Entry: Sekuel III Kumpulan Puisi "From Wheat to Bread" Saturday, October 14, 2006



WHEAT SPROUT

A grain of wheat was buried in soil
Even in death, for life it would toil,
Eventually its thirst by water quenched
It sprouted roots which to soil clenched
And then a stem that upward grew
Its way out of soil, it somehow knew;
Until finally it burst through the ground
And gladly found light all around;
And in the light it grew tall
Until it was just before fall
When pregnant upon its seat
Gave birth and life to many a wheat.
Until next year from the farmer's spoil
New grain of wheat was buried in soil.

To be truly alive, we must first die
Buried in our soil, trusting we lie
Until our spiritual thirst is quenched by fire
Self-realization our prime desire;
Instinctively grow and ground our root
The divine light, our sole pursuit,
Naturally grow, burst through the ground
Constantly in wisdom ourselves surround.
And in light and love grow and grow
Until the time we instinctively know,
Then inspired, pregnant with passion
Betterment of life, with compassion.
Touch many lives until one will try
To truly live, and first will die.

 

KECAMBAH GANDUM

 

Sebutir gandum terkubur dalam tanah

Bahkan dalam ‘kematian’, seumur hidup dia rela bekerja keras,

Akhirnya oleh air dahaganya terpuaskan

Ditumbuhkannya akar-akar untuk menembus tanah

Kemudian sebuah batang tumbuh tegak

Jalan keluarnya dari tanah, yang bagaimanapun juga telah ia ketahui;

Hingga akhirnya si batang muncul keluar dari tanah

Dan dengan riang gembira mendapati cahaya di sekelilingnya;

Dan dalam cahaya dia tumbuh meninggi

Terus menerus hingga tiba musim gugur

Tatkala ‘mengandung’ (butir-butir gandum) di atas ‘sandaran’nya

Beri kelahiran dan kehidupan pada banyak butir gandum.

Hingga dari hasil panen petani tahun depan, butir gandum baru dikubur di dalam tanah.

 

Untuk dapat hidup sejati, kita harus ‘mati’ terlebih dahulu

Terkubur dalam ‘tanah’ kita, mudah mempercayai dusta kita

Hingga dahaga spiritual kita dipuaskan ‘api’

‘Pewujudan diri’ hasrat utama kita;

Secara naluriah, kita menumbuhkan dan menhunjamkan ‘akar’ kita

Menapaktilasi jejak kita, mengejar Cahaya Ilahi

Secara alamiah ‘wujud diri’ kita  tumbuh, muncul keluar dari tanah

Kemudian secara konstan melingkar di dalam kebijaksanaan.

Dan di dalam cahaya serta cinta tumbuh dan berkembang

Hingga waktunya secara naluriah tahu dan terilhami,

‘Mengandung’ kelebihbaikan hidup dengan penuh derita, dengan penuh keibaan.

Menyentuh (hati) khalayak ramai hingga kelak salah seorang dari mereka akan membuktikan

Untuk hidup sejati, terlebih dahulu harus ‘mati’.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments