Entry: Refleksi Tentang Iran Thursday, August 30, 2007



MENGAPA IRAN MENARIK BAGIKU?

Sesuatu disebut istimewa pasti ada alasannya. Entah alasannya bersifat pribadi (subyektif) ataupun bersifat obyektif (sesuai kenyataannya, sehingga diterima banyak pribadi). Begitu juga dengan Iran, dia menjadi istimewa, sehingga kemudian menarik bagi saya tentunya dengan sejumlah alasan.

Alasan pertama, sebagai sebuah kesatuan sosial (bangsa dan negara), Iran mampu unjuk diri kepada dunia sebagai kutub alternatif vis a vis kekuatan kutub mainstream Barat. Memang hal ini bukan kekhususan Iran, karena beberapa negara lain juga menunjukkan karakteristik yang sama, semisal Venezuela, Korea Utara dan Kuba. Meskipun demikian, ada beberapa hal yang membedakan Iran dengan sejumlah negara itu, diantaranya adalah konsistensi para pemimpinnya dalam mengusung kutub altenatif ini, praktis sejak Revolusi Iran 1979. Selain itu, pendekatan Iran dalam mengusung gagasan mandirinya tentang peradaban sangat menarik, karena sangat menonjolkan kemampuan intelektual, bersifat mengajak setiap orang untuk tidak sekedar menerima argumen dominan yang dituduhkan pihak adikuasa dunia. Persoalan ini mengemuka ketika Presiden Mahmoud Ahmadinejad menyodorkan sejumlah argumen tentang kepentingan Iran kepada teknologi nuklir, yang ditentang sejumlah negara Barat yang dikomandani AS. Kemampuan unjuk diri secara elegan ini menunjukkan kokohnya basis teoritis para pemimpinnya terhadap gagasan-gagasan yang diusungnya. Dengan kata lain, gagasan mereka bersifat mandiri, tidak membebek saja, pun tidak membeo sedemikian rupa, kepada para pemimpin adikuasa. Hal ini berbeda secara diametral dengan para pemimpin lain yang hanya bisa mengamini saja segala kemauan para pemimpin adikuasa itu.

Alasan kedua, sebagai kelanjutan alasan pertama, yang besar kemungkinan malah melatarbelakangi kemunculan alasan pertama, adalah kemandirian Iran secara kebudayaan. Sebagai salah satu negara penggagas ide multipolarisme dunia, Iran memiliki akar historis yang kuat dalam kemandirian secara kebudayaan. Sebelum menjadi pelopor kebudayaan Islam, Iran pra-Islam adalah bangsa dengan kebudayaan tingkat tinggi pada zamannya. Pilihan konversi kebudayaan Iran terhadap Islam – berdasarkan fakta sejarah – dilatarbelakangi gerakan intelektual masyarakatnya, disamping karena faktor kekalahan perang dari pasukan Islam Arab. Berbeda dengan kasus Indonesia misalnya, proses konversi agama (baca = kebudayaan) dari Hindu ke Islam lebih disebabkan faktor politik, yaitu bahwa setelah para pemimpin politik dari kalangan bangsawan saat itu melakukan proses konversi tersebut, maka masyarakat (baca = rakyat) pun mengikutinya, sebagai kebiasaan feodalistik yang menempatkan posisi pemimpin politik (baca = raja) sebagai titisan Dewata yang pilihan-pilihannya bernilai benar mutlak. Masyarakat Iran memiliki sikap intelektual yang relatif maju disebabkan kebudayaan yang dibentuknya membuka ruang kreatifitas intelektual. Fakta cerita tentang konversi keyakinan keagamaan Salman Alfarisi memberi tanda tentang ikon intelektualisme tersebut.

Alasan ketiga, karakter kepemimpinan politik di Iran. Hal ini menarik karena sejumlah hal berikut. Pertama, kepemimpinan politik di Iran menonjolkan intelektualitas, moralitas, dan keberanian. Ciri intelektualitas dapat dilihat dari kualitas pemimpin politik di Iran, yang sebagian besar adalah para ilmuwan/akademisi, baik dalam bidang agama ataupun sains-teknologi. Mereka adalah para pemimpin yang telah terbukti dan teruji kecakapannya dalam lapangan ilmu pengetahuan. Kesuksesan mereka pun dalam menduduki jabatan politis lebih disebabkan kualitas kemampuannya dalam keilmuan, bergandengan dengan moralitas dan keberanian.

Ciri moralitas dapat dilihat dari gaya hidup (life style) para pemimpin itu dalam kehidupan publik maupun domestik. Kesederhanaan adalah ciri yang menonjol, yang tentunya memberikan nilai keteladanan kepada rakyat yang dipimpinnya. Kesederhanaan dalam gaya hidup juga yang dapat meredam berjangkitnya penyakit korupsi berjamaah yang melemahkan kekuatan sebuah bangsa – seperti halnya terjadi di Indonesia. Dan manfaat yang paling utama adalah bahwa para pemimpin politik dengan gaya hidup sederhana lebih mudah memunculkan perasaan cinta di hati rakyatnya, dan jenis kharisma yang muncul karena faktor ini memiliki daya pengaruh lebih kuat dari jenis kharisma lainnya.

Ciri keberanian ditunjukkan dengan sikap 'berani beda' dalam bersikap, sebagai wujud kemandirian, kendati berhadapan vis a vis dengan sikap kolektif pemimpin-pemimpin adikuasa. Keberanian hanya dimiliki oleh manusia merdeka, dan rasa takut hanya dimiliki oleh manusia terjajah (baca = budak). Dalam kasus Iran, Imam Khomeini dan Presiden Mahmoud Ahmadinejad menunjukkan bagaimana kualitas keberanian mereka dalam bersikap politik. Keduanya tidak takut dengan resiko yang mengancam hidup dan kedudukan politiknya, yang mungkin diarahkan oleh musuh politik baik dari dalam maupun luar negeri. Tugas utama dalam memimpin (baca = membimbing) rakyatnya ke arah yang benar menjadi prioritas mereka, bukan simpati dan pujian dari para pemimpin adikuasa yang bertabur permata.

Alasan keempat adalah pendekatan Iran dalam mempengaruhi dunia. Kita tahu bahwa dunia saat ini berada dalam pengaruh satu kutub besar, yaitu kutub Barat di bawah komando AS. Sepak terjang AS dalam menancapkan kuku pengaruhnya ke setiap negara dikenal siapapun di muka bumi ini. Peristiwa pergantian rezim di sebuah negara manapun, konflik dan peperangan di wilayah manapun, pilihan kebijakan para pemimpin politik di negara manapun, sebagian besar terjadi karena keterlibatan AS dan sekutunya, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Dan kita tahu pendekatan yang dilakukan oleh AS cs. ini, yaitu melalui tekanan politik, ekonomi dan militer. Bila langkah-langkah tekanan secara politik gagal, maka akan dilakukan tekanan secara ekonomi, sehingga para pemimpin politik sebuah negara akan terpengaruh untuk mengubah kebijakan politiknya. Namun jika tekanan secara ekonomi pun menemui kegagalan, maka AS akan sekuat tenaga mengusahakan pergantian rezim dengan tekanan politik dan ekonomi, dan pada tingkat yang lebih tinggi lagi secara militer (invasi). Berbeda dengan AS, Iran melakukan upaya mempengaruhi dunia bukan dengan cara-cara seperti AS di atas, tetapi dengan pendekatan intelektual dan teknologi. Iran mempengaruhi opini publik dunia tentang isu nuklir misalnya, dengan berupaya meyakinkan dunia bahwa energi adalah masalah yang dihadapi negaranya, dan juga negara-negara lain. Kemandirian dalam menghasilkan energi berbasis teknologi tinggi adalah hak kemajuan negara manapun, tanpa harus dicurigai bermuatan niat jahat semisal untuk memproduksi senjata nuklir pemusnah massal, satu argumen agitatif yang dimunculkan AS cs. secara sepihak. Iran pun pandai memanfaatkan media massa untuk melakukan kampanye gagasan-gagasannya, termasuk dengan melakukan dialog ke berbagai negara, mengajak semua pihak untuk saling bertukar informasi dan saling memahami, alih-alih menjadi bulan-bulanan argumen AS cs. Pendekatan AS cs. menurut saya bersifat mengancam (emosional), sedangkan pendekatan Iran bersifat mengajak (rasional). AS melakukan pendekatan oppressive seperti itu, menurut saya, disebabkan faktor lemahnya basis teoritis-logis dari setiap keputusan/kebijakannya. Artinya, jika dipikir secara waras, kita bisa menemukan kelemahan dasar-dasar logika/rasionalitas yang dibangun dalam menghasilkan keputusan/kebijakannya. Namun karena AS cs. menempatkan kepentingan kapital di atas logika, maka kewarasan pasti sering diabaikan.

Iran, selain tahu maksud dan langkah AS cs. seperti itu, disokong oleh keberanian para pemimpinnya, tampil ke depan, memberitahu dunia tentang perlunya sikap kritis dalam menyikapi setiap keputusan/kebijakan AS cs. Dunia yang multipolar, adalah gagasan positif yang digembar-gemborkan Iran bersama negara-negara kritis lainnya.

Alasan kelima yang menjadi faktor daya tarik Iran adalah viskositas spiritualitas pemimpin dan masyarakatnya. Saya menyebutnya spiritualitas, bukan relijiusitas, karena istilah spiritualitas ini lebih menunjukkan pengertian esensi/hakikat agama(esoteris), sedangkan relijiusitas lebih kepada tatacara/syariat agama (eksoteris). Ciri kentalnya nuansa spiritualitas ini dapat dilihat dalam kecintaan dan kesetiaan mereka pada para pemimpin, penghormatan mereka pada simbol-simbol orang suci, dan nampak juga dalam karakter spiritualitas para pemimpinnya. Ciri ketiga ini bisa dilihat dari karya-karya tulis bertema spiritualitas dari para pemimpin tersebut, serta dari sikap dan tindakan yang lahir dari penghayatan yang mendalam terhadap kehidupan spiritual. Kesederhanaan dalam hidup menegaskan prioritas sikap memenuhi diri dengan kekayaan batin (seperti pengetahuan, kebijaksanaan dan makrifat – transformasi jiwa sehingga bersifat ilahiah) daripada dengan kekayaan materi dunia.



   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments