaikan diri kita pada
manusia-manusia bejat yang secara kejiwaan sama dengan anjing atau babi
(berjiwa binatang), sebab pilihan salah ini sesungguhnya mencerminkan seperti
apa juga kita secara kejiwaan.
Lalu apa yang harus dilakukan. Untuk melakukan apapun kita
butuh persiapan. Berikut adalah tahapan persiapan. Pertama, jadilah anda
orang suci dengan menyucikan jiwa anda. Suci pemikirannya, dalam arti berisi
kebenaran tanpa distorsi. Tengok kembali ‘file-file data’ dalam pikiran anda.
Hapus virus di dalamnya. Wujudnya terlihat pada kesucian moral anda.
Terjemahkan pikiran-pikiran suci ini pada setiap respon terhadap isu-isu yang
berkembang. Pikiran-pikiran ini akan menjadi ‘tentara-tentara Revolusi’ yang
akan menginvasi tanah jiwa rakyat. Rakyat akan menanami tanah jiwa mereka itu
sehingga mereka sendiri akan memanen hasilnya. Karena itu, nanti kita harus
kirimkan ‘tentara-tentara’ itu dengan cara anda berbicara kepada rakyat dengan
apapun media yang tepat. Kedua, kenalilah orang suci, dengan mencari informasi
tentangnya. Bantulah mereka, dan bertekadlah untuk mempromosikan keberadaan
mereka dan pikiran-pikirannya. Dan pilihlah mereka sebagai pemimpin anda
sendiri. Ketiga, beranilah mati untuk tujuan ini. Jangan takut mati,
sebab ia hanya transisi ke sekolah jiwa yang lain, tak lebih. Jiwa kita takkan
pernah mati, kecuali kita memilih ‘mematikannya’ sendiri.
Berikutnya adalah tahapan aksi. Secara teknis, apa yang
harus kita lakukan setelah persiapan ‘penyucian jiwa’ tersebut? Pertama, jadikanlah
diri anda instrumen utama bagi ‘kerja suci’ ini. Jadikan setiap pasukan organik
anda – yaitu mata, mulut, telinga, tangan, kaki bahkan keringat anda – sebagai semacam
media massa yang senantiasa bekerja lembur.
Kedua, bicaralah politik di setiap kesempatan yang mungkin, dengan
siapapun, sepanjang rajamu – yaitu akal sehatmu – mengiyakan / menimbang tepat.
Ketiga, jadikan setiap tempat sebagai mimbar kampanye, bahkan masjid
sekalipun. Kita berharap saudara-saudara di agama lain juga sama. Dasar
pemikirannya jelas, rumah ibadah adalah rumah kebenaran, rumah Tuhan. Tuhan
adalah kebenaran itu sendiri, dan senantiasa berpihak pada kebenaran, blok
Tuhan. Maka pemihak kebenaran adalah pemihak Tuhan. Suara kebenaran harus masuk
ke setiap rumah lainnya. Begitupun rumah tinggal kita, rumah makan, dan
rumah-rumah (tempat orang berkumpul) lainnya.
‘Kerja suci’ ini ibarat angin yang akan membawa harapan
perubahan besar kita. Angin inilah yang kita buat dari suara-suara kebenaran
dari jiwa suci kita. Ingatlah kaidah logis Tuhan, siapapun menanam, maka ia
akan memetik hasil.
Singkatnya, jadilah anda sendiri sebagai sebuah parpol,
sejalan dengan analogi Tuhan bahwa setiap manusia adalah sebuah umat, dan
karenanya jadilah politisi berjiwa suci dengan parpol anda sendiri! Jogja, 07 Januari 2004
Refleksi tentang Kehilangan Ego
Nikmat Penyatuan Ketika makanan yang
penuh cinta menyatu dengan tubuh, kenikmatan tercipta. Ketika dua pecinta yang
saling merindukan bertemu dan bersatu dengan berpelukan, kerinduan terobati.
Ketika dua pasangan bercinta, berciuman, berpelukan, menyatukan satu sama lain,
sehingga terjadi penyatuan tubuh, kenikmatan tercipta. Duhai nikmatnya
penyatuan!
Duhai cintaku, satukan
aku dan kekasihku! Kenikmatan saat tak ada lagi dua!
Hingga shalatku
berteriak: penyatuan…penyatuan…kenikmatan….
Hingga puasaku berekspresi
demikian.
Tanah mencintai tanah,
air mencintai air, penyatuan sempurna. Materi kekasihnya materi, yang ilahi
kekasihnya ilahi, penyatuan sempurna.
Duhai nikmatnya
penyatuan! Saat pecinta kembali kepada tercinta!
Penduaan adalah
penyiksaan! Cinta palsu! Cinta terlarang!
Cinta adalah jalan
penyatuan. Cinta sejati adalah jalan penyatuan sejati.
Hawa nafsu makanannya
adalah material kasar dan halus. Harta dan ketamakan. Tahta dan kedengkian.
Wanita dan perebutan.
Makanan ruh adalah
cinta.
Shalat tanpa ruh,
jelas tanpa cinta. Apa lagi kalau bukan shalat dengan hawa nafsu! Tanyakan pada
ruhmu! Tahukah beda ruh dan hawa nafsumu?
Penyatuan dengan
kekasih adalah penyatuan kehendak. Ketika kehendakmu adalah kehendak kekasih,
maka kamu menyatu dengannya. Penyebutan salah satu telah mewakili keduanya. Tak
ada lagi dualitas. Aku adalah kekasih. Kekasih memiliki kekuasaan dan kehendak
baik. Dia telah menetapkan itu pada
dirinya. Pecinta diberi kekuasaan dan kehendak bebas – kehendak baik dan
kehendak buruk. Kekuasaan dan kehendak pecinta dibatasi oleh kekuasaan dan
kehendak kekasih. Pecinta yang menyatu dengan kekasih adalah yang menghilangkan
kehendak buruknya, yang merupakan wujud ego. Kehilangan diri, kehilangan ego.
Kekuasaan dan kehendak baik. Dia menetapkan itu pada dirinya. Seperti anak
sungai pecinta yang mencintai lautan kekasih, berjalan hingga menyatukan diri
dengan kekasih. ‘Kesungaiannya’ hilang dan dia telah menjadi bagian dari
lautan. Masih perlukah penyebutan air sungai dan air laut?
Jogja 4, 15 Januari 2004
Thursday, September 06, 2007
Sekuel IV Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"
HARVEST SEASON
Harvest season the golden fields blanketed with
the golden wheat
Swaying gently, dancing with wind, ripe, mature, ready to eat
Farmer's sickle or harvester, with its blade will kiss the wheat
The plant is touched with kiss of death, but kiss of life the wheat
will greet
A life beyond the life of plant awaits the newly harvested wheat
The chafe separated from the grain, to the rhythm of a new beat
In this brutal separation, we mainly follow the grain of wheat
Subjected to many more hardships, but now rests in late summer heat.
When a mother goes to labour it is time to harvest the child
Through the certain death of foetus, a baby on life smiled,
Separation of umbilical cord, a new rhythm of life beating wild
Though many challenges await the baby, in her mother's arms resting
mild.
Every life comes to fruition, every project to its harvest
And that, the end of old life, this death perhaps the hardest test
Through this death and this harvest, we find new life must be blest
If subjected to separation, with some pain in life invest
A new start to many more trials, but for progress this the best.
- JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread". MUSIM PANEN
(Pada) Musim panen ladang-ladang
keemasan diselimuti gandum keemasan
Berayun dengan gemulai, menari bersama angin, masak, matang, siap
disantap
Sabit dan mesin penuai Petani, bersama
mata pisaunya akan ‘mencium’ sang gandum
Tanaman tersebut ‘dibelai’ dengan ‘ciuman’
kematian, namun ‘ciuman’ kehidupan (baru) akan menyambutnya
Sebuah
kehidupan di luar kehidupan (sebagai) tanaman tengah menunggu gandum yang baru
dipanen
Kulit
(gandum) dipisahkan dari butirannya, menuju irama tempaan baru
Dalam
pemisahan brutal ini, umumnya kita (lebih tertarik) mengamati (perjalanan) sang
butir gandum
Yang
diperlakukan dengan lebih banyak penderitaan, namun sekarang beristirahat dalam
panas musim kemarau yang terlambat
Tatkala
seorang ibu berusaha keras (melahirkan), ini adalah waktunya untuk ‘memanen’
anak
Melalui
‘kematian’ pasti sang janin, seorang bayi yang baru terlahir tersenyum
Terpisah
dari tali pusat, sebuah irama baru kehidupan menempa dengan liar
Meski
demikian banyak tantangan menunggu sang bayi, dalam pangkuan ibunya (ia) beristirahat
dengan tenang
Setiap
kehidupan berbuah, setiap pekerjaan dipanen
Dan
bahwa, berakhirnya (fase) kehidupan sebelumnya, (yaitu) ‘kematian’ inilah mungkin
ujian tersulit
Melalui
‘kematian’ dan panen ini, kita mendapati (bahwa) kehidupan baru harus
terberkati
Apabila
dihadapkan pada perpisahan (dengan berbagai kenikmatan), maka dengan berbagai
penderitaan hidup(lah) berinvestasi
Satu
awalan baru bagi lebih banyak lagi percobaan (berikutnya), namun untuk kemajuan
(hidup) inilah (jalan) yang terbaik
Sekuel V Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"
AT THE MILL
A grain of
wheat will find itself between a rock and a hard place
Miller turning the grindstone, unaware of what the wheat must face
The wheat is moved and pressed and crushed, but will forbear all with
grace
And in the end the grindstone wins, of grain there will not be a trace,
Instead the bran mixed with flour will fill the wheat's empty space.
Though wheat is crushed and dead and gone, its given birth to a new
race
Just like phoenix from the ashes, flour from dust of wheat in this
case.
When in life we
find ourselves caught between a hard place and a rock
And find ourselves facing all odds, and that we are running out of luck
Experience we find is tough, our heads against a brick wall knock;
Finally we fail, crushed, destroyed, inside a room ourselves lock
We should remember the flour then, a new me emerges out of old muck
Transformed, refined, experienced, hold our heads up, continue to walk.
When we are put
to death's grindstone
To dust shall turn our flesh and bone
We shall repay our mortal loan
When our spirit from dust flown,
We'll change our shape, even our tone
A new spirit into our dust blown.
- JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread". DI TEMPAT PENGGILINGAN
Butir gandum akan segera mendapati dirinya terhimpit
di antara batu karang dan medan terjal
Tukang giling yang memutar batu gerinda itu, tidak
acuh pada apa yang gandum harus hadapi
Gandum dipindahkan, ditekan dan dihancurkan,
tetapi (dia) akan menahan semuanya itu dengan elegan
Dan pada akhirnya sang batu gerinda menang, (adapun)
tentang butir tak akan ada (lagi) jejak,
Sebagai ganti(nya) dedak bercampur tepung akan
mengisi ruang yang ditinggalkan (butir) gandum itu.
Meski gandum dihancurkan dan mati serta ‘hilang’, dia
telah melahirkan satu ‘ras’ baru
Seperti halnya phoenix dari debu, (maka) dalam hal
ini adalah tepung dari debu gandum.
Ketika dalam hidup kita dapati diri kita terhimpit
diantara medan terjal dan batu karang
Dan mendapati diri kita menghadapi semua
rintangan, dan bahwa kita tengah kehabisan keberuntungan
Pengalaman (yang) kita dapati adalah tabah, kepala-kepala
kita melawan benturan (dengan) dinding batu bata;
Pada akhirnya kita gagal, hancur, binasa, di dalam
suatu ruang diri kita mengunci (diri)
Maka kita perlu ingat tepung itu, ‘aku yang baru’
muncul ke luar dari dedak kotoran
(Telah) Berubah, termurnikan, berpengalaman,
waspada, (siap) melanjutkan perjalanan.
Ketika kita diletakkan (pada) batu gerinda
kematian
Kepada debu (dia) akan mengubah tulang dan daging kita
Kita akan melunasi hutang kematian kita
Ketika roh kita terbang dari debu,
Kita akan berubah bentuk, bahkan ‘nada’ kita
Suatu roh baru bertiup ke dalam debu kita.
Sekuel VI Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"
THE DOUGH
I poured some
water on the flour
And kneaded it with such power
And then left it for an hour.
I watched the dough rising slowly
From a place humble, lowly
To a state of fullness, holy.
Through a slow transformation
The dough grew with elation
Ready for its next vocation.
The lesson that
the dough taught me
Through my process patient be
Then the outcome I shall see.
- JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread". ADONAN
Aku tuangkan air ke atas tepung
Dan meremasnya dengan sekuat tenaga
Dan kemudian meninggalkannya beberapa saat
Aku mengamati adonan itu mengembang perlahan
Dari suatu sisi (loyang oven) dengan rendah hati,
Kepada satu status ‘kepenuhan/ kesempurnaan’, suci.
Melalui suatu perubahan bentuk yang lambat
Adonan tumbuh dengan kegembiraan
Siap untuk pekerjaan berikutnya.
Pelajaran yang adonan ajarkan (kepada)ku
(Adalah bahwa) “Melalui prosesku kesabaran terjadi
Maka hasilnya(pun) pasti akan kulihat.”
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
|