Entry: Refleksi tentang Gerhana Thursday, August 30, 2007



FENOMENA GERHANA DAN SIKAP KEBERAGAMAAN


Tulisan ini berawal dari kejadian gerhana bulan petang hari ini, Selasa 28 Agustus 2007. Sebenarnya kejadian ini berulang kali saya amati, namun baru kali ini menarik perhatian saya. Sebabnya adalah adanya segelintir masyarakat yang memperhatikan fenomena tersebut secara langsung, begitu mendengar pemberitahuan dari Masjid Pusdai Jabar, persis depan tempat tinggal saya. Jadi, mungkin masyarakat – sebelum pemberitahuan – merasa heran dengan adanya suara takbir bersahutan dari Masjid Pusdai Jabar, dan juga masjid-masjid lainnya. Sebab kedua adalah suara takbiran itu sendiri, yang didominasi oleh anak-anak. Dan sebab ketiga adalah tanggapan-tanggapan sebagian mereka dan ceramah-ceramah di masjid-masjid terhadap fenomena alam ini.

Sebab pertama menjadi menarik karena ternyata masyarakat masih cukup terpengaruh oleh fenomena ini, ditambah dengan sokongan kalangan agamawan (terlihat dari informasi pihak pengurus masjid dan suara takbir yang mengundang rasa penasaran). Artinya masyarakat masih memperhatikan fenomena alam sekaligus imbauan dari kalangan agamawan.

Sebab kedua menjadi menarik karena – sebagaimana juga terjadi dalam kegiatan takbiran Lebaran Puasa dan Lebaran Haji (Kurban) – suara takbiran dari masjid-masjid itu didominasi anak-anak, yang notabene belum mengerti tentang fenomena itu, apalagi bila dikaitkan dengan bentuk maknanya yang dikehendaki agama (baca: kalangan agamawan).

Sebab ketiga menjadi menarik karena muncul tanggapan dari masyarakat dan juga kalangan agamawan yang saya anggap biasa-biasa saja. Tanggapan dari kalangan masyarakat yang biasa-biasa saja – apalagi jika mereka berasal dari kalangan awam/tidak terpelajar/tidak sadar informasi – adalah wajar, namun bila tanggapan biasa-biasa saja itu muncul dari kalangan agamawan menjadi tidak wajar. Contoh tanggapan-tanggapan tersebut adalah bahwa fenomena gerhana ini adalah bentuk kekuasaan Allah yang selayaknya ditafakuri, bahwa fenomena tersebut harus disikapi secara keagamaan, tidak hanya secara ilmiah saja sebagaimana yang dilakukan oleh kalangan sekuler. Saya sendiri sepakat dengan tanggapan ini, namun tanggapan seperti ini belumlah mengena ke esensi dari fenomena gerhana itu sendiri. Menurut pendapat saya, masyarakat perlu diajak untuk merenungkan makna-makna yang lebih dalam dari berbagai fenomena alam – termasuk fenomena gerhana – yang bermanfaat secara langsung bagi kehidupannya, terutama bagi peningkatan kualitas sikap keberagamaannya.

Sebagai contoh, secara alamiah dan ilmiah, fenomena gerhana bulan sudah bisa dijelaskan secara memadai, yaitu peristiwa terhalangnya sinar matahari ke bulan oleh bumi. Jadi posisi matahari, bumi dan bulan adalah segaris. Penjelasan ilmiah yang lebih rumit pun sudah tersedia. Namun sejauh yang saya ketahui, temuan ilmiah dan alamiah ini belum memperkaya temuan kalangan agamawan, untuk meningkatkan kualitas maknanya secara keagamaan. Sebagai contoh pemaknaan dari saya tentang fenomena ini adalah dengan menggunakan metode analogi. Alasan penggunaan metode analogi ini adalah bahwa alam semesta ini adalah sistem makrokosmos (jagad besar), sedangkan diri manusia adalah sistem mikrokosmos (jagad kecil). Secara analog, diri (jiwa) manusia adalah miniatur alam semesta.

Makna pertama, makna individual/konsep hidayah. Peran matahari sebagai sumber cahaya, bumi sebagai penghalang sinar, dan bulan sebagai penerima (pemantul) cahaya bisa dianalogikan dengan Tuhan dalam diri manusia sebagai matahari (sumber cahaya) jiwa, nafsu sebagai penghalang sinar ke cermin jiwa (tindakan/kepribadian/akhlak), dan kepribadian/tindakan sebagai penerima (pemantul) cahaya jiwa. Dari makna ini, maka manusianya Tuhan akan mengendalikan nafsu agar tidak menghalangi jalannya sinar/cahaya Tuhan kepada tindakan/kepribadian/akhlaknya. Sekali nafsu menghalanginya, maka tindakan/kepribadian/akhlaknya akan diliputi kegelapan (tanpa petunjuk), yang berarti dosa.

Makna kedua, makna sosial/konsep bimbingan. Peran matahari sebagai sumber cahaya, bumi sebagai penghalang sinar, dan bulan sebagai penerima (pemantul) cahaya bisa dianalogikan dengan manusianya Tuhan dalam kehidupan masyarakat, setan (manusianya Iblis) yang menghalangi manusia lain (masyarakat) dari kesempatan akses ke sinar/cahaya manusianya Tuhan, dan manusia lain (masyarakat) sebagai penerima/pemantul cahaya dari manusianya Tuhan. Melalui makna ini bisa diperoleh pengertian, bahwa manusia biasa memiliki ketergantungan kepada cahaya dari manusianya Tuhan agar hidupnya tidak diliputi kegelapan. Akses mereka kepada cahaya dari manusianya Tuhan terhalangi dengan keterlibatan manusianya Iblis (setan) dengan produk mental mereka (gagasan, pemahaman, konsep hidup, dsb.) ataupun produk fisik mereka seperti simbol-simbol peradaban material. Berdasarkan pengertian ini, sesungguhnya kedudukan manusia biasa ini (yang memiliki ketergantungan cahaya) sangatlah rentan perubahan, nasibnya ditentukan oleh pihak mana (manusianya Tuhan atau manusianya Iblis) yang paling besar kualitas daya pengaruhnya. Secara praktis, seorang manusia biasa akan menjadi baik jika lingkungannya baik, teman-temannya baik, tetangganya baik, bosnya baik, dsb. Sekali keadaan semua unsur itu bergeser ke arah sebaliknya, maka keadaan manusia biasa itu akan melakukan hal yang sama. Berdasarkan pengertian ini, maka posisi yang paling aman bagi siapapun adalah posisi manusianya Tuhan. Manusia jenis ini memiliki kemandirian dalam menghasilkan cahaya, lebih jauh mereka pun mampu mendistribusikan cahayanya kepada lingkungannya (melakukan bimbingan).

Cara pemaknaan seperti ini bisa diberlakukan juga kepada gerhana matahari, karena pada kedua kasus gerhana (baik gerhana matahari ataupun bulan), sebenarnya peran bumi dan bulan sejajar, yaitu jika tidak sebagai penerima/pemantul cahaya, maka berperan sebagai penghalang sinar. Tidak seperti matahari, keduanya – bumi dan bulan – bukanlah sumber cahaya.


Catatan: Pendapat saya ini bisa saja keliru, silakan dikoreksi. Dan Tuhanlah yang Maha Mengetahui dan selalu benar.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments