Salam Manusia Merdeka! Sobat semuanya...Perkenalkan, nama saya Gama Harta Nugraha Nur Rahayu. Teman-teman biasa memanggil saya Gama. Saya punya minat belajar teosofi atau hikmah/kebijaksanaan. Saya ingin berbagi dengan siapapun dalam hal pengetahuan dan pengalaman seputar kehidupan, tentang perjalanan menjadi "manusia". Saya berpendapat bahwa betapa sulitnya menjadi "manusia", tatkala kita benar-benar menghayati makna manusia itu sendiri. Saya sekarang sedang tertarik menerjemahkan beberapa karya Jalaluddin Rumi, seorang penyair mistik dari Turki. Sobat semua bisa melihat hasilnya di blog saya ini sekaligus memberikan masukan untuk koreksi selanjutnya. Saya menyadari betul keamatiran saya dalam kemampuan menerjemahkan karya berbahasa Inggris, lebih-lebih yang termasuk kategori sastra seperti itu....

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30

Menjadi manusia... Itulah judul blog saya ini. Mudah-mudahan kata-kata ini tidak menjadi slogan semata. Semoga menjadi komitmen saya secara pribadi dan menjadi renungan dari sobat semua. Saya berpendapat bahwa manusia sejati adalah manusia yang telah mengenal dirinya. Mengenal diri adalah pengetahuan akan diri yang komprehensif. Pengenalan tentang siapa sang diri, tujuan keberadaan sang diri, dan bagaimana seharusnya sang diri dalam proses kehidupan ini. Pengenalan ini dapat terealisasi dengan baik manakala seorang manusia berada dalam kemerdekaan. Esensi kemerdekaan di sini adalah kemerdekaan jiwa. Yaitu kemerdekaan untuk berpikir dan bersikap. Sedangkan kemerdekaan bertindak adalah di luar esensi ini karena menyangkut relasi dengan pihak lain. Ketika terjadi relasi maka terjadi hukum. Sehingga jelas kemerdekaan dihadapkan pada keterikatan. Persoalan ini perlu kita bicarakan di kesempatan lain. Saya mengundang sobat semua untuk saling berbagi dalam tema besar "menjadi manusia" dalam blog saya ini. Blog ini terbuka bagi siapapun yang termasuk kategori manusia dan tertarik "menjadi manusia". Maafkan saya jika terlalu berlebihan. Selamat menyimak...


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed

Thursday, August 30, 2007
Refleksi tentang Waktu dan Hidup

Tentang Waktu:

Menurut saya, sih, waktu bergantung pada adanya gerak...Jadi yang ada/eksis adalah gerak. Ini biasanya ada dalam studi tentang wujud (ontologi).Waktu menjadi satuan gerak...Gerak sendiri bergantung pada alam...sebab ia mengada karena adanya existent thing (being/bagian dari alam) yang bergerak.Jadi gerak hanya menunjukkan potensi being yang mengaktual.Jadi, eksistensi gerak pun bergantung pada alam.Lantas, karena alam itu memiliki banyak dimensi...maka sifat geraknya pun berbeda.Alam dengan dimensi fisik memiliki sifat gerakan yang serial (berurutan). Namun, alam dengan dimensi metafisik memiliki sifat gerakan yang gradual (menaik-menurun). Karenanya, alam fisik tidak mengenal tingkatan, sedangkan alam metafisik mengenal tingkatan (leveling).Kembali pada waktu. Waktu pada dimensi fisik menjadi satuan bagi gerak fisik. Waktu yang terdiri dari detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad dlsb. menjadi satuan bagi gerak anggota tata surya kita. Karena kita adalah subsistem dari tata surya maka kita pun bergantung pada waktu itu. Tapi tentunya kita yang fisiknya. Jadi waktu yang sesungguhnya?

Tentang Hidup:

Menurut saya, hidup adalah eksis/mengada. Sesuatu yang eksis, maka dia hidup. Sesuatu yang eksis ini di dalam dirinya mempunyai potensi. Potensi ini menjadi aktual karena adanya gerak. Potensi fisik menjadi aktual dengan gerak fisik. Potensi metafisik menjadi aktual dengan gerak metafisik. Masing-masing memiliki media aktualisasi. Karena itu, meski media fisik kita sudah tidak berfungsi (mati), media metafisik kita tetap berfungsi. Namun kemampuan kita mengaktualisasi kedua media itu dilakukan sejak kita eksis di alam (tercipta). Dan ketidakmampuan kita mengaktualisasi media metafisik akan mempersulit eksistensi kita di alam metafisik, lebih-lebih setelah media fisik kita mengalami mati. Karena itu, menurut saya, hidupnya manusia lebih pada hidupnya media metafisiknya, baik saat media fisiknya masih eksis ataupun setelah tidak eksis lagi.

Selanjutnya, kemampuan mengaktualisasi media metafisik (=gerak metafisik) menentukan tingkatan eksistensi kita di alam metafisik. Terminologi surga dan neraka menurut saya untuk menunjukkan adanya tingkatan eksistensi itu, meskipun dalam skala ekstrim. Karenanya, sangat mungkin secara akal terjadi pergerakan antar level itu, meskipun saya percaya ada yang dinamakan level abnormal, misal: level Nabi yang berada di level surga kemudian jatuh ke level neraka, atau level Iblis yang neraka jatuh ke level surga. Tapi manusia bisa bergerak dalam spektrum level itu. Logikanya bisa dengan logika gradasi (tahapan). Gerakan dalam spektrum itulah proses hidup terjadi. Dan itu bersifat abadi, sepanjang Tuhan masih memberikan eksistensi (kehidupan) kepada makhluknya. Dan Tuhan adalah Eksistensinya eksistensi, Hidupnya hidup, Sumbernya eksistensi, Sumbernya hidup.

Catatan: Trims buat Pak Indra Sofyar, teman diskusi saya di Inowa.

Bandung, 19 April 2006


Posted at 10:46 pm by gamahnnr
Make a comment  

Refleksi tentang Cinta Bunda

Duhai Bunda...

 

Adakah cinta makhluk terhadap makhluk

Melebihi cintamu terhadap anakmu

Adakah kasih makhluk terhadap makhluk

Melampaui kasihmu terhadap anakmu

Adakah sayang makhluk terhadap makhluk

Melampaui sayangmu terhadap anakmu

Jenis cinta apakah itu

Jenis kasih apakah itu

Jenis sayang apakah itu

Sampai-sampai Tuhanku menggandengkan ridha-Nya dan murka-Nya

Berdampingan erat dengan ridhamu dan bencimu

Cintamu, kasihmu, sayangmu...

Sebentuk keajaiban cinta, kasih, sayang di atas Buana

Hanya cintaku, kasihku, sayangku kepadamu sepanjang hayatku

Sebentuk balasan maksimal yang tetap jauh tak setimpal

Dalam kesyahduan malam cinta ini...

Kuhaturkan syukurku dan penghormatanku

Dengan harapan ridhamu atasku

 

Adakah pengorbanan makhluk terhadap makhluk

Yang lebih besar dari pengorbananmu terhadap anakmu

Adakah pelayanan makhluk terhadap makhluk

Yang lebih tulus dari pelayananmu terhadap anakmu

Adakah kesabaran makhluk terhadap makhluk

Yang lebih penuh dari kesabaranmu terhadap anakmu

Pengorbanan jenis apakah itu

Pelayanan jenis apakah itu

Kesabaran jenis apakah itu

Hingga Penciptaku menjadikan syukurku kepadamu

Sebentuk kewajiban di samping syukurku kepada-Nya

Pengorbananmu, pelayananmu, kesabaranmu...

Sejenis keajaiban di atas Mayapada

Hanya dedikasiku kepadamu sepanjang hidupku

Sebentuk balasan maksimal yang tetap jauh tak setimpal

Dalam kesyahduan malam pengaduan ini...

Kupersembahkan syukurku dan penghormatanku

Dengan berharap sangat atas maafmu...

Dengan harapan ridhamu atasku

Bdg, 09/05/06, Hayy_Yakzan


Posted at 10:55 pm by gamahnnr
Make a comment  

Refleksi tentang Idealisme

Dunia Idealku

 
Apa jadinya jika intelek universal menjadi penguasa bumi?

Lihatlah komentar warga kebun binatang manusiawiku.

Keena, burung phoenix-ku, percaya bahwa dunia ideal akan tercipta. Dunia yang diimpikan setiap orang. Dunia tanpa kesenjangan ekonomi, tanpa para despot.

Monic, burung daraku, yakin setiap burung akan berbagi pakan tanpa perlu rebutan market share dan passive income.

Pirange, burung merakku, beralasan bahwa setiap kandang di lima benua akan selalu merasa cukup, sebab mereka tidak makan dengan tujuh perut lagi!

Lipstic, cenderawasihku, memastikan bahwa setiap tanah dan air telah utuh, murni, seperti mata air pegunungan sebelum masuk ke setiap rumah dan terdampar di banyak septic-tank, yang telah lama meracuni cacing-cacing hingga gila.

Beauty, kucing betinaku, menjamin bahwa setiap yang mirip Keena tak akan lagi menjadikan daging pipi dan payudara sebagai kiblatnya!

Spider, laba-laba seniorku, yang tetap sufistik dan sedang belajar meluaskan gua Plato, bersikeras bahwa daging-daging kapital hanya laris di mulut burung bangkai, si Materi, yang hilang keburungannya, dan dikenali hanya dari bulunya, riwayatnya kelak hanya abadi dalam tulisan!

Mereka telah tahu jalan! Burung-burungku telah sampai!

Satu mereka bagiku lebih baik dari sejuta mazda!

Jangan meludahiku, mereka telah menjadi burung apiku!

Merekalah tentara yang akan membuka kedok anjingku, si Globalist, yang lidah tak pernah puasnya selalu menjulur ke penjuru negeri!

Merekalah pasukan pembawa bara yang akan membakar tinja kambingku, si Orator dan si Vokalis, yang mengembik-ngembik di kandang penuh rumput stocks, bonds, dan amplop.

Sayu, lebah maduku, yang telah menyerap api Keena, berjanji untuk mengganti tinja-tinja itu dengan madu jernihnya, kecemerlangan pemikiran tanpa distorsi, biar warga semesta merasakan sengatan manisnya.

Faqir, macan tutul mistikku, yang telah memahami beda rasa antara Mall dengan gua Hira’, menghimbau agar setiap warga bangga memilih jalan kefakiran. Dia yakin bahwa yang diperangi Al-Musthafa bukanlah kefakiran atau kemiskinan material, tapi sumbernya, yaitu kefakiran dan kemiskinan spiritual. Pada si kaya, dia menjelma sebagai Raja tamak dengan tujuh perutnya yang menindas dengan senjata sistem ekonominya. Pada si miskin, ia muncul dalam rupa Pengemis yang senantiasa berputus-asa dalam kemalasan. Bagi keduanya, cinta dunia dan takut mati adalah akarnya. Dia menyarankan agar setiap orang menempuh jalan kemiskinan material, bukan karena kesialan, tapi karena pilihan, melepas jubah suteranya, dan menggantinya dengan jubah kasar. Dan kutahu, Faqir selalu bangga dengan jubah tutul kemiskinannya. Dia tahu bahwa tempatnya harta adalah Bait al-Maal, bukan tubuhnya dan apalagi hatinya, yang adalah Bait Allah, Rumah Tuhan.

Whuhu, burung hantuku, yang senantiasa bangun malam dan mendendangkan kerinduan akan kekasihnya dengan kicau misteriusnya, menjamin bahwa malam bagi dunia ideal itu adalah malam-malam pengantin, saat mata para pecinta tak henti-hentinya mengagumi kekasih tercintanya di balik kelambu, dalam basuhan air mata kerinduan. Menunggu saat-saat pasti kemesraan dalam penyatuan.

Dalam dunia itu ada cinta, damai, keadilan, persamaan, penghargaan, jalan, syahdu, rindu, malu, kesederhanaan, kasih, sayang, kemurnian........

Dan itu semua menjadi barang tercecer........

Dan inilah dunia yang sesungguhnya manusiawi.

 

Jogjakarta, 6 Januari 2004

 

 

 


Posted at 10:57 pm by gamahnnr
Make a comment  

Refleksi Jalan Cinta

The Way of Love

 
Manusia (the oppressed people) menderita. Bumi mengaduh. Perang berkecamuk, korban bergelimpangan.

Manusia terbelenggu kebodohan, termiskinkan secara struktural. Homo homini lupus. The oppresser terbelenggu hawa nafsunya.

Manusia kehilangan esensi dirinya. Imbalance is everywhere.

Siapa yang ‘kan merasakan? Siapa yang ‘kan peduli?

Orang-orang yang jiwanya dipenuhi cintalah yang ‘kan peduli. Rasa mereka sedemikian lembut, merekalah saraf-saraf bagi kulit kemanusiaan.

Jalan cinta adalah jalan universal. Esensi jalan kebenaran.

Cintalah yang memuliakan manusia. Mempersaudarakan manusia. Membahagiakan manusia. Mempertemukan manusia pada tujuan pencariannya akan kebenaran dalam kehidupan.

Cintalah yang memandang manusia lain sebagai sesama yang sedang dalam pencarian kebenaran. Dengan cinta, seseorang mencintai para pencari kebenaran, bukan malah membencinya. Dengan cinta pula, mereka berkomunikasi tentang pengetahuan dan pengalaman pencarian masing-masing. Dan ‘komunikasi pembelajaran’ ini menghasilkan khazanah pengetahuan dan pengalaman yang baru, yang lebih berkualitas.

Ikutilah aku, jalan cinta. Tuhanlah pemimpin jalan ini. Atas dasar cinta, Dia turunkan wahyu. Setiap agama yang benar adalah ajaran cinta. Kasih, sayang, rahmat, keselamatan, kedamaian adalah muatan-muatannya. Setiap pemikiran yang benar adalah ajaran cinta. Setiap pemikiran, budaya, agama yang bertentangan dengan ajaran cinta universal adalah ajaran benci, kepalsuan belaka, pengkhianatn keji terhadap ajaran cinta.

Pemikiran, budaya, agama, apapun itu, yang menghancurkan kemanusiaan – jati diri kebebasan dan kemuliaan, adalah musuh universal para pecinta.

Cinta punya nature sendiri, dan bersifat universal.

Pendekatan terbaik di jalan cinta adalah pendekatan hikmah, mistik, spiritualitas. Dialah buah atas perjalanan sebelumnya melewati berbagai ranting, cabang dan akar yang berbeda-beda, yang juga memiliki nature sendiri-sendiri yang harus dikenal oleh para penempuh jalan.

Dia mempunyai bahasa yang berbeda. Bahasanya bukan bahasa ranting, cabang, maupun akar. Bahasanya adalah bahasa buah.

Temanya bukan tentang zat-zat kimia, mineral dan sari-sari makanan. Temanya adalah kemanisan.   

 

Jogja, 29 Januari 2004

 


Posted at 11:02 pm by gamahnnr
Make a comment  

Refleksi tentang Wanita

Wanita Adalah Lubangmu

Wanita adalah lubangmu. Tempat kamu masuk dan kemudian keluar berteriak, serukan kenikmatan penyatuan.

Wajah rupawan wanita itu adalah titik berangkatmu! Titik syariat. Jika kaujadikan itu titik akhir, kau akan berhenti di situ. Dan keriput akan melukai harapan kesempurnaanmu.

Cadar yang kaututupkan pada wajahnya, karena kecemburuanmu agar tak dinikmati mata para keledai perampok adalah buah perdana perjalananmu. Titik etika, titik akhlak. Dari sinilah kau tak lihat lagi wajah indah itu, tapi cadar indahlah penggantinya. Wajah kehormatan, kewibawaan dan kemuliaan! Jika kaujadikan titik akhir, kau akan berhenti di situ. Dan selingkuh matanya akan mencederai harapan kesempurnaanmu.

Aura wajah yang memberi makna dan nilai pada wajah dan cadar adalah titik akhirmu. Titik hakikat. Dialah yang jujur, membuka kebohongan tawanya pada sedihnya. Dialah yang suci, yang tak sudi dibeli matanya untuk selingkuh. Dialah hakim yang menghukum perbuatan matanya itu dengan air matanya. Padanya tak kaujumpai keriput, sebab ia dari cahaya.

Pada wajah wanitamu itu ada wajah material, kekasih materialmu.

Pada wajah wanitamu itu ada wajah moral, kekasih moralmu.

Pada wajah wanitamu itu ada wajah spiritual, kekasih spiritualmu.

Pada wajah wanitamu itu ada wajah kesempurnaan.

Duhai wanita pujaanku, di semua titik inilah kuingin bercinta denganmu! Adakah dirimu seperti itu? Di manakah dirimu?

Darimu kukejar kesempurnaan itu. Bukan kesempurnaan tipuan. Dan bila tak ada seperti itu pada dirimu, sesallah diriku. Biarlah kucari wajah kesempurnaan itu pada wajah lain. Sebab pada setiap wajah ada ketiga titik itu. Bukankah kesempurnaan universal menitipkan diri pada kesempurnaan-kesempurnaan parsial segala sesuatu. Wajah pelangi, wajah bintang, wajah mushaf, wajah suara, wajahku. Semuanya hanyalah dititipi. Sewajarnya bila semua berbicara tentang sang penitip, memperlihatkan kesempurnaan parsialnya agar kesempurnaan universial terlihat dan memperlihatkan diri. Kecuali pada wajah buruk rupa, yang menakuti cermin. Yaitu wajah yang telah rusak. Pada semua atau sebagian titiknya. Sebab dia telah culas, mana mungkin dipercaya kekasih!


Jogja, 15 Januari 2004

 


Posted at 11:08 pm by gamahnnr
Make a comment  

Refleksi Politik

POLITIK

Pemilu sudah dekat. Setiap kita berharap besar bahwa Pemilu kali ini secara positif akan memberikan perubahan besar pula bagi kehidupan bangsa dan negara kita. What is to be done? Kita butuh revolusi. Ini adalah jawaban tegas bagi mental kita yang lembek. Reformasi dengan model sekedar people power berbentuk aksi massa seperti sebelumnya nampak tidak efektif. Kita butuh people power dalam bentuk lain. Yaitu revolusi jiwa. Di dalamnyalah bersarang burung pemikiran, spiritual dan moral. Kita butuh revolusi jiwa rakyat kita.

Ada orang bilang, bahwa untuk berjuang di bidang politik yang muaranya pada usaha perubahan kehidupan bangsa dan negara, haruslah dikerjakan dengan membuat parpol atau setidaknya masuk ke sebuah parpol yang ada. Tapi bagi saya, yang percaya lebih kepada bagaimana saya, daripada di mana saya, lebih menekankan pada usaha massif seluruh komponen masyarakat. Memang dari sisi kerja, cara parpol yang terorganisir bisa dipakai. Namun, dengan cara sederhanapun setiap kita bisa ‘bekerja’. Keyfactor-nya adalah bahwa kita punya ‘visi dan misi politik’. Bisa jadi ‘visi dan misi politik’ kita ini selaras dengan ‘visi dan misi politik’ sebagian parpol yang ada, atau sebaliknya. Namun itu tidak masalah, setiap kita harus ‘melek politik’ dan ‘berpolitik’. Harapan besar akan perubahan besar di muka, adalah tanggung jawab setiap kita. Jangan pernah menyerahkannya pada orang lain. Setiap orang hanya akan memikul apa yang diperbuatnya sendiri. Jadi jangan hanya bisa salahkan orang lain, beranilah salahkan diri sendiri!

Landasan hal ini sungguh jelas. Kita adalah muslim yang hanya berserah diri pada Tuhan. Tuhan, setelah kita pun berani, memberi kita amanat ‘kehendak bebas’ – yang memang kita dibekali potensi untuk layak menerima – yang tak berani diambil oleh para gunung dan warga semesta lainnya. Dan kita ‘dipersilahkan’ menggunakannya, dengan syarat ‘bertanggungjawab’. Dan ukuran ‘kebertanggungjawaban’ itu adalah berdasarkan kepatuhan kita pada kaidah Tuhan. Kaidah Tuhan adalah kebenaran tunggal yang pasti. Tapi ia bukanlah persepsi agama yang bertaburan distorsi. Persepsi yang selalu jernih dan tanpa distorsi pasti selalu ada, ini dijamin oleh Tuhan, dan terformalkan dalam teks Qur’an kita. Tapi ia bukan – sebagaimana dipahami awam, yaitu sekedar kelanggengan teks suci sebentuk mushaf saja – tetapi sungguh-sungguh persepsi kebenaran yang hidup dalam jiwa suci para orang suci. Dan sebagai makhluk spiritual, penerima ruh Tuhan, kita semua berpotensi menjadi orang suci. Kuncinya jelas, kita harus menyucikan jiwa kita, sehingga kebenaran suci mau bersarang padanya. Bukan pada kesucian / kebersihan robot supercanggih yang selalu kita mandikan ini, yang jelas cuma tanah dan air.

Dan politik adalah kegiatan mengatur urusan manusia. Dan setiap kita harus peduli secara aktif. Jangan pernah gadaikan diri kita pada manusia-manusia bejat yang secara kejiwaan sama dengan anjing atau babi (berjiwa binatang), sebab pilihan salah ini sesungguhnya mencerminkan seperti apa juga kita secara kejiwaan.

Lalu apa yang harus dilakukan. Untuk melakukan apapun kita butuh persiapan. Berikut adalah tahapan persiapan. Pertama, jadilah anda orang suci dengan menyucikan jiwa anda. Suci pemikirannya, dalam arti berisi kebenaran tanpa distorsi. Tengok kembali ‘file-file data’ dalam pikiran anda. Hapus virus di dalamnya. Wujudnya terlihat pada kesucian moral anda. Terjemahkan pikiran-pikiran suci ini pada setiap respon terhadap isu-isu yang berkembang. Pikiran-pikiran ini akan menjadi ‘tentara-tentara Revolusi’ yang akan menginvasi tanah jiwa rakyat. Rakyat akan menanami tanah jiwa mereka itu sehingga mereka sendiri akan memanen hasilnya. Karena itu, nanti kita harus kirimkan ‘tentara-tentara’ itu dengan cara anda berbicara kepada rakyat dengan apapun media yang tepat. Kedua, kenalilah  orang suci, dengan mencari informasi tentangnya. Bantulah mereka, dan bertekadlah untuk mempromosikan keberadaan mereka dan pikiran-pikirannya. Dan pilihlah mereka sebagai pemimpin anda sendiri. Ketiga, beranilah mati untuk tujuan ini. Jangan takut mati, sebab ia hanya transisi ke sekolah jiwa yang lain, tak lebih. Jiwa kita takkan pernah mati, kecuali kita memilih ‘mematikannya’ sendiri.

Berikutnya adalah tahapan aksi. Secara teknis, apa yang harus kita lakukan setelah persiapan ‘penyucian jiwa’ tersebut? Pertama, jadikanlah diri anda instrumen utama bagi ‘kerja suci’ ini. Jadikan setiap pasukan organik anda – yaitu mata, mulut, telinga, tangan, kaki bahkan keringat anda – sebagai semacam media massa yang senantiasa  bekerja lembur. Kedua, bicaralah politik di setiap kesempatan yang mungkin, dengan siapapun, sepanjang rajamu – yaitu akal sehatmu – mengiyakan / menimbang tepat. Ketiga, jadikan setiap tempat sebagai mimbar kampanye, bahkan masjid sekalipun. Kita berharap saudara-saudara di agama lain juga sama. Dasar pemikirannya jelas, rumah ibadah adalah rumah kebenaran, rumah Tuhan. Tuhan adalah kebenaran itu sendiri, dan senantiasa berpihak pada kebenaran, blok Tuhan. Maka pemihak kebenaran adalah pemihak Tuhan. Suara kebenaran harus masuk ke setiap rumah lainnya. Begitupun rumah tinggal kita, rumah makan, dan rumah-rumah (tempat orang berkumpul) lainnya.

‘Kerja suci’ ini ibarat angin yang akan membawa harapan perubahan besar kita. Angin inilah yang kita buat dari suara-suara kebenaran dari jiwa suci kita. Ingatlah kaidah logis Tuhan, siapapun menanam, maka ia akan memetik hasil.

Singkatnya, jadilah anda sendiri sebagai sebuah parpol, sejalan dengan analogi Tuhan bahwa setiap manusia adalah sebuah umat, dan karenanya jadilah politisi berjiwa suci dengan parpol anda sendiri!

Jogja, 07 Januari 2004



Posted at 11:15 pm by gamahnnr
Make a comment  

Refleksi tentang Kehilangan Ego

Nikmat Penyatuan


Ketika makanan yang penuh cinta menyatu dengan tubuh, kenikmatan tercipta. Ketika dua pecinta yang saling merindukan bertemu dan bersatu dengan berpelukan, kerinduan terobati. Ketika dua pasangan bercinta, berciuman, berpelukan, menyatukan satu sama lain, sehingga terjadi penyatuan tubuh, kenikmatan tercipta. Duhai nikmatnya penyatuan!

Duhai cintaku, satukan aku dan kekasihku! Kenikmatan saat tak ada lagi dua!

Hingga shalatku berteriak: penyatuan…penyatuan…kenikmatan….

Hingga puasaku berekspresi demikian.

Tanah mencintai tanah, air mencintai air, penyatuan sempurna. Materi kekasihnya materi, yang ilahi kekasihnya ilahi, penyatuan sempurna.

Duhai nikmatnya penyatuan! Saat pecinta kembali kepada tercinta!

Penduaan adalah penyiksaan! Cinta palsu! Cinta terlarang!

Cinta adalah jalan penyatuan. Cinta sejati adalah jalan penyatuan sejati.

 


Hawa nafsu makanannya adalah material kasar dan halus. Harta dan ketamakan. Tahta dan kedengkian. Wanita dan perebutan.

Makanan ruh adalah cinta.

Shalat tanpa ruh, jelas tanpa cinta. Apa lagi kalau bukan shalat dengan hawa nafsu! Tanyakan pada ruhmu! Tahukah beda ruh dan hawa nafsumu? 

 

Penyatuan dengan kekasih adalah penyatuan kehendak. Ketika kehendakmu adalah kehendak kekasih, maka kamu menyatu dengannya. Penyebutan salah satu telah mewakili keduanya. Tak ada lagi dualitas. Aku adalah kekasih. Kekasih memiliki kekuasaan dan kehendak baik. Dia telah menetapkan  itu pada dirinya. Pecinta diberi kekuasaan dan kehendak bebas – kehendak baik dan kehendak buruk. Kekuasaan dan kehendak pecinta dibatasi oleh kekuasaan dan kehendak kekasih. Pecinta yang menyatu dengan kekasih adalah yang menghilangkan kehendak buruknya, yang merupakan wujud ego. Kehilangan diri, kehilangan ego. Kekuasaan dan kehendak baik. Dia menetapkan itu pada dirinya. Seperti anak sungai pecinta yang mencintai lautan kekasih, berjalan hingga menyatukan diri dengan kekasih. ‘Kesungaiannya’ hilang dan dia telah menjadi bagian dari lautan. Masih perlukah penyebutan air sungai dan air laut?



Jogja 4, 15 Januari 2004


Posted at 11:18 pm by gamahnnr
Make a comment  

Thursday, September 06, 2007
Sekuel IV Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"

HARVEST SEASON

Harvest season the golden fields blanketed with the golden wheat
Swaying gently, dancing with wind, ripe, mature, ready to eat
Farmer's sickle or harvester, with its blade will kiss the wheat
The plant is touched with kiss of death, but kiss of life the wheat will greet
A life beyond the life of plant awaits the newly harvested wheat
The chafe separated from the grain, to the rhythm of a new beat
In this brutal separation, we mainly follow the grain of wheat
Subjected to many more hardships, but now rests in late summer heat.
When a mother goes to labour it is time to harvest the child
Through the certain death of foetus, a baby on life smiled,
Separation of umbilical cord, a new rhythm of life beating wild
Though many challenges await the baby, in her mother's arms resting mild.
Every life comes to fruition, every project to its harvest
And that, the end of old life, this death perhaps the hardest test
Through this death and this harvest, we find new life must be blest
If subjected to separation, with some pain in life invest
A new start to many more trials, but for progress this the best.

 - JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread".

MUSIM PANEN

(Pada) Musim panen ladang-ladang keemasan diselimuti gandum keemasan
Berayun dengan gemulai, menari bersama angin, masak, matang, siap disantap

Sabit dan mesin penuai Petani, bersama mata pisaunya akan ‘mencium’ sang gandum

Tanaman tersebut ‘dibelai’ dengan ‘ciuman’ kematian, namun ‘ciuman’ kehidupan (baru) akan menyambutnya

Sebuah kehidupan di luar kehidupan (sebagai) tanaman tengah menunggu gandum yang baru dipanen

Kulit (gandum) dipisahkan dari butirannya, menuju irama tempaan baru

Dalam pemisahan brutal ini, umumnya kita (lebih tertarik) mengamati (perjalanan) sang butir gandum

Yang diperlakukan dengan lebih banyak penderitaan, namun sekarang beristirahat dalam panas musim kemarau yang terlambat

Tatkala seorang ibu berusaha keras (melahirkan), ini adalah waktunya untuk ‘memanen’ anak

Melalui ‘kematian’ pasti sang janin, seorang bayi yang baru terlahir tersenyum

Terpisah dari tali pusat, sebuah irama baru kehidupan menempa dengan liar

Meski demikian banyak tantangan menunggu sang bayi, dalam pangkuan ibunya (ia) beristirahat dengan tenang

Setiap kehidupan berbuah, setiap pekerjaan dipanen

Dan bahwa, berakhirnya (fase) kehidupan sebelumnya, (yaitu) ‘kematian’ inilah mungkin ujian tersulit

Melalui ‘kematian’ dan panen ini, kita mendapati (bahwa) kehidupan baru harus terberkati

Apabila dihadapkan pada perpisahan (dengan berbagai kenikmatan), maka dengan berbagai penderitaan hidup(lah) berinvestasi

Satu awalan baru bagi lebih banyak lagi percobaan (berikutnya), namun untuk kemajuan (hidup) inilah (jalan) yang terbaik

 


Posted at 08:58 pm by gamahnnr
Make a comment  

Sekuel V Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"

AT THE MILL

A grain of wheat will find itself between a rock and a hard place
Miller turning the grindstone, unaware of what the wheat must face
The wheat is moved and pressed and crushed, but will forbear all with grace
And in the end the grindstone wins, of grain there will not be a trace,
Instead the bran mixed with flour will fill the wheat's empty space.
Though wheat is crushed and dead and gone, its given birth to a new race
Just like phoenix from the ashes, flour from dust of wheat in this case.

When in life we find ourselves caught between a hard place and a rock
And find ourselves facing all odds, and that we are running out of luck
Experience we find is tough, our heads against a brick wall knock;
Finally we fail, crushed, destroyed, inside a room ourselves lock
We should remember the flour then, a new me emerges out of old muck
Transformed, refined, experienced, hold our heads up, continue to walk.

When we are put to death's grindstone
To dust shall turn our flesh and bone
We shall repay our mortal loan
When our spirit from dust flown,
We'll change our shape, even our tone
A new spirit into our dust blown.

 - JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread".

DI TEMPAT PENGGILINGAN

Butir gandum akan segera mendapati dirinya terhimpit di antara batu karang dan medan terjal

Tukang giling yang memutar batu gerinda itu, tidak acuh pada apa yang gandum harus hadapi

Gandum dipindahkan, ditekan dan dihancurkan, tetapi (dia) akan menahan semuanya itu dengan elegan

Dan pada akhirnya sang batu gerinda menang, (adapun) tentang butir tak akan ada (lagi) jejak,

Sebagai ganti(nya) dedak bercampur tepung akan mengisi ruang yang ditinggalkan (butir) gandum itu.

Meski gandum dihancurkan dan mati serta ‘hilang’, dia telah melahirkan satu ‘ras’ baru

Seperti halnya phoenix dari debu, (maka) dalam hal ini adalah tepung dari debu gandum.

 

Ketika dalam hidup kita dapati diri kita terhimpit diantara medan terjal dan batu karang

Dan mendapati diri kita menghadapi semua rintangan, dan bahwa kita tengah kehabisan keberuntungan

Pengalaman (yang) kita dapati adalah tabah, kepala-kepala kita melawan benturan (dengan) dinding batu bata;

Pada akhirnya kita gagal, hancur, binasa, di dalam suatu ruang diri kita mengunci (diri)

Maka kita perlu ingat tepung itu, ‘aku yang baru’ muncul ke luar dari dedak kotoran

(Telah) Berubah, termurnikan, berpengalaman, waspada, (siap) melanjutkan perjalanan.

 

Ketika kita diletakkan (pada) batu gerinda kematian

Kepada debu (dia) akan mengubah tulang dan daging kita

Kita akan melunasi hutang kematian kita

Ketika roh kita terbang dari debu,

Kita akan berubah bentuk, bahkan ‘nada’ kita

Suatu roh baru bertiup ke dalam debu kita.

 


Posted at 09:07 pm by gamahnnr
Make a comment  

Sekuel VI Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread"

THE DOUGH

I poured some water on the flour
And kneaded it with such power
And then left it for an hour.
I watched the dough rising slowly
From a place humble, lowly
To a state of fullness, holy.
Through a slow transformation
The dough grew with elation
Ready for its next vocation.

The lesson that the dough taught me
Through my process patient be
Then the outcome I shall see.

 - JALALUDDIN RUMI, on "From Wheat to Bread".

ADONAN

Aku tuangkan air ke atas tepung

Dan meremasnya dengan sekuat tenaga

Dan kemudian meninggalkannya beberapa saat

Aku mengamati adonan itu mengembang perlahan

Dari suatu sisi (loyang oven) dengan rendah hati,

Kepada satu status ‘kepenuhan/ kesempurnaan’, suci.

Melalui suatu perubahan bentuk yang lambat

Adonan tumbuh dengan kegembiraan

Siap untuk pekerjaan berikutnya.

 

Pelajaran yang adonan ajarkan (kepada)ku

(Adalah bahwa) “Melalui prosesku kesabaran terjadi

Maka hasilnya(pun) pasti akan kulihat.”

 


Posted at 09:10 pm by gamahnnr
Make a comment  

Previous Page Next Page